Prancis `Terpanggang` Gelombang Panas, Kamar Mayat Dipenuhi Jenazah
Ilustrasi Jenazah (sumutpos.co)
law-justice.co - Kamar mayat di Paris kewalahan menampung jenazah-jenazah yang tewas imbas gelombang panas `memanggang` Prancis selama sepekan terakhir.
Direktur layanan pemakaman Family Obseques, Fabien Hugues, mengonfirmasi situasi tersebut. Dia mengatakan ruang penyimpanan jenazah di rumah duka penuh karena lonjakan kematian dalam satu atau dua hari.
"Rumah duka kewalahan, dan kami tak bisa menemukan tempat untuk jenazah. Situasinya sangat sulit," kata Hugues kepada BFMTV.
Hugues mengatakan untuk menentukan tempat, dia terpaksa mencari di Eure-et-Loir atau Normandia.
"Bahkan untuk kremotarium, waktu tunggu kremasi sudah diperpanjang dari tanggal 16 Juli menjadi tanggal 17 Juli," jelasnya.
Pengurus rumah duka lain Zouhaeir Hertelli juga mengalami situasi serupa. Dia nyaris setiap detik menerima panggilan telepon dari pihak yang menanyakan kesediaan ruang penyimpanan jenazah.
Hertelli harus berulang kali menjawab "tidak" ke setiap telepon yang masuk.
"Kami menghadapi situasi yang benar-benar mengerikan. Saya menerima ratusan panggilan telepon," kata dia, dikutip France24.
Dia lalu berujar, "Kami sedang menghadapi lonjakan kematian yang sangat besar karena gelombang panas dan kapasitas kami benar-benar penuh."
Hertelli dan pihak lain di industri pemakaman mengatakan kamar mayat di Paris dengan cepat kehabisan ruang penyimpanan.
Menyimpan jenazah di lokasi yang sangat jauh
Pemerintah Kota Paris menyatakan telah memasang dua unit penyimpanan sementara, masing-masing dengan 20 tempat. Mereka juga melaporkan rumah sakit kota menyediakan 50 tempat tambahan lain.
Namun demikian, para pengurus pemakaman yang diajak bicara mengaku harus menyimpan jenazah di lokasi yang sangat jauh dari Paris termasuk Chartes, berjarak 80 km dari ibu kota.
Untuk membuka lebih banyak ruang, Hertelli mengatakan untuk sementara memasang kontainer berpendingin di luar kamar jenazah, yang terletak di sebelah bandara Orly Paris, tetapi masih menunggu lampu hijau.
"Kami tidak punya solusi untuk menawarkan, karena rumah duka sudah penuh," jelasnya.
"Jadi kami sangat terpengaruh, kami berempati kepada mereka, tetapi tidak ada yang bisa kami tawarkan. Kami benar-benar menghadapi masalah, masalah besar," imbuh Hertelli.
Sejumlah negara di Eropa termasuk Prancis, Jerman, dan Polandia tengah menghadapi cuaca panas ekstrem.
Di Prancis, sejumlah wilayah mencatat suhu 36 hingga 40 derajat Celsius.
Badan Kesehatan Masyarakat Prancis (Public Health France) bahkan melaporkan gelombang panas memicu sekitar 1.000 kematian pada pekan ini.



Komentar