Memanas! Kapal Perang Rusia–AS Berkeliaran, Laut Indonesia Terancam
Memanas! Kapal Perang Rusia–AS Berkeliaran, Laut Indonesia Terancam , Foto: AFP/ADALBERTO ROQUE
Perjanjian yang mulai berlaku awal tahun ini memungkinkan kedua negara menggunakan pangkalan militer, pelabuhan angkatan laut, serta wilayah udara masing-masing, baik dalam kondisi damai maupun situasi krisis. Dalam praktiknya, Rusia dan India kini dapat menempatkan pasukan, kapal perang, dan pesawat militer secara terbatas di wilayah mitra.
Secara teknis, RELOS memungkinkan pengerahan hingga 3.000 personel militer, lima kapal perang, dan 10 pesawat di wilayah masing-masing negara. Selain itu, perjanjian ini mencakup dukungan logistik menyeluruh, mulai dari pengisian bahan bakar, perawatan, hingga akses terhadap fasilitas pelabuhan dan lapangan terbang.
Namun makna RELOS jauh melampaui aspek teknis. Bagi Rusia, kesepakatan ini membuka akses strategis ke Samudra Hindia, wilayah yang selama ini berada di luar jangkauan langsung Moskow. Dengan akses tersebut, Rusia dapat memperluas proyeksi kekuatan lautnya di jalur perdagangan global yang krusial.
Sebaliknya, India memperoleh keuntungan geopolitik yang tidak kalah besar. New Delhi kini memiliki akses ke jalur laut utara Rusia, termasuk wilayah Arktik dan Timur Jauh, yang semakin penting dalam konteks perubahan rute perdagangan global dan kompetisi energi.
Kesepakatan ini juga datang di tengah tekanan Barat terhadap Rusia akibat perang di Ukraina, serta upaya Amerika Serikat dan sekutunya membatasi ruang gerak Moskow melalui sanksi ekonomi. Dalam konteks ini, RELOS memberi Rusia alternatif jalur logistik dan memperkuat posisinya di Asia.
Di sisi India, langkah ini mencerminkan strategi “multi-alignment” yang semakin tegas. Di satu sisi, India tetap menjalin kerja sama erat dengan Amerika Serikat, termasuk melalui perjanjian logistik seperti LEMOA. Namun di sisi lain, New Delhi juga mempertahankan kedekatan strategis dengan Rusia.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa India tidak ingin terjebak dalam blok geopolitik mana pun. Sebaliknya, negara tersebut berupaya menjaga otonomi strategis di tengah meningkatnya rivalitas global antara Barat dan kekuatan non-Barat.
Menariknya, RELOS juga menempatkan Rusia pada posisi yang relatif setara dengan Amerika Serikat dalam hal akses logistik militer di India, sesuatu yang sebelumnya tidak terjadi. Hal ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pengaruh Washington di kawasan tidak lagi dominan secara eksklusif, sebagaimana diberitakan Aljazeera.
Dampak RELOS bagi Indonesia: Antara Peluang dan Tekanan Geopolitik
Di tengah menguatnya kerja sama militer Rusia dan India melalui perjanjian RELOS, Indonesia berada pada posisi yang tidak terlibat langsung, namun tetap berada dalam lingkar dampak strategisnya. Letak geografis Indonesia yang berada di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik menjadikan setiap perubahan dinamika militer di kawasan sebagai faktor yang tidak bisa diabaikan.
Dengan terbukanya akses Rusia ke Samudra Hindia melalui India, intensitas aktivitas militer dan logistik di jalur laut strategis diperkirakan meningkat. Jalur ini terhubung langsung dengan perairan Indonesia, terutama melalui selat-selat vital seperti Malaka, Sunda, dan Lombok. Dalam konteks ini, Indonesia berpotensi menghadapi peningkatan lalu lintas militer kekuatan besar di sekitar wilayahnya.
Situasi tersebut menuntut kesiapan yang lebih tinggi dalam menjaga kedaulatan maritim. Indonesia tidak hanya berhadapan dengan tantangan keamanan tradisional, tetapi juga risiko meningkatnya gesekan antar kekuatan besar yang beroperasi di kawasan yang sama.




Komentar