Simak Rekomendasi Saham Cuan saat Konflik Timur Tengah-Outlook Fitch
Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta - (ANTARA)
law-justice.co - Pada penutupan perdagangan hari Jumat 6 Maret 2026 lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 124,85 poin atau anjlok 1,62 persen di level 7.585.
Investor melakukan transaksi sebesar Rp17,77 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 34,18 miliar saham.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham melemah empat hari, sementara satu hari sisanya menguat. Tidak heran, performa indeks tercatat melemah 7,89 persen sepanjang pekan kemarin.
Senada, Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad mencatat selama periode tanggal 2 sampai dengan 6 Maret 2026 kemarin perdagangan saham bursa ditutup di zona negatif.
Tercatat, kapitalisasi pasar bursa mengalami penurunan sebesar 7,85 persen dari Rp14,787 triliun menjadi Rp13,627 triliun pada pekan lalu. Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian mengalami peningkatan yakni sebesar 8,55 persen dari 47 miliar menjadi 51,02 miliar lembar saham.
Kemudian, rata-rata nilai transaksi harian pun turut menurun sebesar 16,64 persen dari Rp29,95 triliun menjadi Rp24,97 triliun.
Senada, rata-rata frekuensi transaksi harian turut mengalami penurunan yakni sebesar 7,33 persen dari 2,95 juta kali transaksi menjadi 2,73 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.
"Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai jual bersih Rp263 miliar dan sepanjang tahun 2026 ini, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp7,29 triliun," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (6/3).
Lantas seperti apa proyeksi pergerakan IHSG untuk sepekan ke depan?
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan IHSG pada awal pekan depan masih akan didominasi tekanan dengan pergerakan di kisaran level support 7.450 dan resistance 7.740.
Meski demikian, pasar perlu mewaspadai potensi pelemahan lanjutan apabila IHSG menembus level 7.400 pada pekan ini, karena kondisi tersebut berpotensi membuka ruang koreksi hingga ke level 7.200.
Oktavianus menjelaskan pergerakan pasar saat ini dipengaruhi sejumlah sentimen, mulai dari memanasnya tensi geopolitik yang dinilai telah berkembang menjadi semacam energy warfare.
Hal ini tercermin dari serangan ke Haifa refinery, tanker di Selat Hormuz, hingga infrastruktur LNG South Pars yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah serta meningkatkan kembali kekhawatiran inflasi global.
Dari dalam negeri, ia mengatakan investor global tengah melakukan penyesuaian free float pasca keterbukaan pemegang saham di atas 1 persen. Selain itu, pasar juga menantikan rilis kinerja FY25 yang diperkirakan akan mendorong penyesuaian alokasi investasi.
Investor juga menunggu rilis indeks keyakinan konsumen Februari 2026 yang diperkirakan masih berada di level optimistis di kisaran 128.
Menurut Audi, kenaikan harga energi juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Harga minyak Brent tercatat naik sekitar 10 persen ke level US$94 per barel atau tertinggi sejak November 2022, sementara harga batu bara menguat hingga US$138 per ton atau level tertinggi dalam 15 bulan terakhir.
Kondisi tersebut berpotensi menambah beban APBN serta memicu kekhawatiran kenaikan harga di dalam negeri.
Selain itu, pasar juga mencermati pemangkasan outlook Indonesia menjadi negatif oleh Moody`s dan Fitch meski masih berada pada kategori investment grade.
Hal ini terjadi di tengah tekanan fiskal setelah defisit APBN dua bulan pertama 2026 mencapai Rp135,7 triliun atau setara 0,53 persen terhadap PDB akibat kenaikan belanja pemerintah sekitar 26 persen.
"Meski demikian, sejak awal Maret asing terus melakukan akumulasi beli sebesar Rp2,23 triliun di seluruh perdagangan," ujar Oktavianus kepada CNNIndonesia.com, Minggu (8/3).
Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus pun merekomendasikan beberapa saham yang bisa dikoleksi. Pertama, saham Barito Renewables Energy atau BREN yang ditutup menguat 5,82 persen ke posisi 7.725 pada pekan lalu. Oktavianus memproyeksi BREN dapat menyentuh level 8.725 pada pekan ini.
Kedua, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk atau AADI yang ditutup di posisi 10.300 pekan lalu. Oktavianus memproyeksi AADI dapat menyentuh level 12 ribu pada pekan ini.
Ketiga, saham Medco Energi Internasional atau MEDC yang ditutup ke posisi 1.765 pekan lalu. Oktavianus memproyeksikan MEDC dapat menyentuh level 1.980 pada pekan ini.



Komentar