Ribuan Warga Ende NTT Tolak Geothermal :Flores Bukan Pulau Geothermal!

Jum'at, 06/06/2025 22:43 WIB
Ilustrasi geothermal. Foto: geothermalindonesiadotcom

Ilustrasi geothermal. Foto: geothermalindonesiadotcom

law-justice.co - Ribuan warga di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan aksi demonstrasi menolak pembangunan geothermal pada Kamis (5/6/2025). 

Di Kabupaten Ende, sekitar dua ribuan warga turun ke jalan di kota Ende menentang pembangunan geothermal di Flores. Aksi ini bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Ribuan warga mulai melakukan parade di Jalan Eltari menuju Gedung DPRD dan Bupati Ende. Didampingi para rohaniwan Katolik, warga membentangkan spanduk sambil berorasi dan berteriak menolak geothermal.

 Mereka kemudian masuk memenuhi halaman kantor bupati dan DPRD Ende untuk menyampaikan aspirasinya. Warga kesal karena pengeboran geothermal yang sudah berjalan sejak tahun 2000-an telah mencemari lingkungan, seperti air dan udara. 

Selain itu, akibat pengeboran geothermal, produktivitas pertanian seperti kopi, cengkih, sayur-sayuran, serta komoditas lainnya yang menjadi penopang ekonomi keluarga kerap menurun setiap tahunnya. 

Vikep Ende, Romo Frederikus Wea Dopo, mengatakan masyarakat Flores, khususnya Ende yang 78 persen adalah petani, sangat bergantung pada hutan, tanah, dan air. 

Oleh karena itu, sangat mengganggu kestabilan masyarakat bila tanah di Ende atau Flores dijadikan lokasi pengeboran geothermal. Apalagi banyak lahan yang dikorbankan hanya untuk geothermal. 

 Tidak hanya itu, akibat aktivitas pengeboran telah terjadi konflik horizontal dan kerusakan budaya di Flores. 

Sebab, kata dia, segala aspek budaya bergantung pada tanah dan hasil bumi di Flores.

 “Kita menuntut lewat DPRD dan pemerintah segera mencabut Flores sebagai pulau geothermal,” ujarnya. Frederikus mencontohkan keberadaan geothermal di Sukoria, Kabupaten Ende, di mana sekitar 90 persen warga sangat terganggu. 

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar