Mau Sumbangkan 99% Harta, Bill Gates Tak Mau Wafat dalam Keadaan Kaya
Temui Prabowo, Bill Gates Beri Dana Hibah USD 159 Juta ke Indonesia. (APF/Bay Ismoyo).
law-justice.co - Belum lama ini, Bill Gates mengumumkan rencana ambisius: menyumbangkan hampir seluruh kekayaannya dan menutup Gates Foundation dalam waktu 20 tahun.
Pendiri Microsoft itu menyampaikan rencana tersebut lewat blog pribadinya, Kamis (8/5/2025).
"Orang-orang akan mengatakan banyak hal tentang saya ketika saya meninggal, tetapi saya bertekad bahwa `dia meninggal dalam keadaan kaya` tidak akan menjadi salah satu dari mereka," tulis Gates.
"Ada terlalu banyak masalah mendesak yang harus dipecahkan bagi saya untuk mempertahankan sumber daya yang dapat digunakan untuk membantu orang," tulisnya juga.
Dilaporkan dari CNBC, saat ini, kekayaan bersih Gates diperkirakan mencapai 168 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.771 triliun).
Dia telah lama berkomitmen menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk kegiatan filantropi.
Bahkan, dia pernah menulis di media sosial pada Juli 2022 bahwa tujuannya adalah keluar dari daftar orang terkaya dunia.
Kini, Gates menetapkan target jelas. Yayasan Bill & Melinda Gates Foundation akan berhenti beroperasi pada 31 Desember 2045.
Sejak didirikan tahun 2000, yayasan tersebut telah menyalurkan lebih dari 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.650 triliun) untuk program global, termasuk pemberantasan penyakit, penanggulangan kemiskinan, perubahan iklim, hingga peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan.
Gates memperkirakan yayasan itu masih bisa menyalurkan hingga 200 miliar dollar AS (sekitar Rp 3.300 triliun) sampai 2045, tergantung inflasi dan kondisi pasar.
Anggaran tahunan yayasan itu juga direncanakan naik dari 6 miliar dollar AS (sekitar Rp 99 triliun) menjadi 9 miliar dollar AS (sekitar Rp 148,5 triliun).
Dalam dua dekade ke depan, Gates menargetkan pengurangan kematian ibu dan anak akibat penyakit yang dapat dicegah, membantu memberantas penyakit seperti polio, malaria, campak, dan cacing Guinea, dan mendanai pendidikan dan pertanian di negara-negara Afrika agar ratusan juta orang bisa keluar dari kemiskinan.
Namun, Gates juga menyadari bahwa yayasannya tidak bisa bekerja sendiri.
"Semua kemajuan ini tidak mungkin terjadi tanpa kemitraan dari pemerintah," tulisnya.
Dia menyoroti pemangkasan besar anggaran bantuan global oleh sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.
Menurut Gates, hal ini menciptakan kekosongan yang tidak mungkin ditutup oleh lembaga filantropi mana pun.
"Tidak ada organisasi filantropi — bahkan yang sebesar Yayasan Gates — yang dapat menutupi kesenjangan dalam pendanaan yang muncul saat ini," tulisnya.
“Tidak jelas apakah negara-negara terkaya di dunia akan terus membela rakyatnya yang termiskin.”
Dipengaruhi Orangtua dan Warren Buffett
Gates menceritakan nilai-nilai tersebut sudah ditanamkan sejak kecil. Ibunya, Mary Gates, yang wafat tahun 1994, percaya bahwa siapa yang diberi banyak juga harus memberi banyak.
Dia selalu mengingatkan Gates bahwa kekayaan adalah titipan yang harus dikembalikan kepada masyarakat.
Ayahnya, yang juga ikut membentuk dan memimpin yayasan sebelum wafat tahun 2020, mempunyai pandangan serupa.
Sahabatnya, miliarder Warren Buffett, juga jadi inspirasi besar. Buffett sudah menyumbangkan puluhan miliar dollar AS untuk kegiatan sosial dan meminta anak-anaknya menyumbangkan 99 persen sisa kekayaannya setelah dia wafat.
Buffett pula yang mendorong Gates menyumbangkan seluruh hartanya. "Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan saya pada gagasan untuk menyumbangkan segalanya," tulis Gates.
Tahun 2010, Gates bersama Buffett dan mantan istrinya, Melinda French Gates, mendirikan inisiatif Giving Pledge, yang mengajak miliarder dunia berkomitmen menyumbangkan sebagian besar kekayaan mereka semasa hidup. Kini, lebih dari 240 miliarder telah bergabung.
Gates juga menyebut nama Andrew Carnegie, taipan industri baja asal Amerika Serikat yang menulis esai "The Gospel of Wealth" tahun 1889.
Esai itu menyatakan, "Orang yang meninggal dalam keadaan kaya akan meninggal dalam keadaan malu." Kalimat itu melekat kuat dalam pikiran Gates. Dia mengaku kalimat itu mendorongnya mempercepat ritme donasi.
"Saya berharap orang kaya lainnya mempertimbangkan seberapa besar mereka dapat mempercepat kemajuan bagi orang-orang termiskin di dunia jika mereka meningkatkan kecepatan dan skala pemberian mereka," tulis Gates.
"Karena itu adalah cara yang sangat berdampak untuk memberi kembali kepada masyarakat."
Optimistis pada 20 Tahun Mendatang
Meski tantangan global besar, Gates tetap optimistis. Ia percaya banyak hal akan membaik dalam dua dekade mendatang berkat kemajuan teknologi dan layanan kesehatan. Salah satu pendorongnya adalah kecerdasan buatan (AI).
"Saya pikir objektif untuk mengatakan kepada Anda bahwa segala sesuatunya akan lebih baik dalam 20 tahun ke depan," kata Gates kepada The New York Times, Kamis (8/5/2025).
Namun, meski tanpa optimisme itu, Gates mengaku tetap akan memilih jalan filantropi.
"Katakanlah seseorang meyakinkan saya sebaliknya," kata Gates. "Apa yang akan saya lakukan? Pergi saja membeli banyak f perahu atau apa? Pergi berjudi? Uang ini harus dikembalikan ke masyarakat dengan cara yang paling memungkinkan untuk menyebabkan sesuatu yang positif terjadi.”




Komentar