Konflik Iran-Israel Dapat Buat Inflasi Indonesia Naik Tajam, Waspada!

Senin, 15/04/2024 22:03 WIB
Ilustrasi Kenaikan Inflasi Indonesia (Ist)

Ilustrasi Kenaikan Inflasi Indonesia (Ist)

[INTRO]

Pakar ekonomi yang juga mantan Menteri Riset dan Teknologi RI periode 2019 -2021, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan perang Iran-Israel bisa berdampak pada tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Adanya eskalasi konflik kedua negara tersebut dapat berimbas pada perubahan target pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 5,2 persen menjadi 4,6 hingga 4,8 persen.

"Dampak pertumbuhan ekonomi bisa agak terdorong ke bawah, ke 4,6-4,8 persen karena keseimbangan eksternal yang terganggu, ditambah dengan potensi inflasi," kata Bambang dalam webinar Ngobrol Seru Dampak Konflik Iran-Israel ke Ekonomi RI, oleh Eisenhower Fellowships Indonesia Alumni Chapter, Senin (15/4/2024)

Satu-satunya harapan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yakni melalui konsumsi domestik saat penyelenggaraan pemilihan daerah (Pilkada) 27 November 2024 nanti.

"Tapi kalau melihat dampak dari pemilu kemarin, pemilu sekarang agak beda daripada pemilu sebelumnya, karena pemilu sekarang orang mainnya di medsos (media sosial), jadi tidak banyak dampak konsumsi yang di luar konsumsi data atau internet," tuturnya.

Bambang menambahkan tingkat inflasi di Indonesia masih perlu diwaspadai karena masih sedikit di atas target. Hal ini ditambah harga pangan yang masih cukup tinggi.

Adanya konflik Iran dan Israel ini akan tergantung seberapa jauh harga minyak melonjak. Pada 2022 inflasi di Indonesia pernah menyentuh di atas 5 persen akibat perang Rusia dan Ukraina..

“Karena waktu itu perang Rusia Ukraina membuat harga minyak di atas USD 100 terpaksa pemerintah harus menaikan harga BBM karena subsidi terlalu banyak yang mencapai Rp 500 triliun sendiri, saat itu juga inflasi akan berpengaruh,” jelas Bambang.

Bambang memprediksi akan ada tekanan terhadap inflasi Indonesia yang sedikit lebih tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh tiga faktor utama baik dari internal maupun eksternal.

Pertama, tingginya inflasi harga pangan bergejolak (volatile food) yang masih menjadi faktor utama terhadap inflasi Indonesia. Kedua, inflasi pada harga barang yang diatur pemerintah seperti bahan bakar minyak (BBM) serta liquefied petroleum gas (LPG).

Ketiga, inflasi yang berasal dari luar negeri atau imported inflation yang disebabkan kenaikan harga-harga di luar negeri, pelemahan rupiah serta gangguan distribusi global.

 
 

(Warta Wartawati\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar