Suku Bunga Kredit RI Tertinggi di Asia, Menkeu Suruh Rakyat Utang?

Sabtu, 27/03/2021 18:20 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

law-justice.co - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso kembali mendorong perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. Tujuannya adalah mendorong pemulihan ekonomi nasional dari hantaman pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

"Bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) sudah mulai, saya berterima kasih. Bank-bank lain, ayo turunkan suku bunga kredit," tegas Perry dalam acara Temu Stakeholder untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional di Semarang.

"Mengenai suku bunga, kami imbau agar sudah mulai karena ruangnya sudah mulai ada. Kalau kreditnya nambah, revenue-nya juga nambah," kata Wimboh di acara yang sama.

Dilansir dari Riset CNBC, Untuk merangsang bank menurunkan suku bunga kredit, BI telah memangkas suku bunga acuan hingga 150 basis poin (bps) sejak awal tahun lalu. BI 7 Day Reverse Repo Rate kini berada di 3,5%, terendah sepanjang sejarah.

Transmisi suku bunga kebijakan ke suku bunga simpanan sudah terjadi. Suku bunga deposito tenor satu bulan (yang menjadi acuan) turun dari 4,07% pada Januari 2021 menjadi 3,88%. Terjadi koreksi 1,9 bps. Dibandingkan dengan Februari 2020, suku bunga deposito satu bulan sudah turun 181 bps.

Suku bunga kredit juga turun. Pada Februari 2021, rerata suku bunga kredit ada di 9,65%, turun 3 bps dibandingkan bulan sebelumnya.

Namun laju penurunan suku bunga kredit masih lambat. Misalnya untuk KMK, rata-rata suku bunga pada Januari 2021 adalah 9,21%, hanya turun 87 bps dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Penurunan suku bunga kebijakan BI telah direspons perbankan dengan penurunan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) yang masih terbatas dan penurunan suku bunga deposito satu bulan yang lebih agresif sehingga terjadi pelebaran spread. Pada Januari 2020 sampai Januari 2021, suku bunga acuan turun sebesar 150 bps, sementara SBDK hanya turun sebesar 78 bps. Hal itu menyebabkan spread SBDK terhadap suku bunga acuan melebar dari 5,82% pada Januari 2020 menjadi 6,28% pada Januari 2021. Di sisi lain, suku bunga deposito satu bulan turun sebesar 189 bps, sehingga spread antara SBDK dan suku bunga deposito satu bulan mengalami kenaikan dari 4,86% menjadi 5,97%," sebut keterangan tertulis BI.


Perbankan adalah `nadi` perekonomian nasional. Pembiayaan perbankan melalui kredit adalah `darah` yang membuat ekonomi tetap hidup dan bergerak.
Jadi saat penyaluran kredit lesu, maka otomatis ekonomi pun kurang darah. Lemah,letih, lunglai. Mungkin kelesuan kredit perbankan ini yang membuat Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, memperkirakan ekonomi Indonesia masih mengalami kontraksi pada kuartal I-2021.

"Untuk kuartal I-2021, kami di Kementerian Keuangan memperkirakan dalam kisaran -1% yang terdalam hingga -0,1%. Kita berharap di zona netral, mendekati -0,1%," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita edisi Maret 2021, Selasa (23/3/2021).

Untuk memacu pertumbuhan kredit, perbankan didesak untuk segera menurunkan suku bunga. Harus diakui, suku bunga kredit di Indonesia masih tinggi dibandingkan sejumlah negara lain.

Di level Asia, membandingkan dengan Singapura, Malaysia, atau bahkan Thailand rasanya kurang adil. Sepertinya komparasi dengan Filipina lebih pas karena negara yang dipimpin Presiden Rodrigo Duterte ini adalah negara kepulauan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita di kisaran US$ 3.000, mirip dengan Indonesia.

Data SBDK atau Prime Lending Rate yang dirilis bank sentral Filipina (BSP) adalah pada Desember 2019. Saat itu rata-rata SBDK adalah 6,54%, lumayan jauh di bawah Indonesia.

Dibandingkan India, suku bunga kredit di Indonesia juga lebih tinggi. Rata-rata SBDK di lima bank terbesar India pada Februari 2021 adalah 8,05%.

Jadi memang sudah saatnya suku bunga kredit perbankan di Indonesia turun lebih agresif lagi. Ketika suku bunga kredit rendah, maka dunia usaha dan rumah tangga akan terpancing untuk melakukan ekspansi. Investasi dan konsumsi tumbuh, PDB pun terangkat.

 

 

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar