Covid-19 Menggila, Harga Minyak Langsung Terjun Drastis

Rabu, 30/09/2020 21:47 WIB
Ilustrasi minyak dunia (foto: Reuters)

Ilustrasi minyak dunia (foto: Reuters)

Jakarta, law-justice.co - Akibat pandemi Covid-19, harga minyak kembali turun secara berturut-turut. Peningkatan kasus-kasus baru Covid-19 tersebut menimbulkan kekhawatiran akan adanya pembatasan lebih lanjut pada aktivitas ekonomi global yang pada akhirnya dapat mengurangi permintaan bahan bakar.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun 57 sen atau 1,4% menjadi US$ 40,46 per barel pada pukul 10:05 GMT. Harga West Texas Intermediate turun 14 sen atau 0,4% menjadi US$ 39,15.

Sementara harga kontrak Brent November yang berakhir hari ini turun sekitar 0,5% menjadi US$ 41,36.

Harga patokan turun lebih dari 3% pada Selasa karena kasus kematian global akibat Covid-19 melampaui 1 juta. Namun, hasil jajak pendapat bulanan atas harga minyak oleh Reuters menunjukkan harga akan sedikit naik tahun ini.

"Meningkatnya jumlah kasus Covid-19 terus meningkatkan alarm permintaan energi," kata Avtar Sandu, manajer komoditas senior di Phillip Futures, dilansir dari CNBCIndonesia.com, Rabu (30/9/2020).

Di sisi lain, langkah Libya yang kembali melakukan ekspor minyak juga diyakini telah menekan harga.

"Kekhawatiran tentang permintaan yang stagnan dan kembalinya ekspor Libya terus menekan harga minyak," kata Norbert Rucker dari Julius Baer.

Sementara itu, menurut ING Economics, jatuhnya harga juga disebabkan oleh permintaan yang rendah.

"Sementara permintaan adalah masalah bagi pasar, sisi penawaran dari persamaan tersebut juga tidak membantu." katanya dalam sebuah catatan.

Ladang minyak Sarir Libya, yang memproduksi lebih dari 300.000 barel per hari (bph) tahun lalu, memulai kembali produksinya setelah terhenti selama delapan bulan.

Meski demikian, para trader minyak terkemuka pada Selasa menyatakan keyakinan bahwa Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tidak akan tinggal diam membiarkan harga terus jatuh.

Mereka mengatakan OPEC tidak mungkin meningkatkan produksi minyak seperti yang direncanakan dari Januari tahun depan, demi bisa mengatasi masalah penurunan permintaan.

 

(Hendrik S\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar