Dolar Bakal Tembus 20.000 & Ekonomi Kacau, Jokowi Harus Mundur

Rabu, 29/07/2020 15:16 WIB
Pengamat Politik yang juga Direktur Garpu Muslim Arbi (kabartoday)

Pengamat Politik yang juga Direktur Garpu Muslim Arbi (kabartoday)

Jakarta, law-justice.co - Nilai tukar rupiah diprediksi akan merosot tajam bahkan hingga ke Rp 20.000 per dolar AS. Salah satu alasannya disebabkan karena terlalu dekatnya hubungan Indonesia dengan China, sehingga Amerika Serikat dan sekutunya mempersulit ruang gerak Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Pengamat Politik Muslim Arbi, Rabu (29/7/2020).

"AS dan sekutunya makin mempersulit ruang gerak ekonomi Indonesia yang dianggap pro-China itu dan dollar bakal meningkat tembus Rp 20.000/dolar AS sampai rezim ini ambruk di tengah pandemi covid-19," katanya.

Hal lain yang mendukung hancurnya nulai tukar rupaih dan kriris ekonomi yang terjadi adalah karena Jokowi tak memenuhi janji poltiknya.

"Ketidakonsistenan Presiden Jokowi dalam membuktikan janji Politik saat Pilpres 2014 dan 2019, yakni 66 janji politiknya, semakin mempersulit situasi ekonomi nasional. Semakin melemahnya posisi Rupiah terhadap dolar AS," tambahnya.

Muslim mengatakan janji politik Jokowi pada tahun 2014 dan 2019 lalu dan terutama dalam budang ekonomi adalah, jika menjadi Presiden maka Jokowi akan membuat dolar menjadi Rp 10.000 dan Pertumbuhan ekonomi di patok pada 7 %. Namun, kata dia tak terbukti, malah lebih hancur. Nilai tukar dolar pun sudah mencapai Rp 15.000.

"Belum lagi janji lainnya, yakni tidak akan utang dalam menggerakkan roda ekonomi nasional. Sekarang utang luar negeri melebihi batas yang diperbolehkan UU yaitu di bawah 30 . Ternyata sudah di atas 30%, sehingga berpotensi langgar UU dan bisa di impeach (dimakzulkan) seperti yang di lontarkan oleh Pakar hukum Prof Yusril Ihza Mahendara beberapa waktu dulu," katanya.

Menurutnya, dengan kejadian saat ini, maka jalan keluarnya adalah Jokowi harus secepatnya mundur dari presiden. Apalagi kata dia, menteri-menetrinya yang bertugas di sektor perekonomian malah mmebuat ekonomi Indonesia merosot.

"Jika berlama-lama, dan tidak mundur maka kekacauan ekonomi dan kekacauan politik akan semakin besar dan kebangkrutan semakin nyata," katanya.

Menurut Muslim, jika Jokowi segera mundur, maka kekacauan sosial dan politik tak akan terjadi. Apalagi, setelah dia merestuai anaknya Gibran Rakabuming Raka maju pada Pilkada Solo 2020.

"Kalau Jokowi mundur, mungkin chaos sosial bisa diredam dan tak terjadi tragedi huru-hara seperti Mei 1998. Maukah Jokowi mundur setelah terbukti tidak amanah, gagal dan bahkan menabrak etika-moral politik di istana negara dengan umumkan Gibran putra sulungnya jadi calon walikota Solo?," tutupnya.

 

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar