Refly Harun Sebut Jokowi Dibantu Para Menteri yang Nilainya Dibawah 6

Selasa, 30/06/2020 08:02 WIB
Di Gaji dari APBN Tak Boleh Kritik Pemerintah?, Refly Harun: Keliru! (tribun)

Di Gaji dari APBN Tak Boleh Kritik Pemerintah?, Refly Harun: Keliru! (tribun)

Jakarta, law-justice.co - Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun menilai kemarahan Presiden Jokowi pada saat rapat kabinet bukan basa-basi tapi puncak dari kekesalan Presiden atas kinerja para menterinya.

Kata dia, Jokowi kesal karena para pembantunya itu tidak maksimal dalam bekerja. Bahkan menurutnya jika dinilai, kualitas kinerja para menteri Jokowi ini dibawah 6.

"Memang pada periode kedua Presiden Jokowi ini dibantu para menteri yang nilainya kurang dari 6. Pada periode pertama saja saya mengatakan nilainya 6 saja, dan terbukti dalam perjalanan terjadi reshuffle, artinya kan ada masalah," katanya dalam Channel Youtubenya, Selasa, 30 Juni 2020.

Dia mengaku sudah memprediksi ada kemungkinan Presiden Jokowi akan me-reshuffle kabinetnya di tengah jalan sejak awal perumusan kabinet di periode kedua ini.

Pasalnya menurut dia, perumusan kabinet di periode kedua ini, Presiden seolah didikte oleh partai politik pendukung agar membagi-bagi jatah menteri.

Parpol pendukung mengajukan kandidat calon menteri ke Presiden, yang pada akhirnya Presiden tak sanggup menolak karena `balas jasa` politik.

"Saya melihat, wah, tidak sampai setahun akan ada reshuffle. Seolah-olah Presiden tidak melakukan sistem pemerintahan presidensil, dimana Presiden punya determinasi untuk memilih para pembantunya sebagai the dream team," ucapnya.

Dia khawatir jangan-jangan ada menteri dari parpol pendukung yang tidak dikenal Presiden Jokowi, baik kiprahnya maupun pribadinya. Karena menurut Refly, para menteri yang diusulkan parpol terkadang adalah `orang dekat` ketua umum partai.

"Kalau Presiden tidak punya room, tidak punya ruang, untuk memilih orang-orang terbaik dalam rangka mengimplementasikan program pemerintahannya, jangan harap Jokowi akan mewariskan legacy yang baik pada proses ke depan," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo marah besar atas kinerja para pembantunya di kabinet di masa pandemi Covid-19. Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara pada 18 Juni 2020 lalu, Jokowi meminta para menterinya bekerja lebih keras lagi untuk masyarakat.

Dengan suara meninggi, Jokowi menyebut situasi saat sekarang sudah semestinya diatasi dengan langkah-langkah yang luar biasa atau extraordinary. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu sampai mengultimatum akan melakukan reshuffle kabinet bila itu dibutuhkan.

Kemarahan Presiden Jokowi itu direspon banyak pihak, ada yang menganggap wajar Jokowi marah karena kecewa dengan kinerja para menteri yang tidak memiliki sense of crisis yang tinggi. Ada juga yang menilai kemarahan Jokowi justru membongkar aib di pemerintahannya sendiri.

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar