Protes Tito Karnavian,Persekutuan Gereja Papua Kirim Surat Terbuka

Rabu, 25/03/2020 19:44 WIB
Presiden Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua Socratez Sofyan Yoman (majalahwekonews)

Presiden Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua Socratez Sofyan Yoman (majalahwekonews)

Papua, law-justice.co - Presiden Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua mengecam keras pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang tidak ingin penutupan akses ke Papua terkait pencegahan penyebaran virus corona. Oleh karena itu, mereka menulis surat protes terbuka kepada Mendagri Tito.

Berikut adalah isi surat protes terbuka mereka;

Kepada Yang Terhormat,Menteri Dalam Negeri Republik IndonesiaH.Muh. Dr. Tito KarnavianDi Jakarta.

Shalom!
Terimalah salam hangat dan kritik konstruktif dari saya dari Ita Wakhu Purom, Numbay (Jayapura) West Papua.

Yang terkasih, Saudara Dr. Tito Karnavian, saya bangga karena dari jutaan orang Indonesia yang terdidik dan pandai, dari antara mereka, Anda dianugerahkan oleh Tuhan sebagai Menteri Dalam Negeri dengan posisi sentral atau sangat penting sebagai dinamisator, stabilitator dan administrator serta motivator dalam dinamika seluruh pemerintahan di Indonesia. 

Karena itu, sebagai sahabat yang baik, sahabat yang tidak menjilat, saya mau sampaikan kritik membangun kepada Anda. Saya menyadari, bahwa Anda dan saya mempunyai perbedaan ideologi yang tajam dan tidak akan pernah ketemu sampai dunia berakhir karena Anda Melayu dan saya Melanesia.
 
Tetapi, perbedaan itu tidak memisahkan Anda dan saya dalam nilai kemanusiaan dan kesetaraan di hadapan TUHAN. Anda dan saya adalah sama-sama manusia yang diciptakan oleh Allah.

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,..." (Kejadian 1:26).

Dalam ukuran mata Tuhan, Anda dan saya diciptakan oleh TUHAN sebagai gambar dan rupa Allah. Dalam semangat ini, saya datang memberikan saran, masukan, kritik dan perbaikan yang membangun. Seperti Pemazmur raja Daud menasihati Anda dan saya. "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya" (Amsal 27:17).

Dalam posisi sentral sebagai Menteri Dalam Negeri, Anda seharusnya menciptakan harmonisasi antara pusat dengan daerah untuk menjamin keberlangsungan pembangunan dalam iklim yang sejuk, aman dan damai.
 
TETAPI, sayang, Anda sepertinya sudah ciptakan iklim kegaduhan dan keributan khusus terhadap rakyat West Papua dari Sorong-Merauke.
 
Menurut saya, Anda melakukan kesalahan dan kekeliruan yang tidak mencerminkan sebagai seorang menteri yang membangun dan memajukan rakyat Indonesia di Papua dengan nilai kejujuran dan kebenaran dan berdasarkan undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Anda mempunyai prasangka-prasangka buruk sangat kental terhadap kami Orang Asli Papua, ras Melanesia.
 
Yang terhormat Saudara Tito, pada Senin, 23 Maret 2020, saya menulis artikel ini, dan saya membagikan kepada semua orang melalui akun facebook saya. 

"Kalau pejabat tinggi negara yang bertugas di Papua dan Papua Barat tidak setuju dengan lockdown Papua dan Papua Barat, berarti sekarang sudah menjadi jelas di depan umum, bahwa orang itu selama ini bekerja sama dengan Iblis untuk memusnahkan orang asli Papua.

Sekarang dia menggunakan dan bekerjasama dengan virus corona-covid-19 menjadi alasan untuk memusnahkan orang asli yang sudah sedikit ini."

Saudara Tito, di Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (24/3/2020), Anda mengatakan: "Sama sekali tidak menyetujui" penutupan akses atau lockdown wilayah Papua yang dilakukan oleh bapak gubernur Papua sebagai langkah preventif, proteksi dan meminimalisi bahaya virus corona/covid 19 yang benar-benar bahaya mengancam kemanusiaan secara global.

Menurut saya, Rapat Forkompinda di Gedung Negara, Jayapura, Jumat (20/3/2020), bersama-sama Gubernur Papua Lukas Enembe, mereka mengambil keputusan bijaksaba untuk melindungi rakyat Papua dari serangan covid 19 yang penyebaran lebih cepat dan mematikan itu.

Saudara Tito, rakyat Papua, khusus Orang Asli Papua sudah cukup lama menderita atas kekejaman, kekerasan dengan operasi militer yang membantai rakyat kami sampai masih berlangung di Nduga, Intan Jaya dan di gunung emas. Anda jangan membunuh kami dengan cara tidak setuju dengan keputusan gubernur Papua untuk lindungi rakyat Papua untuk 14 hari. 

Yang terhormat pak Tito, penutupan akses ke Papua pulau emas dan pulau yang penuh dengan madu dan susu, HANYA selama 14 hari, tidak 14 minggu, atau 14 bulan. 

Saudara Tito, kami sebagai Orang Asli Papua sangat mengerti dan sudah faham, maksud dan tujuan Anda. Karena kita sudah bersama waktu yang cukup selama 58 tahun sejak 1961-2020.

Jadi, apakah ada ruang sedikit untuk hargai kami Orang Asli Papua? Doa dan harapan saya supaya surat terbuka ini menyentuh hari bapak Tito dan semua orang yang membacanya.
 
Waa....Norewi-Nawuri Kinaonak. Ninogoba Ap Endage Mbogut Ninom.
Ita Wakhu Purom, Rabu, 25 Maret 2020

Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

Presiden
Dr. Socratez S. Yoman, MA

(Nikolaus Tolen\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar