Terbongkar, Tujuan Buzzer di Indonesia untuk Menyesatkan Publik
Pasukan siber atau buzzer (Jakartaberita.com)
law-justice.co - Buzzer (pendengung) atau pasukan siber media sosial dikerahkan untuk kepentingan opini publik dan politik.
Keberadaan mereka sudah menjadi rahasia umum. Nah, belakangan ini isu buzzer menjadi perhatian masyarakat. Musababnya adalah laporan penelitian The Global Disinformation Order, 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation dari Oxford Internet Institute, yang digarap oleh duo ilmuwan Universitas Oxford, Samantha Bradshaw dan Philip N Howard. Melansir dari Viva.co.id, Senin (7/10/2019), dalam laporan tersebut, keduanya mengungkapkan buzzer dimanfaatkan untuk meluaskan propaganda kepentingan kelompok, partai politik sampai kubu yang bekerja untuk pemerintah. Yang memanfaatkan tenaga buzzer itu adalah politikus, sampai partai politik dengan melibatkan swasta.Laporan penelitian Oxford itu juga mengungkapkan, buzzer di Indonesia bekerja mengolah menguras emosi masyarakat dengan propagnda mereka, dan bayaran kisaran dari Rp1 juta sampai Rp50 juta. Untuk strategi menyebarluaskan dan mengamplifikasi propaganda pesanan mereka, buzzer menggunakan berbagai siasat mulai dari ternak akun palsu yang dikelola tenaga manusia sampai menggunakan robot alias bot. Riset ini dilakukan untuk meneliti kerja dan organisasi buzzer di 70 negara di seluruh dunia termasuk Indonesia dan membandingkannya antarnegara. Dari hasil riset tersebut, penelitian itu mengelompokkan mana saja propaganda buzzer yang kuat dan lemah di 70 negara yang diteliti. Platform yang dipakaiRiset mengungkapkan di Indonesia, buzzer bekerja menyebarkan pesanan mereka melalui berbagai platform media sosial. Buzzer di Indonesia menggunakan Twitter, Facebook, Instagram sampai WhatsApp. Untuk di Indonesia, kelompok buzzer belum menggunakan YouTube sebagai media penyebaran propaganda dan manipulasi informasi. Buzzer yang sudah memanfaatkan YouTube untuk propaganda menurut riset ini adalah Azerbaijan, Brasil, Kolumbia, Ekuador, Malaysia, Rusia, Korea Selatan, Sri Lanka, Suriah, Uni Emirat Arab, Venezuela dan Vietnam. Buzzer dipakai partai politikDalam riset tersebut, untuk di Indonesia pengorganisasian buzzer atau pasukan siber jelas terlihat dilakukan oleh politikus, partai politik sampai kontraktor swasta. Untuk kolom badan pemerintahakan, riset ini tidak menemukan bukti adanya pengorganisasian buzzer langsung dari pemerintah. Sementara di negara lain, ada beberapa pengorganisasian buzzer untuk propaganda melibatkan juga organisasi masyarakat sipil dan warganet dan influencer. Riset ini menemukan pada 25 dari 70 negara yang diteliti dalam riset, aktor negara atau pemerintahan bekerja sama dengan sektor swasta atau perusahaan strategi komunikasi. Riset menemukan pada 30 dari 70 negara yang diteliti, ada bukti koordinasi formal antara pemerintahan dan warganet serta organisasi masyarakat sipil untuk penyebaran propaganda dan manipulasi informasi. Praktik koordinasi kerja buzzer yang melibatkan kolaborasi pemerintahan, warganet dan organisasi masyarakat sipil terjadi di Azerbaijan, Israel, Rusia, Tajikistan, Uzbekistan. Indonesia tak termasuk di dalamnya, sebab buzzer di Tanah Air, menurut riset ini, cuma bisa terlacak pada partai politik dan sektor swasta."Mahasiswa atau kelompok muda pada negara ini direkrut badan pemerintah untuk menggunakan propaganda komputasi," demikian tertulis di laporan halaman 9.![]()
![]()
Pesan yang disampaikan
![]()
![]()
Share:
Tags:




Komentar