Suka Duka Pasukan Oranye
Menghabiskan Malam Takbiran dengan Menyapu Jalanan
Dua anggota pasukan oranye, Udan Jaya dan Kasturi sedang membersihkan sisa sampah di trotoar dekat Bundaran HI (law-justice/Teguh Vicky Andrew)
law-justice.co - Tiap tahun, sampah memang tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan warga Jakarta yang menghabiskan waktu di jalanan untuk meramaikan malam takbiran. Seusai perayaan, berbagai macam bekas bungkus makanan dan minuman berserakan dimana-mana. Apa jadinya jika tidak ada yang membersihkan, Ibukota bakalan malu diolok orang karena kondisinya yang kotor.
Beruntung, ada Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU)— pasukan oranye— yang selalu setia dan sigap membersihkan jalan-jalan protokol, dari malam hingga menjelang subuh, meskipun mereka kerap harus melewatkan waktu berlebaran bersama keluarga di rumah.
Gerakan tangannya masih lincah, tenaganya pun masih terukur untuk mengayunkan sapu lidi yang digengamnya, begitu pula tatapan matanya juga tetap awas untuk menyisir sampah yang berserakan di pinggir jalan dan atas trotoar yang bersisian dengan Bundaran Hotel Indonesia, Rabu (6/5) dini hari. Para penyapu jalanan ini bergerak dengan lincah dari satu titik ke titik lain, menyerokan sampah dan mengumpulkannya di suat tempat, hingga akhirnya dimasukkan ke kantung sampah.

Tiga pasukan oranye sedang bersiap membersihkan jalanan dan trotoar di dekat Bundaran HI (law-justice/Teguh Vicky Andrew)
Bagi dua orang pasukan oranye, Udan Jaya dan Kasturi, kegiatan semacam ini sudah menjadi rutinitas yang kerap dilakoni setiap tahun. Pada malam Takbiran, mereka memang sengaja dipekerjakan pada malam hari. Tujuannya agar jalananan Ibukota pada pagi hari, menjelang salat Idul Fitri (Ied) sudah bersih dan steril dari sampah.
Sejak pukul 7 malam, mereka sudah berkumpul di Kelurahan Menteng. Dari sana mereka mendapatkan arahan untuk membersihkan sampah di beberapa tempat. Pasukan oranye ini pun berkeliling hingga sekitar pukul 12 dini hari mendapat giliran untuk menyapu jalanan dan trotoar di sekitar Bundaran HI. Dari sana, para penyapu jalanan yang dirintis pada masa Gubernur Basuki Tjahaja Purnama ini akan menyisir tempat lain hingga menjelang subuh.
“Sudah biasa pak tiap malam Idul Fitri, Tahun Baru, Idul Adha. Kerjanya memang tengah malam, biar nanti kalau pagi-pagi pejabat lewat jalanan sudah steril dari sampah. Kita memang sengaja datang ke sini jam 12, nunggu orang-orang pada bubaran dulu” tutur Udan Jaya di trotoar pada salah satu sisi Bundaran HI.

Tiga pasukan oranye Bekerja di bawah pengawasan petugas kelurahan Menteng (law-justice/Teguh Vicky Andrew)
Menurut kedua kawan karib ini, sebagian besar warga yang berkumpul di sekitar Bundaran HI tidak peduli pada kebersihan. Mereka kerap membuang sampah di mana saja. Namun sebenarnya pada malam Takbiran, sampah yang berserakan di jalan dan trotoar tidak separah malam tahun baru karena orang yang berkumpul lebih banyak dan sulit dibubarkan oleh polisi.
“Mereka (warga) memang nggak peduli kebersihan. Ini (malam takbiran) nggak seberapa, kalau malam tahun baru lebih hancur lagi. Belum lagi mereka susah dibubarkan, diusirin pakan mobil dulu, digiring, baru bisa dibubarin,” kata salah satu anggota PPSU kelurahan Menteng itu.

Aksi pasukan oranye membersihkan jalanan ibukota dari sampah sisa perayaan malam Takbiran (law-justice/Teguh Vicky Andrew)
Selama bertahun-tahun, keduanya mengaku kerap bekerja menyapu jalanan pada malam takbiran. Selain karena tugas yang telah diamanatkan, mereka kebetulan sedang mendapat giliran tugas sesuai jadwal yang telah ditetapkan, karena setengah dari pasukan oranye lainnya mendapat giliran libur sehingga pekerjaan dilakukan secara bergantian.
Hal inilah yang mengakibatkan, tak seperti warga Jakarta kebanyakan, mereka sangat jarang merayakan malam kemenangan bersama keluarga. Alih-alih berkumpul di rumah, Udan dan Kasturi harus berangkat dari tempat tinggalnya di kawasan Citayam dan Depok sejak sore hari. Mereka kemudian bekerja pada malam hingga subuh dan menunaikan salat Ied di Jakarta.
“Tiap malam takbiran ya di Jakarta. Ya mau nggak mau deh harus relain nggak kumpul sama keluarga, daripada diomelin nanti,” tutur Udan polis.

Para petugas kebersihan mengumpulkan sampah yang berserakan untuk selanjutnya dimasukkan ke kantung sampah (law-justice/Teguh Vicky Andrew)
Sementara menurut Kasturi, pekerjaan menyapu jalanan merupakan tugas seorang PPSU. Jadi kapan pun ditugaskan harus siap. Menurut pria asal Brebes ini hal itu merupakan bentuk loyalitas dan komitmen pekerjaan. Sejauh ini, ia tak pernah keberatan meskipun harus bekerja di luar jadwal dan tanpa honor tambahan.
Selain jarang bertakbiran dan berlebaran bersama keluarga, rutinitas semacam ini, membuat dirinya lama tak mudik ke kampung halaman. Kasturi mengaku sudah lupa kapan terakhir kali mudik ke Brebes karena lebih banyak di Jakarta untuk bekerja.
“Dia aslinya orang Brebes. Cuma udah nggak dikenalin lagi di sana karena nggak pulang-pulang, di jalanan terus”, ledek Udan sambil tertawa terbahak-bahak.




Komentar