Perempuan dan Anak Mengungsi Akibat Konflik di Kupang Tengah
Ilustrasi konflik antar warga (pixabay)
law-justice.co - Ketua Majelis Jemaat GMIT Emaus Oebelo Pendeta Regina Bule Logo Duri mengatakan lebih dari 200 orang yang didominasi kaum perempuan dan anak-anak mengungsi ke gereja Oebelo. Warga Desa Oebelo di Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur itu mengungsi akibat konflik yang terjadi dengan warga eks Timor Timur yang menetap di Desa Tanah Merah.
"Warga lokal dari Desa Oebelo, terutama anak-anak dan kaum perempuan terpaksa mengungsi ke bangunan gereja untuk menyelamatkan diri dari konflik antara warga Desa Oebelo dengan Tanah Merah," kata Pendeta Regina di Kupang, Minggu (26/8).
Dalam insiden tersebut, dua orang warga dilaporkan tewas terbunuh, sehingga membuat warga lokal Oebelo selalu berada dalam ketakutan dan trauma untuk kembali ke rumahnya masing-masing.
"Ada warga yang memilih pulang ke rumah untuk makan, mandi serta berganti pakaian, sesudah itu kembali berkumpul bersama warga lainnya di gereja tersebut," imbuhnya.
Pendeta Regina mengaku telah menghubungi pihak Majelis Klasis Kupang Tengah, dan Sinode GMIT, serta pemerintahan setempat untuk merespon dan memfokuskan perhatian bagi warga Desa Tanah Merah dan Oebelo yang menjadi korban secara mental dan trauma akibat konflik.
"Kami dari pihak gereja mengizinkan warga lokal Oebelo untuk menjadikan gereja sebagai tempat perlindungan, namun terkait dengan kebutuhan pangan, masih menjadi tanggungan masing-masing."
Ia juga meminta aparat keamanan TNI-Polri terus berjaga dan selalu meningkatkan kewaspadaan di sekitar lokasi bentrok serta mengantisipasi terjadinya bentrok susulan.
"Kami harap pemerintah daerah juga menyiapkan kebutuhan dapur umum untuk ketersediaan pangan yang cukup dan fasilitas obat-obatan, serta MCK bagi para warga yang berada di lokasi pengungsian," tuturnya.
Seorang warga Oebelo Kecil, Desa Tanah Merah, Mirace, melalui sambungan telpon kepada Antara di Kupang, mengatakan ia bersama kelurganya terpaksa mengungsi ke gereja untuk menghindari konflik susulan.
"Ada informasi yang beredar bahwa akan ada penyerangan, rumah-rumah dibakar sehingga untuk keamanan dan keselamatan kami masih mengungsi di gereja," kata Mirace.
Ia mengaku telah mengungsi ke gereja setempat sejak Jumat (24/8) malam dan masih bertahan bersama ratusan warga lainnya di lokasi pengungsian. Mirace berharap aparat keamanan segera mengendalikan situasi yang saat ini masih mencekam agar konflik antarwarga segera redah sehingga bisa kembali ke rumah masing-masing.
"Ada banyak perempuan dan anak-anak yang masih ketakutan, kami berharap tidak ada bentrok susulan lagi sehingga kondisi segera tenang kembali," katanya.
Konflik antarwarga Desa Oebelo dan Tanah Merah terjadi pada Kamis (23/8). Konflik tersebut mengakibatkan dua warga tewas, masing-masing satu orang dari kedua desa tersebut. (ant)




Komentar