Krisis Rohingya: Biksu Garis Keras Myanmar sangkal ada genoside

Senin, 27/11/2017 08:13 WIB
Pengungsi Rohingya (foto: VoA News)

Pengungsi Rohingya (foto: VoA News)

law-justice.co - Setiap hari para biksu yang bejubah merah dan bersandal jepit, membawa mangkuk sedekah dalam genggaman. Mereka mengantri mendapatkan nasi, sayur dan cookies donasi para penduduk desa. Inilah bagian dari kehidupan beragama yang umum kita dapati hampir di seluruh pelosok Myanmar, negeri berpenduduk mayoritas beragama Budha.

Tapi pemuka agama di sini amat gencar menyuarakan iman Budha terancam punah.

Siapakah ancaman utama mereka? Islam, kata Thaw Parka, biksu yang mewakili kelompok garis keras Ma Ba Tha – Asosiasi untuk Perlindungan Ras dan Agama. Merekalah penyebar sentimen anti-Muslim yang mendapat banyak kecaman terutama setelah sekitar 600.000 etnik Rohingya kabur ke Bangladesh. Etnik Rohingnya kabur karena merasa tidak diakui sebagai warga negara dan kerap menerima penganiayaan serta perlakukan diskriminatif.

Pada September lalu Pengadilan Internasional memutuskan pemerintah Myanmar bersalah karena telah melakukan genosida terhadap etnis Rohingya dan minoritas muslim lainnya. "Pengadilan memutuskan bahwa Myanmar bersalah melakukan genosida terhadap orang-orang Kachin dan kelompok-kelompok Muslim di sana," kata ketua Pengadilan Rakyat Permanen, Daniel Feierstein, seperti dikutip dari Anadolu.

Namun para biksu menyangkal. “Ini bukan seperti apa yang dikatakan komunitas internasional. Tidak ada genosida,” kata seorang pemuka agama yang memimpin lebih dari 100 biksu.

Tentara Myanmar pun menyangkal tuduhan telah terjadi genosida. Mereka mengatakan operasi militer yang mereka lancarkan hanya menyasar kelompok militan Rohingya yang melakukan serangan mematikan ke pos polisi pada 25 Agustus lalu.

Sementara itu menurut pengakuan para pengungsi telah terjadi pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran desa-desa mereka. PBB bahkan menyebutnya sebagai contoh buku teks tentang pembersihan etnis.

Thaw Parka mengatakan tuduhan itu sebagai liar dan sebaliknya ia merasa para pengikut Budhalah yang merupakan korban utama dari kekerasan yang terjadi selama ini. “Kaum etnis kami kelaparan. Mereka meninggalkan desa begitu saja. Tidak mungkin hidup, jika mereka tetap bertahan di desa.”

Thaw Parka, Jurubicara Ma Ba Tha, kelompok nasionalis Budha (Foto: Cetus News)

Pandangan Thaw Parka mewakili sebagain besar mayoritas pengikut Budha. Mereka  memiliki sedikit saja rasa simpatik terhadap etnik Rohingya, bahkan kerap merespon keras kecaman masyarakt internasional. Sedikit sekali diantara mereka yang mau menggunakan kata Rohingya. Mereka lebih suka memanggil kaum minirotas muslim sebagai orang Bengali – cap yang merujuk pada status imigran ilegal.

Sebenarnya sulit memahami jika kelompok minoritas agama lain seperti Islam atau Kristen dianggap dapat mengancam dominasi Budha di Myanmar. Statistik menunjukkan sembilan dari 10 orang di Myanmar dari total penduduk 51,5 juta orang, beragama Budha. Bandingkan dengan jumlah muslim di negara tersebut yang hanya mencapai 1,2 juta orang. Angka ini belum termasuk sekitar 1,1 juta muslim Rohingya yang dianggap sebagai penduduk tak bernegara. Kewarganegaraan mereka telah ditolak dan tidak terdata dalam sensus penduduk yang diselenggarakan pada 2014.

Thaw Parka mengatakan dia dan kelompoknya sebenarnya memiliki hubungan harmonis dengan kaum terpelajar Muslim yang ada di Myanmar. Mereka hanya memberi perlawanan kepada kelompok Islam garis keras dan teroris yang mengancam kedaulatan Myanmar.

 “Kami punya banyak teman kaum Muslim. Kami bergaul, bekerja bersama. Kami melakukan kegiatan amal bersama. Tidak ada masalah. Tetapi sulit rasanya menciptakan kehidupan yang damai dengan beberapa kaum Muslim, terutama yang berhubungan dengan teroris.”

Para biksu mengatakan takut jika kebangkitan Islam radikal mengancam keberadaan agama Budha.

Sebuah pamflet berbahasa Inggris yang dibuat pada 2015 oleh kelompok biksu dan menjadi bacaan yang ‘wajib diketahui, dibaca, dan disimpan’ oleh setiap warga Myanmar, menyebut: ‘perbedaan agama telah melahap iman di Myanmar. Ini merupakan peringatan. Karena jika pemimpin Budha tidak merawat dan menjaganya maka ajaran Budha akan segera punah”-- sesuatu yang menurut booklet telah terjadi berabad lalu di negara tetangga mayoritas Muslim, Malaysia dan Indonesia.

Pada Mai lalu, pemimpin tertinggi umat Budha bentukan pemerintah, Komite Sangha Maha Nayaka, mengambil tindakan tegas terhadap kelompok garis keras. Memerintahkan mereka menurunkan sejumlah pesan-pesan provokatif di tempat-tempat umum. Namun menurut Thaw Parka  kebijakan pemerintah tak banyak mempengaruhi kegiatan mereka.

Thaw Parka mengatakan kelompoknya adalah pendukung Aung San Suu Kyi dan ikut mendorong proses transisi menuju demokrasi. Ketika tekanan masyarakat internasional meningkat, pemimpin Myanmar hanya menunjukkan sedikit solidaritas terhadap kaum Muslim Rohingya. Suu Kyi tidak banyak mengeluarkan pernyataan menanggapi masalah ini karena khawatir akan membuat marah kaum nasionalis Budha.

Suu Kyi bahkan tidak mengutuk samasekali tudingan adanya perlakukan kejam terhadap komunitas Rohingya. Ia hanya mengatakan pemerintah perlu waktu untuk menyelediki apa yang terjadi sehingga 600.000 kelompok minoritas muslim keluar dari Myanmar.

Minggu ini Suu Kyi akan menjadi tuan rumah kunjungan pemimpin tertinggi gereja katolik Roma, Paus Franciskus. Ia kerap menggunakan kata Rohingya untuk merujuk pada saudara laki-laki dan perempuan yang teraniaya. Pilihan kata yang bisa menyulut ketegangan di Myanmar karena sedikit sekali orang di negara tersebut memilih kata Rohingya untuk kelompok minoritas muslim. (CNN)

 

(Rin Hindryati\Rin Hindryati)

Share:
Tags:




Berita Terkait

Komentar