Sudaryono, Kolumnis
Melawan Lupa, Kejamnya Jejak Digital Kebohongan Jokowi
Presiden Joko Widodo (Foto: Netralnews)
law-justice.co - Publik kembali ramai, timeline Facebook dan twitter saya pun mendadak penuh dengan isu Jokowi yang kembali lupa ingatan. Hal ini dimulai dari statement yang disampaikan oleh Prabowo perihal adanya ribuan triliun dana yang parkir di luar negeri.
Dalam pidato kebangsaan di Grand Pacific Hall Sleman, Yogyakarta, Pada 27 Februari 2019, Prabowo Subianto menyebut ada sekitar Rp 11.000 triliun uang WNI berada di luar negeri.
"Uang warga negara Indonesia di luar negeri jumlahnya lebih dari Rp 11.000 triliun. Jumlah uang di bank di seluruh bank di dalam negeri Rp 5.400 triliun. Berarti dua kali kekayaan Indonesia berada di luar Indonesia, tidak berada di negeri Indonesia," jelas Prabowo.
Ini bukan pertama kalinya Prabowo menyampaikan hal bernada serupa, sebelumnya ia mempersoalkan banyaknya kekayaan rakyat Indonesia yang lebih banyak berada di luar negeri dibandingkan di dalam negeri.
Menariknya, dalam kunjungannya ke Gorontalo pada Jumat, 1 Maret 2019 lalu, Jokowi selaku Presiden Indonesia seperti kebakaran jenggot dan lantas menantang Prabowo menunjukkan data adanya dana milik orang Indonesia yang diparkir di luar negeri yang jumlahnya mencapai Rp 11.000 triliun itu.
“Ya kalau memang ada data, ada bukti-bukti mengenai itu disampaikan saja ke pemerintah. Akan kami kejar,” ujar Jokowi. .
Bukan hanya Jokowi, Menko Maritim, Luhut Pandjaitan dan beberapa juru bicara TKN kompak menegasikan pernyataan Prabowo. Bahkan mereka dengan mudah memanfaatkan isu ini dengan mengatakan bahwa yang disampaikan Prabowo adalah hoax belaka.
“Hebat banget, saya nggak tau, saya cek dulu. Tapi nggak mungkinlah, itu angka yang sangat fantastis,” kata Luhut Pandjaitan saat dimintai keterangan mengenai hal ini.
Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Johnny G Plate menganggap statement Prabowo hanya asal ngomong dan akan menyulitkan diri Prabowo. Ia pun memperingatkan agar Prabowo berbicara disertai data yang valid karena ia seorang capres dan omongan adalah janji kepada rakyat.
Semua terasa benar.
Bahkan TKN dan buzzernya pun siap memporakporandakan persepsi positif rakyat kepada Prabowo dengan berbagai kampanye negatif kepadanya.
Sayangnya jejak digital terlalu kejam. Rakyat sudah pintar dan tidak bisa dibohongi berkali-kali. Mungkin 250 juta orang adalah angka yang terlalu besar bagi Jokowi untuk bisa membohongi rakyat bangsa ini. Kini rakyat berlomba-lomba menunjukkan fakta melalui jejak digital.
Statement Prabowo benar. Ia justru mengutip pernyataan Menteri Keuangan yang saat itu masih dijabat oleh Bambang Soemantri Brodjonegoro.
Dari perhitungan Depkeu, ternyata potensi uang orang Indonesia yang diparkir di luar negeri lebih besar dari Produk Domestik Bruto (GDP) Indonesia sebesar Rp 11.400 triliun. Atas dasar itulah pemerintah menggagas tax amesty.
Bahkan dari mulut Jokowi pulalah angka 11 Triliun dana terparkir ini awal mulanya berembus. Anda bisa cari videonya berseliweran di Youtube, Twitter, dan Facebook. Anda juga bisa membaca artikel lengkap yang dimuat di website resmi setkab sejak 25 November 2016 di https://setkab.go.id/datanya-sudah-ada-presiden-jokowi-uang-kita-yang-disimpan-di-luar-negeri-rp-11-000-triliun/
Begitulah kalau kita tidak adil sejak dalam pikiran. Jika lawan yang memberikan data, disebut hoax dan justru minta datanya dan buktinya.
Padahal jelas Jokowi telah mengantongi data tersebut sejak 2016. Belum dikejar dananya Pak? Ke mana saja sih? Kok sekarang malah lupa dan minta data dari lawan politik?
Lucu yah, Jokowi membantah ucapannya sendiri. Kalau begini ceritanya, Prabowo dan tim sudah tidak perlu menyerang Jokowi lagi. Biarkan saja ia melakukan berbagai blunder yang akan menyerang dirinya sendiri dan rakyat yang akan menilainya.
Pasti sekarang Jokowi dan TKN sedang kebingungan membuat alasan untuk pembenaran dari lupa yang keseringan.
Iya kan?
Setelah dikenal dengan guyonan I dont read what I sign, sekarang mau dikenal sebagai presiden pelupa Pak?
Setelah mudah sekali membatalkan kebijakan, tidak tahu isi yang ditandatangani, overclaimed prestasi dengan data yang keliru, sekarang lupa sama omongan sendiri. Mungkin inilah akibatnya kalau negara dipimpin oleh yang bukan ahlinya.
Gara-gara hal ini, integritas dan kredibilitas Jokowi sedang di ujung tanduk. Publik ramai-ramai meragukan dirinya. Bisakah dia memimpin kembali jika kualitas yang ditunjukkan serendah ini?
Pak Jokowi, mungkin Anda bisa membohongi semua orang sesekali. Bangsa ini memang bangsa yang pandai memaafkan. Tapi ingat, Anda tidak bisa tidak bisa membohongi semua orang setiap saat. Sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga baunya.
Kalau melihat blunder Jokowi seperti ini, saya jadi tidak ragu kalau gerakan #GantiPresiden2019 akan jadi kenyataan setelah Pilpres April 2019 nanti.



Komentar