Karnaval Keberagaman

Cap Go Meh di Bogor: dari Barongsai hingga Debus Tionghoa

Rabu, 06/03/2019 21:10 WIB
Bebus  Tionghoa di acara Cap go meh, Bogor. (Foto: P. Hasudungan Sirait)

Bebus Tionghoa di acara Cap go meh, Bogor. (Foto: P. Hasudungan Sirait)

law-justice.co - Pipinya tembus dari kanan ke kiri oleh besi pipih tajam yang hulunya berpembalut benang merah menjumbai.  Sebuah besi tajam juga menghunjam pipi kanannya, dari bawah liang tadi. Begitupun, sama sekali tak ada darah menetes. Seperti tak berbeban, kepalanya tetap lincah berputar ke kiri dan kanan. 

Lelaki kurus-jangkung beroblong coklat dan bercelana biru ekstra-pendek  itu kemudian unjuk kemampuan. Lidahnya disayatnya keras-keras dengan golok tajam. Seharusnya alat pencecap itu terluka, kalau tidak putus. Ajaib! Tak terjadi apa-apa. Darah setetes pun tak keluar.  

Liukan sang naga. (Foto: P. Hsudungan Sirait)

Ia mengulangi adegan serupa berkali-kali dan tetap saja indra yang dijulurkannya baik-baik belaka. Ekspresinya tetap dingin seperti sediakala.   

Ia lantas mengeluarkan geretan. Kawat bersumbu  yang diserahkan temannya dibakarnya. Seusai mengacungkannya tinggi-tinggi, api itu kemudian dioleskannya ke sepanjang kulit tangan dan kakinya. Kembali ajaib:  ia tak meringis dan api yang menjilati itu tak menyakiti kulitnya!  Jelas, anggota Persatuan Glatik Muda Bogor yang berpenampilan laksana orang Dayak itu kebal.

Tatung atau debus Tionghoa, itulah yang diperagakan pria berumur 30-an tahun yang tangan kanan-kirinya bertato. Ia dan kawan-kawan sekelompoknya ikut berpawai di sepanjang pecinan Jl. Suarya Kencana, Bogor,  Selasa, 19 Februari 2019 malam untuk meramaikan cap go meh.

Barongsai dan Liong

Seperti di film-film silat Mandarin saja. Panji-panji besar kelompok terangkat tinggi-tinggi di sepanjang jalan,  diiringi musik tetabuhan yang gemuruh. Rombongan demi rombongan menapak dan berhenti berselang-seling. Barongsai dan liong meliuk-liuk turut irama. Semuanya bergerak dari titik yang sama: persimpangan Kebun Raya-Jl. Suryakencana, Bogor, persisnya depan Vihara Dhanagun. Di sana mereka yang berkarnaval ini dilepas oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Walikota Bogor Bima Arya, dan Sinta Nuriyah Wahid (istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid).

Penabuh genderang yang energik. (Foto: P. Hasudungan Sirait)

Seperti kucing besar, ‘seekor’ barongsai hijau jongkok dan menggoyang-goyang kepala dan pantatnya. Mendadak ia bangkit dan meloncat tinggi. Setelah menyeimbangkan tubuh ia mengambil ancang-ancang lagi. Sekali lagi, ia menggapai ketinggian.

Seorang bocah perempuan Tionghoa menyeruak dari kerumunan. Dari sisi jalan ia, ditemani seorang perempuan dewasa, mengacungkan amplop kecil putih. Barongsai mendekat dan menunduk. Si bocah memasukkan amplop  ke mulut besar binatang-binatangan yang dikendalikan dua lelaki remaja bersemangat. Sebagai tanda terimakasih untuk pemberian, liong yang masih berjongkok itu menggoyang-goyang kepala dan pantat sebelum kembali meloncat setingginya.

Giliran liong yang kemudian beraksi. Berkepala hijau dan berbadan warna emas, ia mendekat dengan meliuk-liuk. Panjangnya sekitar  12 meter, ia digerakkan selusin lelaki muda.

Di hadapan hadirin yang membludak di sepanjang jalan tiba-tiba ia bergulung-gulung mengikuti genderang yang sontak bergemuruh. Lingkaran keemasan yang berputar-putar di keremangan malam berefek dramatik yang sedap dipandang.

Hadirin berseru-seru dan berrtepuk tangan menyemangati. Para pengambil gambar—dengan handphone atau kamera—tak mau kehilangan momen sehingga sibuk menjepreti.

Seorang lelaki muda yang duduk di kursi roda rajin mengamplopi. Kelihatannya ia orang berada yang kemungkinan keluarganya bertoko di Jl. Suryakencana. Liong mendekat begitu orang itu mengacungkan amplop. Kembali meliuk-liuk dan bergulung naga-nagaan itu seturut genderang yang bertalu-talu. Kelelahan, ia pun lunglai. Kepalanya menjulur dan orang yang di atas kertas roda memberinya angpau.  Tentu saja ia berterimakasih dengan unjuk kemampuan kembali.

Angpau dan atraksi malam itu berpadu di Jl. Suryakencana. Para toke yang menonton pawai rajin memberinya.  Saweran mereka merupakan pemantik semangat para penampil. Pertunjukan istimewa pun serta-merta mereka suguhkan di hadapan orang-orang berada.

Uang lelah untuk barongsai. (Foto: P, Hasudungan Sirait)

Acara cap go meh berlangsung saban tahun di Jl. Suryakencana, Bogor. Dari panji-panji yang terangkat tinggi nyata bahwa para penampil bukan hanya orang Bogor tapi warga kota lain juga termasuk Jakarta, Cianjur, dan Sukabumi. Mereka bukan Tionghoa saja. Tentara juga ada yang memainkan liong.

Penontonnya sendiri datang dari mana-mana, meski unsur utamanya penduduk kitaran Bogor. Para vloger, bloger, videografer, dan fotografer yang datang dari pelbagai kota selalu meramaikan perhelatan yang telah bertradisi panjang ini.

Acara kemarin agak berbeda sebab warna lintas-agamanya lebih mencuat. Rombongan Hindu Bali yang menghela gerobak besar yang di atasnya tegak patung raksasa yang menghunus pedang,  termasuk penampil yang mencuri perhatian khalayak luas. Pun sekelompok lelaki Arab yang bertubuh serba besar. Mereka ini bershalawat sembari memainkan rebana dan gendang.

Perayaan cap go meh di Bogor kemarin terbilang istimewa. Selain sangat semarak, ia menggarisbawahi indahnya kemajemukan apa pun, termasuk agama anutan.

(P. Hasudungan Sirait\P. Hasudungan Sirait)

Share:




Berita Terkait

Komentar