Respon BEI soal IHSG Jatuh Usai Pengumuman MSCI

Jum'at, 16/10/2026 15:35 WIB
IHSG anjlok (Harianbatakpos)

IHSG anjlok (Harianbatakpos)

law-justice.co - Bursa Efek Indonesia (BEI) buka suara soal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot hingga 10 persen pada penutupan perdagangan sesi I Jumat (16/10) usai keluarnya pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Adapun MSCI mengumumkan konsultasi perubahan status pasar modal Indonesia dari kategori pasar negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi tak menampik pengumuman MSCI tersebut menjadi penyebab utama koreksi IHSG.

"Terus terang kalau bicara IHSG itu banyak faktor, ya. Tapi kalau bicara hari ini, ya mungkin market juga bisa menyimpulkan bahwa sejak pengumuman itu kemudian terjadi penurunan market yang cukup tajam. Bisa disimpulkan memang trigger-nya adalah pengumuman dari MSCI ini," ujar Iding kepada awak media di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Jumat (16/10).

Meski begitu, Iding mengingatkan indikator ekonomi makro dalam negeri sebenarnya berada dalam kondisi yang stabil dan mendukung.

"Kalau dalam negeri mungkin kan multifaktor. Dalam negeri itu kan sejauh ini juga ukuran-ukuran parameter-parameter ekonomi juga sejauh ini sudah dikomunikasikan oleh pemerintah bahwa ekonomi kita cukup stabil dan tumbuh dengan baik," lanjutnya.

Selanjutnya, BEI mengimbau kepada para investor untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan secara emosional. Iding menekankan pentingnya melihat prospek investasi dalam jangka panjang serta mengacu pada fundamental emiten.

"View-nya dari investor itu harusnya lebih pada long term horizon. Lihat fundamentalnya dari perusahaan. Bertindak secara rasional, jangan ikut-ikutan, jangan jual atau beli karena pergerakan pasar, tapi jual atau beli benar-benar karena fundamental dari market, fundamental dari perusahaannya," jelas Iding.

Di sisi lain, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin menambahkan secara agregat, kinerja emiten di bursa sebenarnya masih mencatatkan kinerja positif, baik dari sisi pendapatan, laba, maupun aset.

"Secara fundamental, secara kondisi emiten-emiten yang ada di Bursa Efek Indonesia kita masih cukup kuat dan masih cukup growth. Tinggal bicara masalah persepsi dan pengumuman tadi dari MSCI," jelas Saidu.

Ia juga mengingatkan bahwa status standalone market tersebut baru sebatas usulan konsultasi yang ruang diskusinya masih dibuka hingga April 2027 mendatang. Karena itu, investor diminta untuk tetap realistis melihat kondisi pasar modal Indonesia.

IHSG merosot 630,78 poin atau minus 10,76 persen ke level 5.233 pada penutupan perdagangan sesi I Jumat (16/10).

Berdasarkan data RTI Business, sebanyak 771 saham melemah, 14 saham menguat, dan tiga saham stagnan.

Volume perdagangan mencapai 38,70 miliar saham dengan nilai transaksi Rp17,33 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 1,35 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp9.245,87 triliun.

Di tengah tekanan pasar, investor asing tercatat membukukan beli bersih sebesar Rp567,96 miliar berdasarkan data terakhir yang tersedia di RTI Business, yakni per 15 Oktober 2026.

Beli bersih di pasar reguler mencapai Rp520,03 miliar, sedangkan di pasar negosiasi dan tunai sebesar Rp47,93 miliar.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar