Politik Jokowi Sudah Tamat Jika Ijazah SMA Gibran Tak Bisa Ditunjukkan
Dinasti Politik Jokowi. (www.democrazy.id).
law-justice.co - Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan menegaskan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan ijazah SMA Gibran tidak dapat ditunjukkan secara nyata berarti Gibran tidak memiliki ijazah tersebut, sehingga pencalonannya dinilai bertentangan dengan konstitusi.
Dia pun menegaskan tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan Gibran di jabatannya.
Anthony menyebut pihak lain telah menuduh KPU dan Gibran melakukan perbuatan melawan hukum, termasuk dugaan pemalsuan dokumen.
Menurutnya, semakin lama hal ini dibiarkan, semakin jelas terlihat Gibran tidak memenuhi syarat sekaligus semakin terlihat adanya unsur pidana.
“Pemberhentian ini hampir pasti terjadi, dan ketika terjadi, manuver politik Jokowi berakhir,” kata Anthony, Selasa (14/10/2026).
Dia menjelaskan dampak pertama dari berakhirnya kekuasaan Gibran adalah tertutupnya pintu politik bagi keluarga Jokowi. Sidang di Mahkamah Konstitusi dinilai sebagai skakmat bagi Jokowi beserta keluarganya.
Selanjutnya, Anthony juga menyebut jika Kaesang Pangarep yang selama ini menjadi tumpuan Jokowi berikutnya pun dinilai tidak memiliki jalan menuju pencalonan presiden dalam dua periode ke depan.
Kaesang lahir pada 25 Desember 1994, sehingga baru berusia 40 tahun pada 25 Desember 2034 dan belum memenuhi syarat usia untuk Pilpres 2029 maupun 2034.
Kesempatan pertamanya baru akan datang pada 2039, yaitu 13 tahun dari sekarang. Pada tahun itu, Jokowi diperkirakan berusia 78 tahun.
Menurut Anthony, asumsi bahwa keluarga Jokowi akan terus mengajukan keturunannya bukan karena Gibran atau Kaesang dinilai hebat dan layak, melainkan bertumpu pada rekam jejak yang dianggap haus kekuasaan dengan memanfaatkan aturan main dan konstitusi.
“Jokowi dan anak-anaknya mempermainkan konstitusi dan proses pencalonan, serta memanipulasi dokumen untuk meraih kekuasaan, baik di Mahkamah Konstitusi maupun di KPU, bahkan dengan melibatkan lembaga dan kementerian pendidikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Anthony menyampaikan seluruh bangunan politik Jokowi dinilai rapuh, semu, manipulatif, dan penuh kebohongan. Politik Jokowi saat ini hanya bertumpu pada satu anak tangga, yaitu Gibran, yang dibangun di atas proses yang cacat dan kini terbuka.
“Sepandai-pandainya bajing melompat, akhirnya jatuh juga,” tegasnya.
Begitu Gibran jatuh, lanjut Anthony, semuanya akan runtuh. Tidak ada penerus yang siap, tidak ada jalur konstitusional yang tersisa, dan tidak ada waktu yang memadai. Dalam dua periode pilpres ke depan, keluarga Jokowi dinilai tidak memiliki kandidat yang memenuhi syarat.
“Politik Jokowi sudah tamat,” pungkasnya.




Komentar