BI Dorong Kelor, Kopi dan UMKM Jadi Penggerak Ekonomi di NTT
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti. (Infobanknews)
law-justice.co - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mendorong pengembangan komoditas unggulan Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai dari kelor, kopi hingga produk UMKM, sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Menurut dia, produk lokal NTT memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi komoditas bernilai tambah sekaligus membuka lapangan kerja.
Destry mengatakan, potensi ekonomi NTT tidak hanya bertumpu pada tenun ikat. Kelor dan kopi juga memiliki prospek besar untuk dikembangkan, termasuk menembus pasar internasional. “Provinsi NTT, selain punya tenun, punya juga kopi yang bagus. Selain itu ada juga daun kelor yang saat ini digunakan di Jepang,” kata Destry saat membuka Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026 di Lippo Plaza Kota Kupang, Sabtu (3/10/2026), sebagaimana dikutip Kompas.
Destry mengaku telah mengenal potensi kelor NTT sejak pertama kali berkunjung ke provinsi tersebut pada 2019. Saat itu, ia diperkenalkan dengan beragam produk olahan kelor, mulai dari minuman, bakwan hingga mi. “Dari daun kelor itu turunannya luar biasa. Saya pertama kali ke NTT tahun 2019, sudah dikasih tahu tentang daun kelor. Dari minuman daun kelor, bakwan daun kelor, bakmi daun kelor, serta semua serba daun kelor,” ujarnya.
Menurut Destry, potensi tersebut semakin menarik setelah mengetahui kelor asal NTT telah dimanfaatkan di Jepang. Kondisi itu menunjukkan adanya peluang bagi komoditas lokal untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. FCE 2026, kata Destry, juga tidak sekadar menjadi ajang promosi tenun khas NTT. Pameran tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan keragaman produk unggulan dari berbagai daerah di NTT, termasuk kopi, produk olahan kelor dan berbagai produk UMKM.
“Flobamorata Expo ini bukan hanya menggambarkan keberagaman penduduknya, tetapi mencerminkan NTT keseluruhan,” katanya.
Destry mengatakan BI bersama pemangku kepentingan akan terus mendorong peningkatan kualitas dan daya saing produk unggulan daerah. Penguatan tersebut dinilai penting agar produk UMKM tidak hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga memiliki peluang masuk ke pasar yang lebih luas. “Ini merupakan produk-produk unggulan keseluruhan NTT, yang tidak hanya tenun, tetapi banyak produk lain yang tentu akan dibantu oleh kita untuk ditingkatkan lagi kualitasnya,” ujarnya.
Menurut dia, pengembangan sektor UMKM dan ekonomi kreatif pada akhirnya diharapkan memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat melalui peningkatan pendapatan dan penciptaan lapangan kerja. “Tujuan akhirnya tentu akan meningkatkan perekonomian, termasuk penciptaan lapangan kerja. Ini yang kita harapkan,” kata Destry.
Ekonomi tumbuh, inflasi terkendali
Di sisi lain, Destry menilai perekonomian NTT masih mampu tumbuh di tengah upaya menjaga stabilitas harga. Pertumbuhan ekonomi daerah tersebut, menurut dia, tidak terlalu jauh dari pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di atas 5 persen.
Destry menilai kemampuan NTT dalam mengendalikan inflasi, khususnya inflasi pangan, menjadi salah satu aspek yang perlu diapresiasi. Ia menyebut inflasi pangan nasional tercatat 3,28 persen, sedangkan NTT berada pada level 2,59 persen. “Artinya ekonomi ini masih bisa tumbuh tanpa menyebabkan inflasi yang berlebihan,” ujarnya.
Menurut Destry, kondisi tersebut dapat menjadi modal bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi lebih jauh faktor-faktor yang memengaruhi inflasi di NTT. Dengan pemetaan yang lebih baik, pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat terus didorong tanpa menimbulkan tekanan terhadap stabilitas harga. “Ini modal untuk bisa dibedah lagi penyebab inflasi sehingga nanti kita dorong ekonominya bisa relatif aman tanpa mengganggu inflasinya,” kata dia.
FCE 2026 merupakan hasil sinergi Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT dan Pemerintah Provinsi NTT untuk memperkuat ekonomi kreatif serta mengembangkan UMKM. Kegiatan bertema “Flobamorata Berkarya, Menuju Perekonomian Berdaya dan Berkelanjutan” tersebut berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Lippo Plaza Mall, Kota Kupang. Sejumlah pelaku UMKM, pengusaha tenun ikat, pelaku usaha kopi dan sektor kreatif lainnya turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.



Komentar