Dr. Roy T Pakpahan SH, Pemimpin Redaksi Law-Justice.co

Dibalik Pemecatan Ex Menkeu Purbaya, Apa Kalkulasi Presiden?

Minggu, 27/09/2026 00:00 WIB
 Purbaya Yudhi Sadewa. (Kumparan)

Purbaya Yudhi Sadewa. (Kumparan)

[INTRO]

Senin, 14 September 2026, mungkin akan dikenang sebagai salah satu plot twist paling mengejutkan dalam panggung politik dan ekonomi Republik. Hanya dalam hitungan beberapa jam, suasana politik ekonomi nasional berubah drastis. Sekitar pukul 13.00 WIB, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil dalam Rapat Kerja Komite IV DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan. Dalam forum ini, ia mengungkap persoalan serius mengenai dugaan kebocoran penerimaan negara yang nilainya mencapai triliunan rupiah.

Namun beberapa jam kemudian, muncul kabar bahwa posisi Menteri Keuangan telah berganti.Perubahan yang berlangsung begitu cepat sontak memicu spekulasi. Di media sosial, berbagai komentar bermunculan. Ada yang menilai Presiden Prabowo keliru karena justru mengganti menteri yang sedang berusaha membongkar dugaan kebocoran penerimaan negara.

Tetapi benarkah persoalannya sesederhana itu?. Atau justru ada persoalan yang jauh lebih besar di balik pergantian tersebut?. Untuk memahami situasinya, kronologi dan konteks ekonominya perlu dibaca secara lebih jernih.

Kronologi beberapa jam yang mengguncang Istana

Dalam rapat bersama Komite IV DPD RI di Senayan, Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan persoalan yang cukup mengejutkan.Ia mengungkap adanya dugaan praktik transaksi tunai pada sejumlah pabrik baja asal China yang beroperasi di Indonesia. Menurut narasi yang berkembang, sedikitnya 40 perusahaan disebut menggunakan pola transaksi cash basis yang berpotensi digunakan untuk menghindari kewajiban perpajakan.

Salah satu perusahaan di kawasan Pulogadung disebut memiliki tunggakan sekitar Rp200 miliar. Bahkan, apabila dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, nilainya disebut berpotensi meningkat hingga sekitar Rp1 triliun per perusahaan.

Purbaya pun mempertanyakan mengapa instruksi pemeriksaan yang telah diberikan kepada Direktorat Jenderal Pajak tidak segera dijalankan.Kecurigaan kemudian mengarah pada kemungkinan adanya persoalan internal. Ada dugaan bahwa sebagian pihak di dalam institusi justru berupaya melindungi para pelaku pengemplangan pajak.

Purbaya menyatakan tekad untuk membersihkan persoalan tersebut.Namun di tengah rapat yang berlangsung panas, sekitar pukul 13.00 WIB, ia menerima panggilan telepon yang disebutnya berasal dari "Bapak".Rapat kemudian diskors.

Purbaya meninggalkan ruang sidang dan tidak kembali melanjutkan rapat. Dalam situasi tersebut, sejumlah staf Kementerian Keuangan juga disebut terlihat sibuk membereskan dokumen yang sebelumnya berada di meja persidangan.

Peristiwa tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi.Mengapa pergantian itu terjadi begitu cepat?. Apakah benar berkaitan dengan langkah Purbaya membongkar kebocoran pajak?. Ataukah terdapat pertimbangan lain yang lebih besar yang tidak terlihat di permukaan?. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian berkembang menjadi perdebatan publik.

Membaca situasi dari perspektif perang ekonomi modern

Pertanyaan berikutnya adalah: apakah pergantian Purbaya harus langsung dibaca sebagai bentuk intervensi kepentingan tertentu?. Belum tentu. Ada kemungkinan bahwa pemerintah sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks: bagaimana menjaga stabilitas sistem ekonomi nasional ketika tekanan dari luar dan persoalan di dalam negeri muncul secara bersamaan.

Sejarah Indonesia memberikan pelajaran penting.Krisis 1998 menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak pernah berdiri sendiri. Ketika kondisi finansial memburuk, tekanan pasar, persoalan politik, kebijakan internasional, dan konflik kepentingan domestik dapat saling memperkuat.

Dalam narasi ini, situasi 2026 dipandang memiliki sejumlah kemiripan dengan masa lalu, meskipun tentu konteksnya berbeda.Pada akhir 1997, pemerintahan Soeharto menghadapi tekanan ekonomi yang sangat berat. Sejumlah kebijakan pemerintah saat itu juga memicu ketegangan dengan lembaga dan kekuatan ekonomi internasional.

Dari sinilah muncul kekhawatiran bahwa Indonesia kembali menghadapi bentuk baru perang ekonomi.Bukan perang dengan senjata.Melainkan perang melalui pasar, modal, nilai tukar, indeks saham, perdagangan, dan arus devisa.

Tiga manuver geopolitik Indonesia

Sekurangnya  terdapat tiga langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang dipandang memiliki konsekuensi geopolitik besar.

Pertama, Kerja sama energi dengan Rusia. Indonesia disebut mengamankan pasokan sekitar 150 juta barel minyak mentah dari Rusia, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman konflik antara Amerika Serikat dan Iran.Informasi mengenai langkah tersebut disebut disampaikan Hashim Djojohadikusumo pada Mei 2026.

Kedua, Pendalaman hubungan dengan BRICS. Indonesia juga disebut semakin memperkuat keterlibatannya dalam BRICS.Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya memperluas pilihan strategis Indonesia dalam hubungan ekonomi internasional sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada satu blok kekuatan ekonomi.

Ketiga, Mendorong kedaulatan perdagangan dan devisa.Pemerintah juga mendorong penguatan pengelolaan sumber daya dan perdagangan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).Dalam narasi ini, DSI diposisikan sebagai instrumen untuk memperkuat kendali negara terhadap aktivitas ekspor, memastikan harga komoditas lebih transparan, dan meningkatkan kepastian bahwa devisa hasil ekspor kembali ke Indonesia.

Ketiga langkah tersebut kemudian dibaca sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.

Fase pertama: tekanan melalui indeks MSCI. Tekanan berikutnya disebut datang melalui pasar modal.Pada April 2026, MSCI disebut membekukan proses rebalancing saham Indonesia.Kemudian pada 13 Mei 2026, sejumlah saham yang dianggap berkaitan dengan sektor hilirisasi dan energi disebut mengalami perubahan komposisi dalam indeks.Nama-nama seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT ikut disebut dalam narasi tersebut.Perubahan indeks kemudian dipandang berpotensi memberikan tekanan terhadap saham-saham Indonesia dan menimbulkan sentimen negatif di pasar.

Fase kedua: tekanan terhadap rupiah dan arus modal. Tekanan terhadap pasar saham kemudian dikaitkan dengan arus modal keluar.Dalam narasi yang berkembang, capital outflow disebut mencapai sekitar US$1,7 miliar atau sekitar Rp31 triliun.Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah mengalami tekanan hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS.

Bank Indonesia kemudian menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar.Inilah yang membuat persoalan fiskal, moneter, pasar modal, dan perdagangan tidak dapat dipandang secara terpisah.

Fase ketiga: persoalan kebocoran devisa. Persoalan yang paling besar dalam narasi ini adalah dugaan kebocoran devisa melalui praktik under-invoicing.Selama beberapa dekade, terdapat dugaan manipulasi nilai transaksi ekspor melalui pelaporan harga yang lebih rendah daripada nilai sebenarnya.

Komoditas seperti kelapa sawit, batu bara, dan mineral disebut sebagai bagian dari sektor yang perlu mendapatkan perhatian serius.Nilai kebocoran tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp15.400 triliun selama periode yang sangat panjang.

Angka tersebut tentu sangat besar.Jika persoalan tersebut benar-benar terbukti, dampaknya bukan hanya terhadap penerimaan negara, tetapi juga terhadap ketersediaan devisa, stabilitas rupiah, dan kemampuan negara mengelola sumber daya ekonominya.

Karena itu, penguatan sistem pengawasan ekspor menjadi isu strategis.Dalam skenario yang digambarkan, DSI akan menjalankan tahap awal pada Juni–Desember 2026 untuk memperkuat fungsi penilaian dan pengawasan harga riil.

Kemudian pada Januari 2027, tahap berikutnya diarahkan agar DSI dapat menjalankan fungsi perdagangan secara lebih penuh.Tujuannya adalah memastikan hasil ekspor dan devisa dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi perekonomian nasional.

Ketika kepentingan domestik bertemu tekanan global

Di titik inilah persoalan menjadi semakin kompleks.Jika terdapat kelompok usaha atau jaringan kepentingan yang selama bertahun-tahun memperoleh keuntungan dari kelemahan sistem perdagangan dan pengawasan devisa, maka perubahan sistem tentu dapat menimbulkan resistensi.

Tekanan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk.Mulai dari lobi politik, tekanan bisnis, sentimen pasar, hingga pembentukan opini publik.Dalam perspektif inilah muncul dugaan bahwa gejolak pasar dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menekan pemerintah agar mengendurkan kebijakan penguatan pengawasan ekspor.

Namun semua dugaan tersebut tetap membutuhkan pembuktian. Tidak cukup hanya dengan mencocokkan rangkaian peristiwa.Hubungan sebab-akibat harus dibuktikan melalui data, dokumen, transaksi, dan fakta yang dapat diverifikasi.

Dilema besar di meja Presiden

Bayangkan posisi Presiden ketika seluruh tekanan tersebut berlangsung secara bersamaan.Nilai tukar rupiah berada dalam tekanan. Harga minyak dunia meningkat.Beban subsidi menghadapi risiko kenaikan.Persoalan mengenai setoran dividen Danantara sebesar Rp120 triliun menjadi perdebatan.

Pada saat yang sama, di internal Kementerian Keuangan muncul persoalan mengenai mutasi dan perubahan struktur birokrasi.Jika benar terjadi penolakan terhadap mutasi di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, maka persoalannya tidak lagi sekadar pergantian seorang menteri.

Yang dipertaruhkan adalah efektivitas rantai komando institusi fiskal negara.Dalam kondisi seperti itu, Presiden menghadapi pilihan sulit.Mempertahankan seorang menteri yang sedang melakukan langkah agresif untuk membersihkan internal kementerian mungkin dianggap penting dari sisi pemberantasan kebocoran.

Tetapi di sisi lain, Presiden juga harus memastikan institusi tetap berjalan, pasar tetap percaya, dan rantai komando birokrasi tidak mengalami kelumpuhan.Itulah sebabnya pergantian menteri tidak selalu dapat dibaca hanya dari satu sisi.

Apakah pergantian Purbaya merupakan langkah darurat?

Jika perspektif tersebut digunakan, pergantian Purbaya dapat dibaca sebagai langkah untuk mengendalikan risiko yang lebih luas.Bukan semata-mata karena persoalan personal.Bukan pula otomatis berarti pemerintah menghentikan pemberantasan kebocoran pajak.

Presiden bisa saja sedang berusaha menata kembali keseimbangan antara pemberantasan kebocoran, stabilitas pasar, kesinambungan birokrasi, dan kepercayaan investor.Dalam konteks seperti itu, penunjukan Suahasil Nazara dipandang sebagai pilihan yang menekankan pendekatan teknokratis dan stabilitas.

Karakter yang lebih tenang dan pengalaman birokrasi dapat digunakan untuk memulihkan koordinasi internal serta menjaga kepercayaan pasar.Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata siapa yang lebih hebat antara Purbaya dan Suahasil.

Yang jauh lebih penting adalah apakah agenda reformasi dan pemberantasan kebocoran penerimaan negara tetap berjalan setelah pergantian tersebut.Jangan habiskan energi untuk saling mencaci

Purbaya tetap patut diapresiasi apabila keberaniannya membongkar persoalan perpajakan memang didukung data dan bukti.Keberanian seorang pejabat untuk mengungkap persoalan internal merupakan sesuatu yang penting dalam pemerintahan.

Namun penghormatan terhadap Purbaya tidak harus diterjemahkan menjadi tuduhan bahwa Presiden pasti salah ketika menggantinya.Demikian pula pergantian menteri tidak boleh otomatis dimaknai bahwa seluruh agenda pemberantasan kebocoran dihentikan.Publik perlu melihat hasil akhirnya.

Apakah pemeriksaan terhadap perusahaan-perusahaan yang diduga bermasalah benar-benar dilanjutkan?. Apakah kebocoran penerimaan negara dapat ditutup?. Apakah reformasi di Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai terus berjalan?. Apakah sistem pengawasan ekspor dan devisa benar-benar diperkuat?. Dan apakah DSI mampu membuktikan manfaatnya bagi kepentingan negara?

Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar perang komentar di media sosial.Yang harus dikawal adalah agenda, bukan figure. Indonesia tidak membutuhkan pertentangan antara kubu "Purbaya" dan kubu "Suahasil".Yang dibutuhkan adalah konsistensi kebijakan.

Jika memang terdapat dugaan kebocoran pajak dari puluhan perusahaan baja, maka pemeriksaan harus dilanjutkan.Jika terdapat indikasi pelanggaran, aparat penegak hukum harus memprosesnya sesuai ketentuan.Jika ditemukan kelemahan dalam sistem perpajakan, sistem tersebut harus diperbaiki.Jika terdapat dugaan kebocoran devisa melalui under-invoicing, negara harus membangun mekanisme pengawasan yang mampu mendeteksinya.

Dan jika DSI memang dirancang untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional, implementasinya harus transparan dan dapat diawasi publik.Dengan demikian, pergantian seorang menteri tidak boleh menjadi alasan bagi agenda reformasi untuk berhenti.Justru sebaliknya, pergantian kepemimpinan harus menjadi momentum untuk memastikan agenda tersebut berjalan lebih sistematis.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan adalah kedaulatan ekonomi. Perdebatan mengenai Purbaya dan Suahasil seharusnya tidak mengalihkan perhatian publik dari persoalan yang lebih besar.Indonesia sedang menghadapi tekanan ekonomi global.Indonesia sedang berhadapan dengan persaingan geopolitik.

Indonesia juga masih menghadapi persoalan klasik berupa kebocoran penerimaan, lemahnya pengawasan perdagangan, serta potensi keluarnya devisa secara ilegal.Karena itu, energi bangsa seharusnya tidak habis untuk saling mencaci.Yang harus dikawal adalah kebijakannya.Yang harus diawasi adalah anggarannya.Yang harus diperiksa adalah datanya.Dan yang harus dibuktikan adalah setiap dugaan pelanggaran.

Jika audit menunjukkan adanya kebocoran, tindak lanjuti.Jika pemeriksaan menemukan pelanggaran, proses secara hukum.Jika kebijakan pemerintah terbukti efektif, pertahankan dan perkuat.Jika ternyata tidak efektif, koreksi.Itulah cara membangun negara yang kuat.Bukan dengan kultus individu.Bukan pula dengan kebencian terhadap individu.

Tetapi dengan memastikan bahwa kepentingan negara selalu berada di atas kepentingan kelompok maupun pribadi.Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar Purbaya versus Suahasil.Bukan pula Presiden versus Menteri.

Yang sesungguhnya dipertaruhkan adalah kemampuan Indonesia menjaga kedaulatan ekonominya di tengah tekanan global sekaligus membersihkan kebocoran dari dalam negeri.Karena itu, publik harus tetap kritis.Kejaksaan dan lembaga audit harus bekerja berdasarkan bukti.Kementerian Keuangan harus menjaga integritas.Pemerintah harus transparan.

Dan seluruh agenda reformasi fiskal harus dikawal.Jangan berhenti pada pergantian orang. Kawal perubahan sistemnya.Bongkar kebocorannya.Jaga devisanya. Dan pastikan setiap rupiah yang menjadi hak negara benar-benar kembali untuk kepentingan rakyat.Semoga Allah menjaga Indonesia, menjaga para pemimpinnya, dan memberi kekuatan kepada setiap orang yang bekerja untuk kepentingan bangsa dan negara.

 

(Warta Wartawati\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar