BRIN Beber Fase Anak Krakatau, Masih Jauh dari Letusan Dahsyat 1883

Senin, 14/09/2026 14:30 WIB
Situasi Foto Udara Gunung Anak Krakatau, Ahad (6/9). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyampaikan bahwa episode erupsi tersebut telah berakhir, namun tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga). (KESDM)

Situasi Foto Udara Gunung Anak Krakatau, Ahad (6/9). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyampaikan bahwa episode erupsi tersebut telah berakhir, namun tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga). (KESDM)

law-justice.co - Anak Krakatau tetap memiliki kemungkinan mengalami erupsi besar dalam evolusi jangka panjangnya. Namun, penelitian awal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan gunung api tersebut saat ini masih berada cukup jauh dari fase yang dapat menghasilkan caldera-forming eruption atau letusan pembentuk kaldera.

Hal tersebut disampaikan Dr Aditya Pratama dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN dalam pemaparannya mengenai perkembangan sistem magma Krakatau di webinar bertajuk `Karakteristik Vulkanik Gunung Api Krakatau: Sistem Magmatik, Sejarah Evolusi, dan Pemantauan Tsunami Real-time`, Senin (14/9/2026).

Riset tim peneliti mencoba menjawab pertanyaan yang sempat ramai, apakah Anak Krakatau dapat mengalami letusan dahsyat seperti peristiwa Krakatau 1883?

Untuk menjawabnya, peneliti membandingkan karakteristik magma dan kondisi dapur magma dari berbagai periode perkembangan Krakatau. Mereka menggunakan sampel batuan dari periode Old Krakatau, Young Krakatau, hingga Anak Krakatau, serta melakukan sejumlah analisis terhadap sampel tersebut.

Menurut Aditya, gunung api yang dalam sejarahnya mengalami caldera-forming eruption umumnya melalui sejumlah fase perkembangan, mulai dari incubation, maturation, fermentation, hingga akhirnya mencapai letusan pembentuk kaldera.

Salah satu perbedaannya dapat dilihat dari kondisi dapur magma. Pada fase awal atau incubation, reservoir magma besar cenderung berada lebih dalam, sementara di bagian dangkal terdapat kantong-kantong magma berukuran kecil. Seiring perkembangan menuju fase berikutnya, kantong magma dangkal tersebut dapat berkembang menjadi reservoir yang lebih besar.

Karakteristik magmanya juga mengalami perubahan. Aditya menjelaskan, pada fase awal magma cenderung lebih mafik (magnesium dan fik) atau basaltik. Menjelang fase fermentation, magma mulai berevolusi dan menjadi lebih felsik, dengan kandungan SO2 (sulfur dioksida) yang meningkat.

"Kalau kita melihat saat ini, ada kecenderungan letusan di Krakatau itu frekuensinya cukup sering, tapi dengan intensitas yang relatif lebih kecil," jelas Aditya.

Menurutnya, pola tersebut dapat menjadi salah satu ciri fase awal. "Menjelang ke fermentation, letusan itu sudah semakin sedikit, sehingga nantinya akan terjadi caldera-forming eruption, letusan yang sangat besar," ujarnya.

Anak Krakatau Masih Fase Awal

Berdasarkan karakteristik magma dan kondisi bawah permukaan yang dianalisis, tim kemudian mencoba menentukan posisi Anak Krakatau dalam siklus tersebut.

Hasil sementara menunjukkan Anak Krakatau masih berada pada fase inkubasi. "Pada Anak (Krakatau), ini diperkirakan masih pada fase inkubasi," ujar Aditya.

Ia menegaskan posisi tersebut belum menunjukkan bahwa Anak Krakatau sedang mendekati letusan pembentuk kaldera. "Masih cukup jauh untuk menuju ke fase fermentation sebelum terjadinya caldera-forming eruption," katanya.

Meski begitu, Aditya mengatakan evolusi sistem magma tetap dapat berlangsung. Dalam jangka panjang, magma dapat mengalami diferensiasi dan membentuk kantong-kantong magma di kedalaman dangkal yang kemudian berkembang menjadi reservoir lebih besar.

Proses tersebut secara teoritis dapat memungkinkan terjadinya kondisi yang menyerupai peristiwa 1883. Namun, Aditya menekankan adanya jarak yang masih cukup jauh antara kondisi Anak Krakatau saat ini dan fase tersebut.

"Ke depan, tadi sempat di-mention juga ada potensi memang masih sama seperti yang dialami oleh `ayah ibunya` (Gunung Krakatau), terjadi caldera-forming eruption," katanya.

"Tapi memang dari segi karakteristik kalau kita lihat sekarang masih relatif cukup jauh untuk menuju arah itu," lanjut Aditya.

Temuan tersebut merupakan bagian dari penelitian yang masih berjalan. Aditya menyebut riset ini masih bersifat preliminary research karena sejumlah sampel dan data masih terus dianalisis untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.

Karena itu, hasil penelitian tersebut bukan prediksi kapan Anak Krakatau akan meletus, apalagi kepastian bahwa letusan besar akan terjadi. Fokus penelitian adalah memahami perubahan sistem magma Krakatau dan posisinya dalam siklus pembentukan kaldera.

Dalam kesimpulannya, Aditya menyebut Anak Krakatau saat ini berada pada fase inkubasi berdasarkan komposisi magma dan karakteristik kondisi bawah permukaannya.

"Anak Krakatau ada di fase inkubasi," ujarnya, seraya menambahkan bahwa potensi menuju caldera-forming eruption tetap ada dalam perkembangan ke depan, tetapi kondisinya saat ini masih relatif jauh dari arah tersebut.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar