Jepang Siapkan Tiga Helikopter Bantu Atasi Karhutla di Indonesia

Sabtu, 29/08/2026 21:33 WIB
Ilustrasi: Satgas Kebakaran Lakukan Pemadaman Kebakaran Hutan di Riau. (act.co.id)

Ilustrasi: Satgas Kebakaran Lakukan Pemadaman Kebakaran Hutan di Riau. (act.co.id)

[INTRO]

Pemerintah Jepang menyiapkan tiga helikopter untuk membantu Indonesia menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satu helikopter yang akan dikerahkan berjenis Chinook, yang diharapkan memperkuat operasi pemadaman melalui udara.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan mengatakan persiapan bantuan tersebut telah dibahas dalam rapat persiapan site survey pada Jumat, 28 Agustus 2026. “Sudah dapat berita bahwa telah dilaksanakan rapat persiapan site survey dalam rangka perbantuan Jepang, dalam hal ini karhutla,” kata Berton dalam keterangannya, Sabtu (29/8) sebagaimana dikutip Kompas.

Menurut Berton, tiga helikopter tersebut direncanakan mulai menjalankan misi pemadaman pada 10 September 2026. Kehadiran helikopter, khususnya Chinook, diharapkan meningkatkan kapasitas pengambilan dan distribusi air untuk operasi water bombing. “Kami mendapat informasi bahwa akan ada bantuan Jepang meliputi tiga unit helikopter yang di antaranya Chinook. Jadi ini akan mungkin lebih banyak air yang akan diambil,” ujarnya.

Di tengah penanganan karhutla, BNPB saat ini mengerahkan 52 armada udara. Sebanyak 14 armada digunakan untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca (OMC), sementara 38 armada lainnya diperuntukkan bagi operasi water bombing. Dari 38 armada water bombing tersebut, dua unit telah dikirim ke Lampung dan Jawa Timur untuk membantu pemadaman karhutla.

Berton menyebut satgas udara hingga kini telah menjatuhkan sekitar 3,5 juta liter air melalui operasi water bombing di enam provinsi terdampak.“Satgas udara dengan metode water bombing sudah mendistribusikan atau menjatuhkan air sampai 3,5 juta liter air di enam provinsi ini,” katanya.

Menurut dia, jumlah dan penempatan armada udara bersifat dinamis. Pesawat atau helikopter dapat dialihkan ke wilayah lain berdasarkan perkembangan titik api dan kondisi asap. “Ketika misalnya di Sumatera bagian Selatan sudah lebih menurun, tentu pesawat yang di sini juga dapat digunakan nanti di Jambi ketika di sana apinya atau asapnya lebih banyak,” kata Berton.

Dengan tambahan dukungan dari Jepang, pemerintah berharap operasi pemadaman dari udara dapat diperkuat, terutama di wilayah yang mengalami peningkatan aktivitas karhutla.

(Bandot DM\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar