Banjir Bandang Nepal Bukan Akibat Perubahan Iklim, Peneliti Mengungkap

Sabtu, 29/08/2026 04:12 WIB
Foto: Banjir bandang di Nepal (REUTERS/Navesh Chitrakar)

Foto: Banjir bandang di Nepal (REUTERS/Navesh Chitrakar)

[INTRO]

Banjir bandang yang melanda Nepal dan menewaskan ratusan orang serta menyebabkan lebih dari 1.400 orang dilaporkan hilang belum dapat dipastikan hanya disebabkan oleh perubahan iklim. 

Para peneliti masih mengumpulkan dan menganalisis berbagai data, termasuk citra satelit serta informasi dari sumber lainnya. Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga beberapa bulan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai penyebab bencana.

Profesor Geomorfologi Terapan dari Newcastle University, Inggris, Stuart Dunning, mengingatkan agar bencana tersebut tidak langsung dikaitkan dengan satu faktor.

Menurutnya, kejadian tersebut kemungkinan merupakan hasil dari kombinasi sejumlah faktor dalam jangka panjang dan kondisi cuaca dalam waktu singkat. Salah satu faktor yang sedang diperhatikan adalah tingginya pencairan salju dalam beberapa hari sebelum bencana.

Perubahan iklim memang meningkatkan suhu di kawasan Himalaya dan turut memengaruhi kondisi gletser serta lingkungan pegunungan. Namun, hubungan langsung antara perubahan iklim dan banjir bandang kali ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Salah satu dugaan awal yang sempat muncul adalah Glacial Lake Outburst Flood (GLOF) atau banjir akibat jebolnya danau gletser. Pemanasan global telah menyebabkan terbentuknya ribuan danau gletser di kawasan Himalaya.

Danau-danau tersebut dapat menjadi ancaman apabila material seperti longsoran salju atau batuan jatuh ke dalamnya. Tekanan yang dihasilkan dapat menyebabkan tanggul alami jebol dan mengalirkan air dalam jumlah besar ke wilayah di bawahnya.

Namun, dugaan tersebut mulai dipertanyakan setelah analisis awal citra satelit menunjukkan tidak adanya danau gletser yang meluap dalam peristiwa terbaru tersebut.

Direktur Program Keberlanjutan di University of Dayton, Umesh K. Haritashya, mengatakan perhatian terhadap bahaya di pegunungan Himalaya tidak seharusnya hanya terfokus pada GLOF.

Menurutnya, terdapat ancaman lain di kawasan pegunungan yang perlu dipahami lebih baik oleh para ilmuwan dan pembuat kebijakan, terutama setelah terjadinya bencana tersebut.

Sistem Peringatan Dini Punya Keterbatasan

Nepal sebenarnya telah memiliki sistem pemantauan untuk mengantisipasi sejumlah bencana hidrologi. Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal mengoperasikan sensor serta alat pengukur untuk memantau ketinggian air di beberapa danau gletser dan sungai yang terhubung.

Sistem tersebut dirancang untuk memberikan peringatan kepada masyarakat di wilayah hilir apabila terdapat indikasi potensi luapan.

Namun, Austin Lord, Senior Fellow Program Energi, Air, dan Keberlanjutan di Stimson Center, menilai sistem tersebut belum tentu mampu mendeteksi seluruh jenis ancaman yang muncul di kawasan pegunungan.

Bencana terbaru di Nepal menunjukkan bahwa risiko hidrologi di Himalaya semakin kompleks. Karena itu, selain memperkuat sistem peringatan dini, diperlukan penelitian lebih mendalam mengenai pencairan salju, longsor, perubahan kondisi tanah, permafrost, serta perubahan pola cuaca.

Dengan demikian, penyebab banjir bandang Nepal belum dapat disederhanakan sebagai dampak perubahan iklim semata. Kombinasi berbagai faktor alam dan kondisi jangka pendek kemungkinan memainkan peran dalam memperparah bencana tersebut.

 
 
 
 

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar