Harga Emas Bisa Melejit, Ramalan Jangka Panjang Tembus Rp25 Juta /Grm

Minggu, 23/08/2026 15:18 WIB
Harga Emas Bisa Melejit, Ramalan Jangka Panjang Tembus Rp25 Juta /Grm   foto penggadaian

Harga Emas Bisa Melejit, Ramalan Jangka Panjang Tembus Rp25 Juta /Grm foto penggadaian

law-justice.co - Harga emas diperkirakan akan jauh melampaui level harga saat ini.  Harga emas dunia dinilai masih memiliki potensi kenaikan yang sangat besar dalam jangka panjang. Salah satu proyeksi datang dari Ketua Electrum Group, Thomas Kaplan, yang memperkirakan harga emas dapat mencapai US$30.000 hingga US$50.000 per troy ounce.  Namun, nilai dalam rupiah tetap sangat bergantung pada pergerakan kurs dolar AS terhadap rupiah. Jika proyeksi tersebut benar-benar terealisasi,

Dengan menggunakan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS, harga emas US$30.000 per troy ounce setara dengan sekitar Rp15,4 juta per gram. Sementara itu, apabila harga mencapai US$50.000 per troy ounce, nilainya sekitar Rp25,6 juta per gram.

Perhitungan tersebut menggunakan konversi 1 troy ounce = 31,1035 gram. Karena itu, proyeksi emas US$50.000 per troy ounce belum tepat jika langsung disebut setara Rp28 juta per gram, kecuali menggunakan asumsi nilai tukar rupiah yang lebih tinggi.

Proyeksi Kaplan tersebut tentu masih berupa perkiraan jangka panjang, bukan kepastian bahwa harga emas akan mencapai level tersebut. Harga emas nantinya tetap dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral, pergerakan dolar AS, inflasi, pembelian emas oleh bank sentral, hingga kondisi geopolitik global.

Dengan demikian, jika emas benar-benar menuju US$50.000 per troy ounce, dampaknya terhadap pasar komoditas akan sangat besar. Namun, bagi investor di Indonesia, harga emas dalam rupiah tidak hanya ditentukan oleh harga emas dunia, tetapi juga oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kaplan menyampaikan remalan tersebut dalam wawancara dengan Kitco News pada Kamis. Dia menilai kenaikan harga emas hingga 10 kali lipat dari level saat ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan sesuatu yang tidak terhindarkan.

"Melihat emas naik 10 kali lipat lagi dari sini, bagi saya bukan hanya mungkin, tetapi tidak terhindarkan," ujar Kaplan, mengutip Kitco, Sabtu (22/8/2026). Dia kemudian memperkirakan harga emas dapat mencapai US$30.000, US$40.000, bahkan US$50.000 per troy ounce.

"Saya bisa melihat emas mencapai US$30.000, US$40.000, US$50.000 tanpa masalah," katanya.

Sebagai gambaran, harga emas berada di sekitar US$4.515 per troy ounce pada Kamis sore. Dengan level tersebut, target US$50.000 berarti harga emas berpotensi naik lebih dari 10 kali lipat.

Namun, Kaplan tidak memberikan batas waktu untuk mencapai target tersebut. Dia juga mengaku tidak mengetahui apakah koreksi harga emas yang sedang berlangsung akan berlanjut atau sudah mencapai titik terendah.

"Mungkin sudah, mungkin masih perlu menguji lagi, saya tidak tahu," ujarnya.

Menurut Kaplan, ketidakpastian dalam jangka pendek tidak mengubah pandangannya terhadap prospek emas dan perak dalam jangka menengah dan panjang.

"Itu tidak penting, karena dalam jangka panjang, bahkan jangka menengah, emas dan perak akan berlipat ganda dari level saat ini," katanya.

Penyebab Kenaikan Harga Emas
Secara historis, nilai emas cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Namun, perlu dipahami bahwa peningkatan harga emas tidak serta merta terjadi. Berikut ini adalah beberapa faktor penyebab harga emas naik:

1. Inflasi
Laju inflasi menjadi salah satu alasan mengapa harga emas meningkat. Ketika inflasi terjadi, nilai mata uang cenderung mengalami penyusutan. Masyarakat akan menjadi enggan untuk menyimpan uangnya di lembaga keuangan sehingga menurunkan daya beli. Pada kondisi ini, emas adalah opsi investasi yang menarik.

Berkebalikan dengan nilai mata uang, nilai emas tidak mengalami penyusutan. Bahkan, harganya turut naik seiring meningkatnya harga barang dan jasa.

2. Permintaan Fisik yang Meningkat
Permintaan terhadap emas fisik, terutama di industri teknologi dan perhiasan, terbilang cukup stabil sekaligus konsisten. Pada konteks ini, emas merupakan bagian dari komposisi produk elektronik.
Selain itu, emas memiliki nilai budaya tinggi di India dan China karena kerap digunakan sebagai perhiasan atau hadiah pernikahan.
Permintaan yang tinggi dari kedua sektor industri tersebut mampu membuat harga emas mengalami kenaikan.

3. Penurunan Pasokan Emas
Saat ini, sumber daya emas terbatas sehingga proses penambangannya pun dirasa semakin sulit. Mengingat tidak ada yang diproduksi, pasokan emas dapat mengalami penurunan.
Akibatnya, persediaan emas tidak cukup untuk memenuhi tingginya permintaan pasar. Kondisi ini membuat peningkatan harga emas terus terjadi.

4. Kebijakan Moneter The Fed
Penurunan maupun peningkatan harga emas dipengaruhi oleh kebijakan moneter dari The Fed, yaitu naik dan turunnya suku bunga acuan.
Apabila suku bunga acuan The Fed diturunkan, nilai dolar AS (Amerika Serikat) dapat mengalami penurunan sehingga cenderung tidak menarik di mata investor
Sebaliknya, harga emas akan naik karena para investor terdorong untuk menempatkan dananya dalam bentuk emas yang merupakan safe haven. Alhasil, permintaannya di pasaran semakin meninggi.

5. Ketidakpastian Ekonomi dan Geopolitik
Fluktuasi harga emas juga bergantung pada kondisi ekonomi dan geopolitik global. Ketika terjadi krisis, resesi, atau perang, para investor cenderung menghindari instrumen yang berisiko.
Investor biasanya beralih ke aset yang dinilai lebih low risk, seperti emas. Nilai emas yang dapat bertahan di tengah gejolak berguna untuk melindungi kekayaan para investor.

6. Nilai Tukar Mata Uang
Secara umum, tren kenaikan harga emas merujuk pada harga emas secara internasional yang dikonversi dari mata uang dolar AS ke rupiah.
Jika nilai tukar dolar AS melemah, maka harga emas akan naik sebab emas menjadi lebih terjangkau bagi para investor dari luar negeri.

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar