Harusnya Horor: Debut Reza Arap yang Membuktikan Horor Bisa Lebih Lucu
Film Harusnya Horor - Sumber Foto: Istimewa/ Law-Justice.Co
Film Harusnya Horor debut sutradara Reza Arap meraih 129.175 penonton di hari pertama penayangan 20 Agustus 2026. Karya komedi fantasi ini mengisahkan hantu wibu yang harus menakuti 100.000 orang demi menonton episode terakhir anime favoritnya.
Industri film Indonesia kembali mendapat angin segar lewat karya yang tidak mengikuti formula horor konvensional. Harusnya Horor, yang diproduksi Ess Jay Pictures bersama AAA Clan, Marapthon, dan sejumlah mitra, hadir dengan premis yang segar sekaligus relevan dengan budaya digital masa kini. Alih-alih mengandalkan jumpscare dan suasana mencekam, film ini justru menonjolkan komedi absurd, referensi anime, serta dinamika kehidupan kreator konten.
Hantu yang Takut pada Manusia
Cerita berpusat pada Mas (Reza Oktovian), seorang pekerja kantoran sekaligus penggemar anime sejati atau yang akrab disebut wibu. Ia meninggal secara mendadak dalam keadaan penasaran karena belum sempat menonton episode terakhir serial favoritnya. Di alam baka, Mas mendapat tugas khusus: kembali ke dunia manusia dan berhasil menakuti 100.000 orang dalam waktu terbatas. Jika berhasil, ia berhak menamatkan anime tersebut.
Masalahnya, Mas sama sekali tidak menyeramkan. Parasnya yang biasa saja, bahkan cenderung lucu, membuat upaya menakut-nakuti manusia selalu gagal. Ia justru sering merasa takut terhadap manusia. Di tengah kebingungan itu, Mas bertemu sekelompok kreator konten yang sedang kesulitan finansial. Kelompok yang dipimpin Kevin atau Jot (Tierison) ini terdiri dari Gea (Lula Lahfah), Kenzo (Garry Ang), Cipuy (Yukatheo), dan beberapa anggota AAA Clan lainnya.
Mereka melihat kehadiran Mas sebagai peluang emas. Dengan menjadikan Mas sebagai “talent” dalam konten horor, kelompok ini berharap bisa menciptakan video yang viral dan menghasilkan keuntungan. Sementara Mas memanfaatkan kerja sama tersebut untuk memenuhi target menakuti 100.000 orang. Kolaborasi yang awalnya bersifat transaksional perlahan berkembang menjadi hubungan persahabatan yang penuh konflik, tawa, dan keputusan sulit.
Harusnya Horor menandai debut Reza Oktovian atau Reza Arap sebagai sutradara film panjang. YouTuber dan musisi yang dikenal lewat komunitas AAA Clan ini juga berperan sebagai pemeran utama. Ia mengakui bahwa proyek ini menjadi sarana eksplorasi kemampuan baru, baik bagi dirinya maupun rekan-rekan kreator digital yang terlibat.
Proses produksi melibatkan penulis skenario Rahabi Mandra dan Syahrun Ramadhan. Syuting dilakukan dengan melibatkan banyak wajah familiar dari dunia konten digital, termasuk King Aloy, Bravy, Niko Junius, Ibot, dan Tepe. Kehadiran mereka memberikan nuansa autentik tentang kehidupan kreator konten yang sering kali harus berjuang demi views dan monetisasi.
Film ini juga menjadi karya layar lebar terakhir mendiang Lula Lahfah, yang berperan sebagai Gea. Syuting telah selesai sebelum ia berpulang pada Januari 2026. Tim produksi memilih tidak menjadikan kepergiannya sebagai bahan promosi utama, melainkan menghargai kontribusinya sebagai bagian dari karya yang abadi. Penampilan Lula memberikan sentuhan emosional yang menyeimbangkan dominasi komedi dalam film.
Antusiasme Penonton dan Performa Hari Pertama
Harusnya Horor resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026. Pada hari pertama, film ini mencatatkan sekitar 129.175 penonton menurut data yang dibagikan tim produksi. Angka tersebut menempatkannya di posisi teratas perolehan penonton harian saat itu. Antusiasme publik bahkan membuat jumlah layar ditambah dari sekitar 2.000 menjadi lebih dari 2.300 layar.
Sebelum penayangan resmi, film ini sudah menarik perhatian lewat special screening di sejumlah kota, termasuk Semarang, Yogyakarta, Bandung, dan Solo. Tiket di beberapa lokasi tersebut dilaporkan sold out. Penonton memberikan respons beragam, mulai dari tawa yang meledak-ledak hingga momen haru di bagian akhir cerita.
Reza Arap sebelumnya sempat menyebutkan target ambisius 4,3 juta penonton, meskipun kemudian menjelaskan bahwa angka tersebut disampaikan dengan nuansa candaan. Ia menegaskan harapan agar film debutnya setidaknya mampu menembus satu juta penonton. Target tersebut mencerminkan optimisme sekaligus tekanan yang dihadapi kreator digital saat memasuki industri film formal.
Meskipun judulnya mengandung kata “horor”, film ini secara sadar bermain dengan ekspektasi penonton. Adegan-adegan yang seharusnya menegangkan justru diisi dengan dialog absurd dan situasi kocak. Salah satu momen yang banyak dibicarakan adalah dialog yang memecah ketegangan dengan referensi waktu ibadah, yang berhasil membuat penonton tertawa di tengah suasana “horor”.
Unsur fantasi dan budaya populer Jepang menjadi daya tarik tersendiri. Referensi anime tidak sekadar ditempelkan, melainkan menjadi motivasi utama tokoh utama. Di sisi lain, film ini menyoroti realitas kehidupan content creator di era digital: tekanan algoritma, kebutuhan konten viral, serta hubungan antar individu yang terbentuk di balik layar.
Beberapa resensi mencatat bahwa premis yang segar ini terasa lebih kuat jika dikemas dalam format yang lebih padat. Durasi sekitar 106 menit dianggap memberikan ruang yang cukup untuk pengembangan karakter, meski tempo komedi di beberapa bagian dinilai bisa lebih terjaga. Meski demikian, identitas film yang khas—campuran internet culture, humor lokal, dan sentuhan emosional—membuatnya memiliki kepribadian tersendiri di tengah lautan film horor Indonesia yang cenderung formulaik.
Genre horor sudah lama mendominasi produksi film nasional. Data menunjukkan proporsi film horor yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Banyak karya mengandalkan formula yang sudah terbukti laris di box office: suasana mencekam, makhluk supranatural lokal, dan kejutan visual. Harusnya Horor hadir sebagai alternatif yang berani membalik ekspektasi tersebut.
Dengan membawa ekosistem kreator digital ke layar lebar, film ini juga menjadi contoh bagaimana industri film dan konten digital saling mendekat. Kolaborasi antara rumah produksi mapan dan komunitas internet membuka peluang bagi talenta baru yang sebelumnya lebih dikenal di platform streaming dan media sosial.
Nilai yang Ditawarkan Harusnya Horor kepada Penonton
Harusnya Horor tidak hanya menawarkan tawa. Di balik lelucon dan situasi absurd, film ini menyentuh tema persahabatan, penerimaan diri, serta pilihan antara ambisi pribadi dan orang-orang terdekat. Mas, yang awalnya hanya fokus pada misi menakuti orang demi anime, dihadapkan pada keputusan yang lebih besar.
Bagi penonton yang akrab dengan dunia konten digital, film ini terasa dekat. Bagi pecinta genre fantasi dan komedi, ia menawarkan hiburan yang ringan namun tidak kosong. Sementara bagi mereka yang mencari pengalaman berbeda dari film horor biasa, judul Harusnya Horor sendiri sudah menjadi pernyataan: film ini memang seharusnya horor, tapi justru memilih jalur lain.
Hingga beberapa hari setelah rilis, film ini masih menarik perhatian publik. Penambahan jumlah layar dan respons positif di media sosial menunjukkan bahwa premis unik serta keterlibatan komunitas digital berhasil menarik minat. Reza Arap sendiri menyatakan akan melihat dulu sambutan penonton sebelum memutuskan langkah berikutnya, apakah melanjutkan dengan sekuel atau karya yang berbeda.
Harusnya Horor membuktikan bahwa debut sutradara dari kalangan kreator digital bisa menghadirkan warna baru. Dengan menggabungkan elemen horor, komedi, fantasi, dan refleksi tentang kehidupan konten kreator, film ini memberikan pengalaman menonton yang berbeda. Di tengah industri yang sering mengulang formula, keberanian untuk bermain dengan ekspektasi penonton menjadi nilai yang patut diapresiasi.
Film yang mengangkat kisah hantu wibu, kreator konten yang sedang berjuang, dan persahabatan tak terduga ini kini bisa disaksikan di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia. Bagi yang mencari hiburan yang mengocok perut sekaligus menyentuh, Harusnya Horor layak dipertimbangkan sebagai pilihan akhir pekan.

Komentar