Ustaz Budi Ashari: Pemimpin Zalim Selalu Takut Kehilangan Posisi

Senin, 10/08/2026 12:07 WIB
Ilustrasi Pakaian Dinas Mewah. (Liputan6).

Ilustrasi Pakaian Dinas Mewah. (Liputan6).

law-justice.co - Pendakwah yang juga merupakan Sejarawan Islam, Ustaz Budi Ashari mengungkapkan bahwa pola perilaku para pemimpin yang menolak kebenaran selalu sama di sepanjang zaman, yakni didorong oleh rasa takut kehilangan posisi.

Pernyataan itu dia sampaikan dalam kajian bertajuk parenting dan kepemimpinan dalam Alquran yang tayang di kanal YouTube “Markas Hikayat” pada Jumat (7/8/2026).

Dalam kajian tersebut, Budi Ashari mengurai tiga ayat dari surat Al-A’raf ayat 60, Al-Mukminun ayat 24, dan Hud ayat 27, yang menurutnya merekam bagaimana para pemuka kaum Nabi Nuh AS menolak dakwah sang nabi karena khawatir kehilangan pengaruh.

“POV pemimpin itu selalu sama di semua zaman. Takut kehilangan posisi,” ujar Budi Ashari.

Dia menjelaskan, ketakutan itu muncul karena kehadiran Nabi Nuh dikhawatirkan akan menggeser status para tokoh yang selama itu dipuja masyarakatnya.

“Kalau datang Nuh, masyarakat yang tadinya memuja dia, ngikut Nuh,” katanya, sembari menyebut posisi kepemimpinan sebagai sesuatu yang nikmat untuk dipegang namun berat untuk dilepaskan.

Untuk menggambarkan hal itu, Budi Ashari mengutip sabda Nabi Muhammad SAW soal kekuasaan, yakni “nikmatil murdiah wa bi’sal fatimah”, nikmatnya kekuasaan saat masih digenggam, dan buruknya rasa saat harus dilepaskan. Ia mengibaratkannya seperti bayi yang nikmat ketika masih menyusu, namun merasa berat ketika masa itu berakhir alias disapih.

“Alangkah nikmatnya saat masih nyusu, dan alangkah buruknya saat disapih,” katanya menirukan sabda tersebut, lalu menyamakannya dengan kondisi pejabat yang kehilangan pengaruh setelah purnatugas: dari biasa dipanggil “Komandan” atau “Bos”, menjadi tidak lagi disapa sama sekali.

Budi Ashari menegaskan, kalimat-kalimat penolakan yang dilontarkan para pemuka kaum Nabi Nuh, mulai dari menuduh sesat, meragukan status kenabian, hingga merendahkan pengikutnya, pada dasarnya lahir dari kekhawatiran akan tergesernya status sosial mereka.

“Sebenarnya secara tidak langsung dia bilang, wah ini lawan saya,” ujarnya.

Kajian ini merupakan rangkaian pembahasan tentang parenting dan kepemimpinan dalam Al-Qur’an yang menurut Budi Ashari akan berlanjut ke pembahasan doa Nabi Nuh pada episode berikutnya.

 

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar