Piala Dunia 2026 Untungkan FIFA, Tuan Rumah AS Rugi Rp4,5 T

Rabu, 08/07/2026 18:40 WIB
Simak, Ini Daftar Skuad Lengkap 48 Negara Peserta Piala Dunia 2026. (Istimewa).

Simak, Ini Daftar Skuad Lengkap 48 Negara Peserta Piala Dunia 2026. (Istimewa).

law-justice.co - Piala Dunia diperkirakan bakal menggenjot ekonomi negara tuan rumah lantaran menjadi magnet yang menarik orang datang, tetapi untuk Piala Dunia 2026, Amerika Serikat (AS) dan dua negara lainnya justru diprediksi tekor.

Goldman Sachs memperkirakan ajang sepak bola terbesar di dunia itu akan mendorong penciptaan lapangan kerja, meningkatkan belanja masyarakat, hingga mengerek pertumbuhan ekonomi selama turnamen berlangsung bagi tuan rumah.

Turnamen yang digelar pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 itu akan berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko. Sebanyak 78 pertandingan dimainkan di 11 kota metropolitan AS yang menyumbang sekitar sepertiga produk domestik bruto (PDB) nasional dan hampir seperempat total lapangan kerja di negara tersebut.

Dalam laporannya, Goldman Sachs memperkirakan Piala Dunia akan menciptakan sekitar 40 ribu lapangan kerja tambahan pada Juni, lalu 10 ribu pekerjaan lagi pada Juli. Sebagian besar berasal dari sektor perhotelan, pariwisata, perdagangan ritel, dan transportasi yang diperkirakan kebanjiran permintaan selama turnamen berlangsung.

Namun, efek tersebut diperkirakan hanya berlangsung sementara. Setelah kompetisi berakhir, sekitar 15 ribu pekerjaan temporer diproyeksikan hilang pada Agustus seiring selesainya berbagai aktivitas penyelenggaraan.

Goldman Sachs juga memperkirakan penjualan ritel AS akan terdongkrak 0,3 poin persentase pada Juni dan 0,1 poin persentase pada Juli.

Peningkatan belanja wisatawan domestik maupun mancanegara diperkirakan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi AS sekitar 0,1 poin persentase pada kuartal II 2026 dan 0,05 poin persentase pada kuartal III.

Lonjakan permintaan hotel, restoran, hingga transportasi juga diperkirakan memicu kenaikan inflasi dalam jangka pendek. Inflasi inti AS diproyeksikan naik sekitar 0,03 poin persentase pada Juni sebelum kembali mereda beberapa bulan setelah turnamen usai.

Meski demikian, manfaat ekonomi tersebut diperkirakan tidak dinikmati secara merata.

Melansir berbagai sumber, FIFA selaku penyelenggara Piala Dunia 2026 diproyeksikan mengantongi pendapatan sekitar US$8,9 miliar atau sekitar Rp160,16 triliun (asumsi kurs Rp17.996 per dolar AS).

Sebaliknya, 11 kota tuan rumah di AS justru diperkirakan menghadapi defisit kolektif alias tekor lebih dari US$250 juta atau sekitar Rp4,5 triliun.

Boncosnya tuan rumah itu dipicu perubahan model bisnis FIFA. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA mengelola langsung turnamen, tanpa komite penyelenggara lokal.

Organisasi tersebut menguasai hampir seluruh sumber pendapatan, mulai dari hak siar, sponsor, penjualan tiket, paket hospitality, hingga merchandise.

Sebaliknya, pemerintah kota dan negara bagian menanggung biaya keamanan, transportasi, renovasi stadion, administrasi, hingga penyelenggaraan kawasan fan zone.

Ekonom olahraga dari Smith College Andrew Zimbalist menilai skema tersebut membuat kota penyelenggara berada pada posisi yang tidak menguntungkan.

"Ada biaya yang sangat besar bagi kota-kota tuan rumah yang menggelar 4-8 pertandingan. Menurut saya, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memperoleh keuntungan ekonomi dari Piala Dunia karena mereka tidak mendapatkan pendapatannya, tetapi justru menanggung biayanya," katanya, melansir Fortune.

Kritik serupa disampaikan ekonom olahraga Victor Matheson dari College of the Holy Cross. Menurut dia, sebagian besar uang yang dibelanjakan penonton untuk membeli tiket tidak berputar di ekonomi lokal karena langsung masuk ke kantong FIFA.

"Ketika saya membayar US$400 untuk tiket Piala Dunia, seluruh uang itu masuk ke FIFA. Uang itu tidak masuk ke pelaku usaha lokal, sehingga juga tidak berputar kembali di ekonomi setempat," pungkasnya.

Matheson juga menilai banyak proyeksi dampak ekonomi Piala Dunia terlalu optimistis. Wisatawan Piala Dunia sering kali hanya menggantikan wisatawan reguler yang seharusnya datang pada periode yang sama, sehingga tambahan aktivitas ekonomi tidak sebesar yang digaungkan.

Optimisme terhadap lonjakan wisatawan pun mulai dipertanyakan. Survei American Hotel and Lodging Association menunjukkan sekitar 80 persen hotel di 11 kota tuan rumah melaporkan tingkat pemesanan kamar masih berada di bawah proyeksi awal.

Pelaku industri perhotelan menyebut hambatan visa dan ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu penyebab masih rendahnya kunjungan wisatawan asing.

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian University of Toronto yang menunjukkan 12 dari 14 edisi Piala Dunia terakhir justru menghasilkan kerugian ekonomi bersih bagi wilayah penyelenggara.

Menurut para peneliti, manfaat ekonomi ajang olahraga berskala besar kerap lebih kecil dibanding proyeksi karena sebagian besar pendapatan mengalir ke penyelenggara, sementara biaya tetap ditanggung pemerintah daerah.

(Yudi Rachman\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar