Puan Maharani Minta Jokowi Jaga Suhu Politik Agar Tetap Dingin
Ketua DPR RI Puan Maharani. (Fajarasia)
law-justice.co - Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan (DPP PDIP), Puan Maharani ikut buka suara merespons soal safari politik Presiden ketujuh RI Joko Widodo atau Jokowi ke sejumlah daerah yang telah dimulai di Lampung pada 25-27 Juni lalu.
Ketua DPR RI itu mengatakan kunjungan politik merupakan hak setiap orang, dan karenanya siapapun tidak berhak melarang.
"Safari politik, hak semua warga negara untuk bisa melakukan kunjungan ke mana saja," ujar Puan usai memimpin Paripurna di kompleks parlemen, Selasa (30/6).
Namun, putri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri itu mengingatkan agar siapapun mestinya bisa menjaga kondusifitas di tengah Ketidakpastian politik global saat ini.
"Namun dalam situasi global yang sekarang sedang tidak menentu, alangkah baiknya jika kita sama-sama bisa menjaga situasi untuk bisa tetap kondusif. Artinya jangan kemudian, ya tetap adem aja," ujarnya.
Jokowi memulai safari politiknya di Lampung dengan menjalani ritual adat setempat untuk menerima gelar "Baginda Pemuka Bangsa" yang berlangsung di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6).
Dalam momen itu, Jokowi yang duduk di sebuah kursi lengkap dengan pakaian adat setempat yang dia kenakan, menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah.
Ketua DPP PSI, Bestari Barus memastikan pelaksanaan ritual bukan atas kemauan Jokowi, melainkan masyarakat adat di Lampung sebagai penghargaan atas kontribusi selama menjadi presiden.
"Ritual itu bukan Pak Jokowi buat. Pak Jokowi hanya sebagai orang yang diberikan gelar tersebut," kata Bestari saat dihubungi, Senin (29/6).
Sementara, tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, menjelaskan prosesi pemberian gelar adat atau muakhi telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Lampung sejak ribuan tahun lalu.
"Prosesi pemberian muakhi (gelar adat) ini memang sudah berlangsung ribuan tahun lalu di Lampung. Ini adalah bagian dari penerapan piil pesenggiri, falsafah budaya Lampung yang mengedepankan nemui nyimah atau silaturahmi," ujar Mawardi.




Komentar