Iran Bisa Bikin Pangkalan Militer AS di Timur Tengah seperti Neraka

Minggu, 28/06/2026 21:46 WIB
Perseteruan AS-Iran belum reda (Istimewa)

Perseteruan AS-Iran belum reda (Istimewa)

[INTRO]
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam akan menjadikan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat (AS) sebagai neraka jika terus melanjutkan serangan terhadap negaranya.

Seorang komandan Angkatan Laut IRGC menegaskan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah akan berubah menjadi neraka dalam beberapa hari mendatang.

"Perhitungan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut merupakan masalah terpisah. Mereka akan menghadapi neraka dalam beberapa hari mendatang," kata komandan AL IRGC, seperti dilaporkan stasiun televisi Press TV, Minggu (28/6/2026).

Dia melanjutkan, militernya akan menembak kapal-kapal penyusup yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin. IRGC memperingatkan kapal-kapal lain yang hendak melintasi Selat Hormuz bahwa mereka wajib melapor sebelum melintasi jalur perairan strategis bagi lalu lintas energi dunia itu.

Sebelumnya Iran melancarkan serangan pembalasan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu (28/6/2026) dini hari.

Militer kedua negara terlibat saling serang setelah AS menuduh Iran melanggar nota kesepahaman (MoU) perjanjian damai dengan menyerang kapal kargo di Selat Hormuz pada Kamis (25/6/2026). Iran berdalih kapal kargo yang diserang menggunakan drone pada Kamis maupun pada Sabtu tak mengantongi izin.

Kantor berita Tasnim melaporkan, Angkatan Laut dan Angkatan Udara IRGC melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Tak ada penjelasan rinci mengenai target-target serangan tersebut.

Menurut IRGC, serangan AS ke Iran merupakan pelanggaran gencatan senjata serta bertentangan dengan MoU kedua negara yang diteken Presiden Donald Trump dan Masoud Pezeshkian pada 17 Juni lalu.

Iran juga menegaskan, serangan berkelanjutan militer AS bisa menghentikan proses diplomatik untuk menyelesaikan konflik. AS dan Iran sedang terlibat negosiasi lanjutan untuk mengakhiri konflik secara permanen.

"Pelanggaran gencatan senjata bertentangan dengan ketentuan pertama Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad dan akan menyebabkan penghentian total semua proses diplomatik," bunyi pernyataan IRGC.

(Givary Apriman Z\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar