BI dan Kemenkeu Perkuat Sinergi Jaga Rupiah

Sabtu, 06/06/2026 11:37 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri), Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad (kedua kiri), Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi (kedua kanan), dan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (6/6/2026). (Antara)

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri), Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad (kedua kiri), Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi (kedua kanan), dan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (6/6/2026). (Antara)

[INTRO]

Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan kepercayaan pasar, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan sinergi antara otoritas moneter dan fiskal akan difokuskan pada upaya menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan yang saling mendukung sesuai kewenangan masing-masing.

Menurut Perry, terdapat dua langkah utama yang disepakati dalam penguatan koordinasi tersebut. Pertama, meningkatkan daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik untuk mendorong kembali masuknya aliran modal asing (capital inflow) yang sempat tertekan akibat kenaikan suku bunga global. “Fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil agar aliran modal kembali masuk lebih besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (6/6) sebagaimana dikutip Antaranews.

Ia menjelaskan, tekanan keluarnya modal (capital outflow) terjadi pada sejumlah instrumen keuangan, termasuk pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), seiring meningkatnya tingkat bunga di pasar internasional. Langkah kedua, lanjut Perry, adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Indonesia. Kebijakan tersebut akan disertai peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah. “Dengan demikian, operasi moneter tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskal juga dapat berjalan secara optimal,” katanya.

Perry menegaskan koordinasi yang selama ini telah terjalin erat antara BI dan Kemenkeu akan terus diperkuat secara berkelanjutan guna menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah berbagai tantangan global. “Kami sepakat untuk terus memperkuat koordinasi fiskal dan moneter agar saling mendukung dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan pemerintah mendukung penuh penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter agar dampaknya terhadap perekonomian menjadi lebih efektif. “Kita akan mendukung bank sentral dan memperkuat koordinasi agar kebijakan semakin sinkron sehingga dampak kebijakan moneter dan fiskal terhadap perekonomian menjadi lebih signifikan,” kata Purbaya.

Pemerintah dan BI berharap sinkronisasi kebijakan tersebut dapat meningkatkan kepercayaan pelaku pasar, memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

(Bandot DM\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar