Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur COMPOSE
Pakistan Mediator Peradaban Iran Menghadapi Ambisi Amerika Serikat
Ridwan al-Makassary, Dosen dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.
Ketika ultimatum Trump untuk “memusnahkan peradaban Iran dalam satu malam” pada Selasa 7 April 2026 bergema dalam retorika kekuatan, dunia nyaris menyaksikan satu babak baru dari barbarisme modern, yaitu kehancuran yang dilegitimasi atas nama keamanan dan stabilitas. Namun, justru di tubir jurang kehancuran peradaban akibat perang tersebut, sebuah negara yang acap dianggap pinggiran, yaitu Pakistan terbit sebagai penyelamat dunia. Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, yang berhasil meyakinkan Iran dan Amerika Serikat, sebagai mediator perdamaian, untuk jeda (gencatan senjata) dan negosiasi diplomatik.
Secara geografis, Pakistan berbatasan langsung dengan Iran. Secara geopolitik, ia memiliki hubungan panjang, yang acap mesra, acap penuh kecurigaan, dengan Amerika Serikat. Di saat yang sama, ia juga terikat secara strategis dengan negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi. Kombinasi ini menciptakan posisi Pakistan yang unik, yaitu cukup dekat dengan semua pihak, tetapi tidak sepenuhnya dipercaya oleh siapa pun.
Pakistan tidak pernah benar-benar netral. Ia memiliki kepentingan untuk stabilitas kawasan, keamanan energi, dan kelangsungan ekonominya sendiri. Namun, justru kesadaran akan kepentingan itu membuatnya bertindak lebih realistis. Ia tidak menjual idealisme kosong, melainkan menawarkan jalan keluar yang masuk akal bagi semua pihak yang bertikai.
Dalam beberapa minggu terakhir, Islamabad bergerak cepat. Ia menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan, mengirim pesan bolak-balik antara Teheran dan Washington, bahkan mengusulkan skema konkret seperti gencatan senjata dua minggu dan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai langkah awal membangun kepercayaan.
Dalam praktiknya, Islamabad memainkan dua wajah sekaligus. Kepada Washington, ia berbicara dalam bahasa stabilitas global dan risiko ekonomi yang parah. Kepada Teheran, ia menyampaikan pesan tentang martabat dan kesempatan untuk menghindari kehancuran peradaban total. Di antara dua bahasa itu, Pakistan menjadi penerjemah yang bukan hanya kata, tetapi juga niat dan ketakutan.
Perang Iran 2026 bukan sekadar konflik militer, melainkan juga pertarungan narasi antara dominasi dan martabat. Amerika Serikat, dengan superioritas militernya, bersiap melangkah lebih jauh dari sekadar tekanan strategis. Iran, dengan sejarah panjang perlawanan, menolak tunduk meski di bawah bayang-bayang kehancuran peradabannya. Di antara keduanya, dunia menyempit menjadi pilihan yang brutal, yaitu eskalasi atau kehancuran bersama.
Keberhasilan Pakistan sebagai mediator tidak lahir dari kekuatan militer, melainkan dari kecerdasan membaca waktu. Meskipun ada juga yang mengaitkan Pakistan yang memiliki nuklir sehingga disegani. Ketika eskalasi mencapai titik kritis, Islamabad tidak menawarkan solusi besar yang utopis. Ia mengusulkan sesuatu yang jauh lebih sederhana, namun menentukan: jeda yang disebut sebagai gencatan senjata dua minggu untuk bernegosiasi tentang perdamaian ke depan.
Gencatan senjata dua minggu yang akhirnya disepakati bukanlah perjanjian damai monumental dan akhir dari perang. Ia adalah ruang bernapas dan awal negosiasi. Sebuah jeda yang memungkinkan dunia keluar dari logika perang yang serba cepat menuju ruang refleksi yang nyaris hilang. Dalam dua minggu itu, rudal berhenti, retorika mereda, dan diplomasi yang sebelumnya terpinggirkan kembali mendapat kesempatan kedua.
Di balik keberhasilan jeda ini, terdapat strategi yang halus, namun tegas. Pakistan memahami bahwa memaksa kesepakatan besar di tengah ketidakpercayaan mendalam, terutama Iran yang pernah dikhianati dalam negosiasi diplomatik, hanya akan berujung kegagalan. Maka, ia memilih pendekatan bertahap, yaitu kedua belah pihak yang bertikai menghentikan kekerasan hari ini, membangun kepercayaan besok, dan membicarakan perdamaian lusa. Ini bukan sekadar taktik, tetapi filosofi diplomasi yang menempatkan waktu sebagai instrumen utama.
Namun, seperti semua keberhasilan diplomasi, capaian ini rapuh. Gencatan senjata ini hanyalah penundaan, bukan penyelesaian. Ketidakpercayaan tetap mengendap, dan potensi eskalasi selalu mengintai. Iran memasuki meja perundingan dengan kehati-hatian yang tinggi, sementara Amerika Serikat tetap menyimpan opsi kekuatan di belakang layar. Dunia belum sepenuhnya aman: ia hanya sedang beristirahat. Kita lihat akhir dari negosiasi ini.
Tetapi justru di situlah makna peran Pakistan menjadi signifikan. Pakistan, yang beberapa tahun lalu dianggap sebagai “outsider” dalam diplomasi global, kini tiba-tiba menjadi pemain kunci. Pakistan tidak membawa beban hegemoni; karena itu ia bisa bergerak lebih luwes, berbicara lebih jujur, dan diterima lebih luas. Transformasi Pakistan ini bukan kebetulan, melainkan strategi. Tetapi strategi semacam ini memiliki risiko besar: jika mediasi gagal, reputasi yang baru saja dibangun bisa runtuh secepat ia muncul dan memudar laksana komet yang jatuh.
Lebih dari itu, diplomasi ternyata tidak membutuhkan kepercayaan penuh. Ia hanya membutuhkan tingkat kepercayaan minimum—cukup untuk menahan jari dari tombol kehancuran. Pakistan berhasil menciptakan ambang minimum itu, sebuah pencapaian yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya sangat langka. Dalam politik internasional, menunda kehancuran acap sama berharganya dengan mencegahnya. Setiap hari tanpa ledakan adalah kemenangan kecil bagi kemanusiaan.
Pakistan mungkin berhasil memperlambat laju perang. Ia bahkan mungkin membuka ruang bagi diplomasi. Tetapi, perdamaian sejati tidak lahir dari perantara yang rapuh, melainkan dari kesediaan para pihak untuk mengakui bahwa kemenangan total adalah ilusi.
Pungkasannya, peran Pakistan dalam perang Iran bukanlah kisah tentang ilusi keberhasilan atau kegagalan semata. Ia adalah cermin dari dunia yang sedang berubah—dunia di mana kekuatan menengah mencoba mengambil alih peran yang dulu dimonopoli oleh kekuatan besar, tetapi tanpa alat yang memadai untuk benar-benar menyelesaikan perang yang berkecamuk. Terlepas dari situasi itu, dunia berterima kasih kepada Pakistan.




Komentar