Bank Sentral Dunia Ramai-Ramai Obral Emas ,Kenapa ?
Bank Sentral Dunia Ramai-Ramai Obral Emas ,Kenapa ?. foto :Robinsar Nainggolan
law-justice.co - Emas menjadi instrumen yang paling likuid setelah dolar Amerika Serikat (AS). Ketika tekanan nilai tukar meningkat, emas dijual atau dijadikan jaminan untuk memperoleh likuiditas. Inilah yang mendorong suplai tambahan ke pasar emas dalam waktu singkat, tanpa mempertimbangkan harga. Harga emas global kehilangan kilaunya dalam beberapa pekan terakhir.
Harga emas dunia mengalami gejolak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Setelah sempat menyentuh puncak di kisaran US$5.596 per troy ounce pada akhir Januari 2026, kini harga logam mulia itu anjlok lebih dari 20% dan bergerak di level US$4.400-an.
Meski sempat menunjukkan rebound dengan kenaikan 2,6%, tekanan besar masih membayangi pasar. Bahkan sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026, harga emas telah merosot sekitar 15%.
Kondisi ini terbilang tidak biasa. Pasalnya, emas selama ini dikenal sebagai aset “safe haven” yang justru menguat saat terjadi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global. Namun kali ini, pasar tampak bereaksi berbeda.
Sejumlah analis menilai, tekanan terhadap emas dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari penguatan dolar AS, ekspektasi suku bunga tinggi, hingga aksi ambil untung besar-besaran oleh investor setelah reli tajam sebelumnya.
Harga emas sempat turun lebih dari 20% dari puncaknya di akhir Januari 2026, saat menyentuh level sekitar US$5.596 per troy ounce. Kini, harga bergerak di kisaran US$4.400-an.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Jumat (27/3/2026) ditutup di posisi US$ 4.492,48 per troy ons. Harganya terbang 2,6%. Namun, harga emas ambruk 15% sejak perang meletus pada 28 Februari 2026.
Koreksi ini terjadi di tengah kondisi yang biasanya justru mendukung emas, konflik geopolitik dan ketidakpastian global.
Faktor yang berubah sebetulnya ada pada pelaku pasar, terutama bank sentral.
Selama tiga tahun terakhir, bank sentral menjadi pembeli terbesar emas dunia, menyerap hampir 1.000 ton per tahun sejak 2022. Arus ini menciptakan fondasi kuat bagi tren naik emas. Namun sejak awal 2026, arah tersebut berbalik. Pasar kini menghadapi suplai dari institusi yang sebelumnya menjadi penopang utama.
Menurut Bullion Vault, mekanismenya berawal dari lonjakan harga energi. Gangguan di jalur perdagangan minyak mendorong harga minyak di atas US$100 per barel. Negara-negara importir energi membutuhkan dolar lebih banyak untuk membayar impor tersebut.
Tekanan ini mendorong pelemahan mata uang domestik, terutama di negara berkembang. Dalam situasi seperti ini, bank sentral dihadapkan pada pilihan cepat, antara membiarkan mata uang melemah atau menggunakan cadangan untuk menahannya.
Emas menjadi instrumen yang paling likuid setelah dolar Amerika Serikat (AS). Ketika tekanan nilai tukar meningkat, emas dijual atau dijadikan jaminan untuk memperoleh likuiditas. Inilah yang mendorong suplai tambahan ke pasar emas dalam waktu singkat, tanpa mempertimbangkan harga.
Turki menjadi contoh paling nyata. Melansir dari Bloomberg, bank sentral negara tersebut telah melepas sekitar 60 ton emas sejak konflik Iran memanas, dengan nilai sekitar US$8 miliar. Langkah ini diambil untuk menahan pelemahan lira yang terus mencetak rekor terendah terhadap dolar. Sebagian transaksi dilakukan melalui skema swap menggunakan cadangan emas yang disimpan di Bank of England.
Rusia bergerak dengan motif berbeda. Bank sentralnya telah mulai menjual emas sejak 2025 untuk membiayai kebutuhan perang. Data terbaru menunjukkan cadangan emas Rusia turun ke level terendah dalam empat tahun, dengan nilai penjualan mencapai sekitar US$2,4 miliar sepanjang awal 2026. Ini menambah tekanan dari sisi suplai yang bersifat konsisten.
Polandia belum melakukan penjualan langsung, tetapi sinyal kebijakan sudah cukup menggerakkan pasar. Melansir dari pernyataan pejabat bank sentral, Polandia mempertimbangkan monetisasi cadangan emas untuk mendanai belanja pertahanan, dengan potensi dana sekitar US$13 miliar. Pasar merespons arah kebijakan ini sebagai potensi tambahan suplai, mengingat Polandia sebelumnya merupakan pembeli emas terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Permintaan bank sentral terhadap emas memang mulai melemah. Porsinya turun di bawah 25% dari total permintaan global pada 2025, dari rata-rata sekitar 33% dalam tiga tahun sebelumnya. Meski masih tergolong tinggi secara historis, perubahan arah ini cukup untuk menggeser keseimbangan pasar.
Tekanan jual dari bank sentral bersifat tidak sensitif terhadap harga. Penjualan dilakukan untuk kebutuhan likuiditas dan stabilitas, bukan untuk mencari momentum terbaik. Dalam kondisi seperti ini, pasar kesulitan menyerap suplai tambahan, terutama ketika investor lain juga melakukan likuidasi, termasuk dari ETF emas yang mencatat arus keluar terbesar dalam lebih dari dua tahun.
Situasi ini membuat pergerakan emas menjadi semakin sulit ditebak. Di satu sisi, konflik global masih membara, namun di sisi lain, tekanan ekonomi justru menyeret harga emas turun lebih dalam.




Komentar