Subsidi BBM Malaysia Membengkak 4 Kali Lipat Akibat Minyak Bergolak
Presiden terpilih Partai Keadilan Rakyat (PKR) Datuk Seri Anwar Ibrahim (Foto: Tempo)
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut subsidi bulanan untuk BBM jenis RON95 dan diesel melonjak dari 700 juta ringgit Malaysia menjadi 3,2 miliar ringgit Malaysia.
"Dalam waktu kurang dari satu minggu, harga minyak global melonjak dari sekitar US$70 menjadi hampir US$120 per barel," jelas Anwar dalam video penjelasan yang diunggah di akun resminya melansir situs berita The Star, Senin (23/3).
Lonjakan harga minyak dipicu gangguan distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang dilalui 20 persen pasokan minyak dunia.
Meski merupakan negara produsen minyak, Malaysia tetap bergantung pada impor, dengan hampir setengah pasokan berasal dari Selat Hormuz.
"Malaysia memang memproduksi minyak, tetapi kita juga mengimpor lebih banyak dibandingkan yang kita ekspor," beber Anwar.
Ia mengungkapkan Malaysia mengekspor minyak mentah senilai sekitar US$5,5 miliar pada tahun lalu, tetapi mengimpor hingga US$12,6 miliar, sehingga mengalami defisit lebih dari US$7 miliar.
Menurutnya, minyak impor harus melalui proses pemurnian, distribusi, hingga asuransi sebelum sampai ke konsumen, yang seluruh biayanya meningkat saat konflik global.
Anwar juga menambahkan lonjakan harga energi berdampak luas terhadap perekonomian, termasuk biaya transportasi, harga pangan, hingga pengeluaran rumah tangga.
Untuk menahan dampak tersebut, pemerintah memilih meningkatkan subsidi agar masyarakat tidak menanggung sepenuhnya kenaikan harga global.
"Dalam situasi penuh tantangan ini, Malaysia memilih untuk menyerap sebagian tekanan biaya global demi melindungi rakyat," katamya.
Meski demikian, ia optimistis negaranya mampu menghadapi tekanan tersebut, mengingat Malaysia pernah melalui kondisi serupa di masa lalu.




Komentar