Harga Minyak Ambruk 11% Usai Sinyal Damai AS–Iran, Tapi Masih Perang
Harga Minyak Ambruk 11% Usai Sinyal Damai AS–Iran, Tapi Masih Perang
law-justice.co -
Harga minyak dunia jatuh tajam sekitar 11% pada Senin (23/3/2026) setelah muncul sinyal kemajuan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk meredakan konflik di Timur Tengah. Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS menunda rencana serangan militer dan menyebut adanya “percakapan produktif” dengan pihak Iran, yang memicu optimisme pasar terhadap potensi deeskalasi konflik.
Meski demikian, kondisi geopolitik di kawasan masih jauh dari stabil. Ketegangan tetap tinggi, terutama terkait gangguan pasokan energi dan situasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia. Para analis menilai penurunan harga ini bisa bersifat sementara, mengingat risiko konflik yang belum sepenuhnya mereda
Pengamat menyatakan : saat ini bahkan lebih parah dibandingkan dua krisis minyak pada 1970-an.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pihaknya menunda rencana serangan militer terhadap fasilitas listrik Iran selama lima hari, sembari membuka peluang kesepakatan damai.
Ia menyebut telah ada “titik-titik kesepakatan penting” dalam pembicaraan yang berlangsung dalam sehari terakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 4% usai Komentar Trump yang Redakan Kekhawatiran Soal Iran
Merespons perkembangan itu, harga minyak Brent turun US$ 12,25 atau 10,9% ke level US$ 99,94 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 10,10 atau 10,3% ke US$ 88,13 per barel.
Sepanjang sesi perdagangan, harga bahkan sempat anjlok hingga hampir 15% sebelum memangkas sebagian kerugian.
Namun, penurunan harga tertahan setelah Iran membantah adanya negosiasi dengan AS dan justru mengklaim melancarkan serangan baru ke Israel serta sejumlah target di kawasan.
Garda Revolusi Iran juga mengancam akan menyerang infrastruktur energi Israel dan fasilitas yang memasok pangkalan militer AS di kawasan Teluk jika ancaman Washington berlanjut.
Konflik yang telah berlangsung sekitar empat minggu itu berdampak besar pada sektor energi global.
Sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk dilaporkan rusak, sementara jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, praktis terhenti.
Meski begitu, pada Senin dilaporkan dua kapal tanker yang menuju India masih berhasil melintasi Selat Hormuz dengan muatan gas minyak cair dari Uni Emirat Arab dan Kuwait. Secara umum, lalu lintas di jalur tersebut masih sangat terbatas.
Pandangan Pengamat : gangguan produksi minyak di Timur Tengah mencapai 7 hingga 10 juta barel per hari. Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyebut krisis saat ini bahkan lebih parah dibandingkan dua krisis minyak pada 1970-an.
Kondisi pasokan yang ketat mendorong pelonggaran sementara sanksi AS terhadap minyak Rusia dan Iran yang sudah berada di laut.
Kilang-kilang di India disebut berencana kembali membeli minyak Iran, sementara pelaku industri di Asia lainnya mulai mempertimbangkan langkah serupa.
Di sisi lain, pemerintah AS menyatakan kecil kemungkinan akan kembali melepas cadangan minyak strategis untuk menstabilkan pasar.
Gangguan pasokan juga terjadi di Rusia, di mana pelabuhan Ust-Luga kembali beroperasi setelah sempat dihentikan akibat ancaman serangan drone. Namun, pelabuhan Primorsk masih ditutup setelah serangan udara, menambah tekanan pada pasokan global.
Dampak konflik turut merembet ke sektor lain. Kepercayaan konsumen di zona euro turun ke level terendah sejak akhir 2023, mencerminkan kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi.
Industri penerbangan global juga terganggu parah akibat penutupan sejumlah bandara utama di Timur Tengah seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, yang membuat puluhan ribu penumpang terlantar.
Analis memperkirakan gangguan produksi minyak di Timur Tengah mencapai 7 hingga 10 juta barel per hari. Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyebut krisis saat ini bahkan lebih parah dibandingkan dua krisis minyak pada 1970-an.




Komentar