Bikin Bangkrut Rudal AS Senilai Rp67 Miliar vs Drone Seharga Avansa

Minggu, 15/03/2026 16:41 WIB
foto : news.okezone.com

foto : news.okezone.com

law-justice.co -
Perang bukan sekadar adu nyali, tapi adu isi kantong dan logistik. Masuk kedalam zona pertempuran  di langit Timur Tengah dimana argo perang sudah melangit.  Iran secara cerdik menerapkan strategi pelemahan (attrition strategy) dengan menghujani pangkalan militer dan infrastruktur sipil menggunakan `pasukan` drone murah jenis Shahed-136.

Drone iran jelajah sederhana ini terus menjadi momok bagi sistem pertahanan udara Barat. Logikanya sederhana namun mematikan: Iran memaksa AS mengeluarkan biaya selangit untuk menjatuhkan target yang harganya `recehan`.

 

Ketimpangan Biaya yang Menyesakkan
Sistem pertahanan udara Patriot buatan Lockheed Martin memang jempolan dengan tingkat intersepsi di atas 90 persen. Namun, kalkulator militer menunjukkan angka yang tidak masuk akal. Untuk menjatuhkan satu unit drone Shahed seharga US$20.000 (sekitar Rp337 juta), AS harus meluncurkan satu rudal Patriot PAC-3 yang dibanderol US$4 juta atau setara Rp67,5 miliar.

 

Bayangkan, satu rudal pencegat AS setara dengan harga ratusan kali lipat dari drone Iran. "Strategi pelemahan ini masuk akal secara operasional bagi Iran," ujar Kelly Grieco, peneliti senior Stimson Centre.

Teheran bertaruh bahwa kemauan politik negara-negara Teluk akan runtuh sebelum persediaan drone mereka habis.

Krisis Amunisi di Ambang Mata
Siapa yang bertahan paling lama, dialah pemenangnya. Namun, data menunjukkan napas pertahanan sekutu AS mulai tersengal-sengal. Analisis internal yang bocor menyebutkan persediaan rudal Patriot milik Qatar diprediksi hanya bertahan empat hari lagi jika intensitas serangan tak menurun. Hal inilah yang membuat Doha secara gerilya mendesak penghentian konflik.

 

Gempur Iran Hari Kelima: Napas Logistik AS Mulai Tersengal, Stok Rudal Menipis?

Di sisi lain, Iran diperkirakan masih menyimpan `tabungan` 2.000 rudal balistik dan ribuan drone Shahed. Apalagi, Rusia dilaporkan mampu menyuplai drone ini dengan kecepatan ratusan unit per hari.

Bandingkan dengan produksi rudal PAC-3 milik AS yang hanya mencapai 600 unit sepanjang tahun 2025. Jika ribuan pencegat sudah ditembakkan sejak Sabtu lalu (28/2/2026), maka gudang amunisi sekutu di Timur Tengah kini berada di zona merah.

Lumpuhnya Pertahanan Udara Iran
Meski menang di perang drone, Iran babak belur di kandang sendiri. Serangan pembuka Israel dan AS telah melumpuhkan baterai rudal S-300 buatan Rusia yang menjadi andalan Teheran. Akibatnya, jet tempur AS dan Israel kini bisa melenggang bebas di ruang udara Iran tanpa hambatan berarti.

 

AS kini mulai memutar otak dengan menggunakan jet tempur yang dilengkapi sistem Advanced Precision Kill Weapon System (APWS) yang lebih murah untuk menjatuhkan drone. Israel pun tengah menyiapkan laser Iron Beam untuk menekan biaya intersepsi, meski sistem ini dilaporkan belum terjun ke medan laga.

Pertempuran kini berada pada titik jenuh. Peneliti senior Carnegie Endowment, Ankit Panda, memprediksi hasil akhir 60 jam pertama perang ini: amunisi kedua belah pihak akan menipis drastis, menyebabkan kebuntuan militer, sementara rezim Iran mungkin tetap utuh di tengah kekacauan logistik yang melanda.

Biaya Perang AS USD 11,3 miliar atau sekitar Rp191,8 triliun 

Pekan pertama perang di Iran menelan biaya setidaknya USD 11,3 miliar atau sekitar Rp191,8 triliun bagi Amerika Serikat (AS), demikian disampaikan para pejabat Pentagon kepada anggota parlemen selama pengarahan tertutup pekan ini.

Angka USD 11,3 miliar tersebut mencakup sekitar enam hari pertama pertempuran dan tidak termasuk biaya penuh kampanye, yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel menargetkan infrastruktur militer Iran.

Sebagian besar pengeluaran disebabkan oleh penggunaan amunisi canggih. Para pejabat Pentagon sebelumnya mengatakan kepada Kongres bahwa pasukan AS menghabiskan sekitar USD 5,6 miliar untuk senjata hanya dalam dua hari pertama serangan terhadap Iran.

Biaya yang tinggi mencerminkan skala operasi tersebut, yang melibatkan serangan udara ekstensif, sistem pertahanan rudal, pengerahan angkatan laut, serta operasi di seluruh Teluk Persia dan wilayah sekitarnya.

Pertempuran ini juga mengguncang pasar energi global dan jalur pelayaran, khususnya di sekitar Selat Hormuz, jalur vital pasokan minyak dunia. Langkah Iran ini menyebabkan lonjakan harga bahan bakar dan mengguncang ekonomi global.

 

 

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar