Iran Kirim "Kado” Ayatollah Baru ke Israel dan Bahrain
Iran Kirim kado pemimpin baru
law-justice.co -
Saat ini Iran mulai menyerang bagikan Kado pemimpin baru Iran ke semua negara negara arab yang masih menyimpan pangakalan militer Amerika di timur tengah. Mojtaba Khamenei 56 tahun itu menggantikan sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang meninggal setelah terkena serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) pada 28 Februari lalu.
Selain Bahrain, serangan Teheran juga menyebabkan listrik padam selama sekitar lima jam di kawasan pinggiran Tel Aviv, ibu kota Israel. Serangan-serangan tersebut seperti menandai resminya Mojtaba Khamenei menjadi Ayatollah atau Pemimpin Tertinggi Iran, Senin (9/3).
Sembari menyatakan dukungan atas penunjukan Mojtaba, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan, pemerintah akan terus membela hak bangsa Iran serta menjaga kepentingan dan keamanan nasional.
Seruan serupa datang dari Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani. “Seluruh elemen negara harus bersatu di bawah kepemimpinan Pemimpin Tertinggi baru,” kata Larijani seperti dikutip Al Jazeera.
Kilang minyak utama Bahrain dinyatakan dalam kondisi force majeure. Itu artinya, mereka tidak akan bisa memenuhi kontrak distribusi karena adanya gangguan signifikan. Pernyataan itu dirilis setelah serangan Iran mengakibatkan kebakaran di kilang yang berada di Pulau Sitra itu.
Kepulan Asap Tebal
Kementerian Dalam Negeri Bahrain sempat mengimbau warga untuk tetap tenang dan menuju ke tempat aman setelah terjadinya serangan drone Iran. Dikutip dari firstpost.com, kepulan asap tebal terlihat membubung dari kilang di Pulau Sitra yang dikelola Bapco yang terbakar.
Video yang beredar daring menunjukkan asap hitam mengepul dari lokasi tersebut saat tim darurat bergegas untuk memadamkan api. Para pejabat kemudian mengatakan, api telah berhasil dikendalikan dan operasi kilang tetap berlanjut.
Tidak ada korban jiwa. Namun, Bapco harus mengeluarkan pernyataan force majeure agar tidak dianggap wanprestasi. Sedangkan untuk kebutuhan dalam negeri dinyatakan masih bisa dipenuhi.
Untuk serangan ke Israel, selain menyebabkan listrik padam, The Jerusalem Post mengungkapkan, sedikitnya tujuh orang terluka. Satu di antaranya dalam kondisi kritis setelah serpihan rudal balistik yang ditembakkan Iran jatuh di wilayah Gush Dan, Israel Tengah.
Sepanjang Ahad (8/3) sirene peringatan serangan udara berbunyi berulang kali di berbagai wilayah Israel, memaksa jutaan warga kembali berlindung di bunker dan ruang aman. Layanan medis darurat Israel Magen David Adom (MDA) melaporkan, paramedis merawat tujuh korban akibat serpihan rudal yang jatuh setelah sistem pertahanan udara mencegat proyektil di atas wilayah tersebut.
Serangan misil tersebut menjadi hantaman besar keempat di wilayah sipil Israel sejak konflik dengan Iran meletus akibat serangan mereka bersama Amerika Serikat. Sebelumnya terjadi di Tel Aviv, Beit Shemesh, dan Beersheba.
Menyusul insiden terbaru dan banyaknya sirene peringatan, militer Israel memperpanjang kebijakan sekolah jarak jauh secara nasional. Juga pembatasan pertemuan publik lebih dari 50 orang setidaknya hingga Kamis.
Bom Terlarang
Sementara itu, Human Rights Watch menyatakan,
Israel menggunakan bom fosfor putih yang dilarang PBB dalam serangan mereka ke arah permukiman di Yohmor, Lebanon Selatan, pada 3 Maret lalu. Pernyataan itu disertai bukti berupa gambar yang telah terverifikasi yang memperlihatkan jejak bom fosfor putih.
Dampak bom fosfor putih bisa mengakibatkan kematian atau luka parah yang menyebabkan penderitaan sepanjang hidup.




Komentar