Jadi Penasihat METI, Ini Daftar Proyek Hijau Hashim Djojohadikusumo

Kamis, 20/11/2025 11:44 WIB
 Hashim Sujono Djojohadikusumo (tribun)

Hashim Sujono Djojohadikusumo (tribun)

law-justice.co - Demi bisa memperkuat dan mempercepat pengembangan energi terbarukan di Tanah Air, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) punya susunan organisasi baru.

Sebagai informasi, Zulfan Zahar, terpilih menjadi Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) periode 2025–2028, dalam Musyawarah Nasional (Munas) IX METI pada 16 Agustus 2025.

Selain posisi ketua umum, posisi yang mencolok adalah Dewan Penasihat METI, yang salah satunya diisi oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo.

"Dengan penuh syukur dan semangat baru, kami memperkenalkan Struktur Kepengurusan METI (Masa Bakti 2025–2028). Semoga amanah ini dapat membawa METI semakin maju, kolaboratif, dan berdampak bagi masyarakat," dikutip dari Instagram METI, Senin (17/11/2025).

Hingga berita ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari Hashim Djojohadikusumo terkait posisinya dalam organisasi ini. Di sektor energi terbarukan, Hashim memang diketahui telah memiliki portofolio bisnis.

Selain itu, adik Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto ini, juga menjadi orang kepercayaan Kepala Negara di bidang iklim dan energi. Salah satu contoh, Hashim dipercaya mewakili delegasi Indonesia dalam COP30, di Belem - Brasil.

Sebelumnya, Hashim mengaku optimistis tentang masa depan sektor energi terbarukan di dalam negeri. Hashim mengatakan Indonesia siap dan berkomitmen menjadi pusat investasi hijau dunia. Hal ini disampaikannya dalam diskusi panel tingkat tinggi Climate Week New York City (NYC) 2025, Amerika Serikat.

"Komitmen Indonesia untuk mengubah tantangan iklim menjadi peluang pembangunan hijau dan investasi berkelanjutan," kata Hashim, Selasa (23/9/2025).

Tidak hanya penugasan negara, tidak sedikit pula bisnis Hashim yang bergerak di sektor energi terbarukan. Berikut daftarnya seperti melansir bisnis.com:

Proyek Karbon

Arsari Group yang dipimpin Hashim menawarkan kredit karbon yang berasal beberapa proyek kehutanan di Kalimantan Timur. Namun volume kredit karbon yang ditawarkan dalam pertemuan tahunan itu tidak diperinci.

Mengutip laman resmi perusahaan, Arsari Group didirikan pada 2006 oleh Hashim dengan operasional yang berfokus pada agroforestri, perkebunan, infrastruktur digital, energi terbarukan, energi dan pertambangan, perdagangan, serta budidaya perairan.

Penawaran kredit karbon oleh Arsari Group dilakukan seiring dengan kembali dibukanya perdagangan karbon internasional di pasar sukarela melalui Peraturan Presiden No. 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia sempat menghentikan penjualan kredit karbon ke pembeli internasional karena perbaikan regulasi dan integritas.

PLTA Kayan Cascade

Selain itu, Hashim juga “ngebet” untuk ikut berinvestasi dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air alias PLTA Kayan Cascade di Bulungan, Kalimantan Utara.

Minat itu disampaikan Hashim saat meninjau megaproyek PLTA yang nilai investasinya sekitar US$17,8 miliar atau setara Rp275,9 triliun (asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS), Kamis (30/5/2024).

"Betul [akan investasi] saya memang sudah lama tertarik investasi di bidang energi terbarukan, contoh di Kalimantan Timur saya ada proyek biofuel," kata Hashim.

Tidak hanya itu, Hashim menuturkan, telah menyampaikan rencana investasi itu ke Prabowo. Menurut dia, Prabowo setuju untuk masuk dalam investasi proyek PLTA yang dianggap terbesar di Asia Tenggara tersebut.

"Ada saya sudah lapor, beliau [Prabowo] setuju, ini kan investasi," tegasnya. Profil PLTA Kayan Megaproyek PLTA Kayan Cascade dikerjakan oleh PT Kayan Hydro Energy (KHE) yang awalnya berkongsi dengan Sumitomo Corporation. Kerja sama KHE bersama dengan raksasa investasi Jepang itu diteken pada akhir 2022 lalu.

Hanya saja, Sumitomo belakangan memilih mundur dari kesepakatan kerja sama itu baru baru ini. Melihat celah itu, Hashim berniat masuk.

Adapun, KHE merupakan pemrakarsa dan pengembang proyek PLTA Kayan Cascade yang terletak di Provinsi Kalimantan Utara tepatnya di Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan dengan kapasitas 9.000 megawatt (MW) yang terbagi dalam lima bendungan. KHE merupakan perusahaan yang dimiliki oleh pengusaha Tjandra Limanjaya.

Konservasi Orangutan

Tidak hanya di bisnis energi hijau, Hashim juga terlibat dalam pelestarian satwa. Hal itu tampak dari kesepakatan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN), Kementerian Kehutanan, dan Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) untuk memulai pembangunan Pusat Suaka Orangutan (PSO) di Pulau Kelawasan.

Pulau ini terletak di Teluk Balikpapan yang kini dengan hadirnya Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara statusnya telah ditingkatkan menjadi kawasan lindung.

Ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan bahwa ide untuk membangun pusat suaka ini sebagai tempat suaka bagi orangutan yang sudah tua dan tidak mungkin untuk dilepasliarkan.

“Banyak orangutan dewasa yang kalau dilepasliarkan pasti mati karena cari makannya susah. Kita carikan tempat lingkungan yang nyaman bagi orangutan dewasa di alam yang terbuka, maka kita pilih Pulau Kelawasan,” ujar Hashim melalui keterangan tertulis, Kamis (10/4/2025).

Pulau Kelawasan yang terletak di wilayah IKN memiliki potensi ekologis yang kaya dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Oleh karena itu pulau ini akan dikembangkan menjadi suaka yang aman, lestari, dan edukatif, khususnya bagi orangutan jantan dominan berpipi lebar.

Pulau Suaka Orangutan Kelawasan merupakan habitat jangka panjang bagi orangutan jantan yang tidak dapat dilepasliarkan ke alam liar. Untuk mendukung kehidupan orangutan, fasilitas yang dibangun dirancang sedemikian rupa agar mendukung aktivitas alami orangutan.

Sarana dan prasarana utama seperti shelter sebagai tempat berlindung, feeding platform untuk pemberian pakan harian yang dilengkapi dengan kolam air minum orangutan, serta feeding plus sebagai area perawan dan pemeriksaan kesehatan satwa.

“Saya ucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya pada Yayasan Arsari Djojohadikusumo atas kegiatan lingkungan ini. Mudah-mudahan kerjasama ini dapat terus kita lanjutkan dengan lebih baik,” ujar Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono.

Pabrik Solder

Tidak habis di situ, belum lama ini Hashim telah meresmikan pabrik solder PT Solder Tin Andalan Indonesia (Stania) di Kawasan Industri Tunas Prima di Kabil, Batam, Kamis (10/7/2025). PT Stania merupakan anak usaha dari Arsari Tambang, bagian dari Arsari Group yang didirikan dan dimiliki oleh Hashim.

Kendati bukan bergerak di sektor energi hijau, pabrik ini didirikan untuk mendukung agenda hilirisasi mineral nasional, serta jadi pionir produksi timah ramah lingkungan di Asia Tenggara.

Hashim, yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama Arsari Tambang, mengatakan bahwa Arsari ingin bertransformasi menjadi industri tambang yang mendukung transisi energi untuk bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial.

"Stania merupakan produsen solder yang berbasis hilirisasi mineral, dan menggunakan listrik dari energi terbarukan milik PLN yang telah mendapat sertifikasi Renewable Energy Certificate [REC] menjadikannya fasilitas produksi bebas emisi," kata Hashim saat konferensi pers di Pabrik Stania, Batam.

Pabrik PT Stania dibangun di atas lahan seluas 6.500 meter persegi, di mana tahap groundbreaking sudah dimulai pada 10 Mei 2024 dan kini siap memproduksi hingga 2.000 ton solder bar per tahun.

Realisasi investasi awal mencapai senilai Rp400 miliar. Dalam jangka panjang, kapasitas produksi akan diperluas mencakup solder wire, powder, dan paste, dengan total volume hingga 16.000 ton per tahun.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar