Ledakan SMAN 72 Jadi Alarm Reformasi Sekolah Aman
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti
law-justice.co - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta menjadi alarm serius bagi pemerintah untuk memperkuat sistem keamanan dan budaya sekolah yang lebih humanis. Ia menekankan perlunya pembenahan menyeluruh agar peristiwa serupa tak kembali terulang.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyebut insiden di SMAN 72 Jakarta menjadi momentum bagi kementerian untuk memperkuat tiga aspek utama dalam penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah. “Pengalaman ini menjadi alarm bagi kami di kementerian untuk memperkuat tiga hal yang sebelum kejadian ini sudah kami usahakan perubahannya,” ujar Mu’ti di Jakarta, Minggu (9/11) sebagaimana dilansir Antaranews.
Aspek pertama, kata dia, adalah penyusunan Peraturan Menteri tentang Sekolah Aman, yang mencakup penciptaan lingkungan belajar bebas dari kekerasan dan ancaman dalam bentuk apa pun. Regulasi ini diharapkan menjadi pedoman bagi sekolah untuk membangun sistem keamanan dan tata kelola yang berorientasi pada keselamatan peserta didik. “Pendekatannya akan lebih humanis, komprehensif, dan partisipatif. Kami juga berencana melibatkan para duta anti kekerasan yang akan direkrut dan dilatih secara komprehensif,” jelasnya.
Aspek kedua yang dikuatkan adalah peran guru dalam Bimbingan Konseling (BK). Menurut Mu’ti, seluruh guru — baik guru BK maupun non-BK — memiliki tanggung jawab pembimbingan terhadap siswa sesuai dengan amanat undang-undang. “Ini bukan menambah beban guru. Pembimbingan merupakan bagian dari lima tugas pokok guru. Nantinya jam pendampingan juga akan dikonversi sebagai jam mengajar,” tuturnya.
Ia menambahkan, guru pembimbing tidak hanya berfokus pada persoalan akademik, tetapi juga mendampingi siswa dalam menghadapi masalah psikologis, spiritual, maupun sosial. Guru juga diharapkan berperan sebagai penghubung antara sekolah dan orang tua. “Banyak kasus perundungan berawal dari masalah keluarga dan komunikasi yang kurang baik antara sekolah dan orang tua. Kalau ini diperbaiki, insyaallah kasus seperti itu bisa ditekan,” ujarnya.
Mu’ti mengakui bahwa tingkat perundungan di sekolah saat ini masih cukup tinggi, baik pelaku maupun korbannya adalah siswa. Karena itu, ia menegaskan pentingnya perubahan pendekatan pendidikan yang lebih berpihak pada kemanusiaan. “Inilah yang sedang kami dorong: pendidikan yang lebih humanis, komprehensif, dan partisipatif,” tegasnya.




Komentar