Petaka di Wall Street Karena 1 Kalimat Trump
Minggu, 12/10/2025 19:30 WIB
[INTRO]
Hanya karena satu kalimat dari Donald Trump, nilai pasar saham Amerika Serikat (AS) langsung anjlok. Dalam waktu 24 jam, sekitar Rp33.000 triliun hilang dari bursa Wall Street.
Kejadian ini terjadi pada Jumat (10/10/2025), setelah Trump menulis cuitan bernada keras yang berisi ancaman terhadap China. Akibatnya, para investor panik dan mulai menjual saham mereka. Menurut data dari Bespoke Investment Group, total kerugian pasar mencapai sekitar US$2 triliun atau setara Rp33.090 triliun.
Media lain mengunggah judul "Karena 1 Kalimat Trump, Rp33.000 T Raib dari Wall Street dalam 24 Jam"
Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ambruk pada akhir pekan ini hingga membuat ribuan triliun menguap dalam 24 jam. Saham jeblok karena cuitan Presiden AS Donald Trump.
Menurut Bespoke Investment Group, sekitar US$2 triliun atau sekitar Rp 33.090 triliun (US$1= Rp 16.545) nilai pasar saham AS lenyap pada perdagangan Jumat (10/10/2025) setelah Trump mengunggah tuitan "panas" dan mengancam China.
Pada pukul 10:57 Jumat pagi waktu AS Timur (ET), Trump menulis di platform Truth Social bahwa China semakin bermusuhan"dengan dunia, terutama terkait penguasaannya atas logam tanah jarang (rare earths). Dia menuduh China "menyandera dunia" karena "monopoli"-nya atas sumber daya penting tersebut.
Bagian yang paling membuat pasar saham bereaksi dalam unggahan Trump sepanjang 500 kata itu adalah kalimat adalah:
"Salah satu kebijakan yang sedang kami hitung saat ini adalah peningkatan besar tarif terhadap produk China yang masuk ke Amerika Serikat." Ujarnya.
Dan hanya itu yang dibutuhkan untuk mengguncang pasar. Satu unggahan tersebut langsung membuat pasar saham AS kalang kabut.
Indeks S&P 500 anjlok 2,71% menjadi 6.552,51. Indeks Nasdaq jatuh 3,56% menjadi penutupan terburuk sejak April, padahal sempat mencetak rekor tertinggi sebelum unggahan Trump.
Indeks Dow Jones Industrial Average jeblok 879 poin (1,9%) terburuk sejak Mei.
Pada Jumat pagi, indeks S&P 500 padahal hanya berjarak beberapa poin dari rekor tertingginya yang baru. Namun, hanya satu unggahan media sosial dari Presiden Donald Trump langsung menghapus nilai pasar senilai US$2 triliun.
Anjloknya pasar mengingatkan dunia akan peristiwa "kelam" di Liberation Daya pada 3 April 2025 saat Trump mengumumkan kebijakan tarifnya.
Pada 4 April 2025, indeks S&P 500 anjlok 5,97%, Indeks Nasdaq merosot 5,8% dan Dow Jone jebok 5,5%.
Hitungan Reuters menunjukkan indeks S&P pada 4 April mencatat kerugian sebesar US$5 triliun .
Apa yang terjadi akhir pekan ini dan 4 April 2025 menunjukkan betapa besar pengaruh kebijakan perdagangan satu orang yakni presiden terhadap nasib ekonomi global.
Apa Pemicu Ancaman Trump?
Pada Kamis malam, China memperketat lagi kendalinya atas pasar logam tanah jarang, di mana negara itu menguasai sekitar 70% pasokan global. Beijing menyatakan pihak luar harus memperoleh izin ekspor untuk hampir semua produk yang menggunakan logam tersebut, dan penggunaan untuk keperluan militer akan ditolak. Setiap permohonan akan dievaluasi kasus per kasus.
Logam tanah jarang penting untuk pembuatan semikonduktor, kendaraan listrik, dan bahan rudal canggih. Trump selama ini berupaya memperkuat pasokan domestik dengan mendukung bahkan berinvestasi langsung di perusahaan tambang AS dan Kanada yang menambang logam tersebut.
Kebijakan China ini bisa membuat pembuat chip tertekan. Saham Nvidia turun 5% karena masih menunggu izin untuk menjual chip AI versi terbatas ke China. Saham AMD jatuh hampir 8% padahal sebelumnya memimpin reli pasar.
Saham Apple juga jatuh 3% smeentara Tesla anjlok 5%.
Penurunan tidak hanya terjadi pada perusahaan yang terlibat langsung dalam perdagangan dengan China di mana 424 dari 500 saham di S&P 500 berakhir di zona merah. Investor institusional terpaksa memangkas risiko di seluruh sektor untuk menutup kerugian dan menambah likuiditas.
Saham Bank of America dan Wells Fargo turun lebih dari 2%. Hanya sedikit saham yang bertahan, seperti Walmart dan beberapa saham tembakau/nicotine, karena sifatnya yang defensif.
Namun, ada kekhawatiran efek domino di Wall Street yakni kebangkrutan pemasok suku cadang mobil First Brands mengguncang bank-bank seperti Jefferies Financial Group, yang memiliki eksposur tinggi terhadap kredit swasta. Saham Jefferies turun 4% pada Jumat dan anjlok lagi 6% di perdagangan setelah jam tutup.
Komentar