Terungkap! Mantan Menkes Kritik WHO dan Vaksin TBC, Pernah Dibohongi

Sabtu, 24/05/2025 11:08 WIB
Terungkap! Mantan Menkes Kritik WHO dan Vaksin TBC, Pernah Dibohongi foto : YouTube Abraham Samad

Terungkap! Mantan Menkes Kritik WHO dan Vaksin TBC, Pernah Dibohongi foto : YouTube Abraham Samad

law-justice.co -  

 


Mantan Ketua KPK periode 2011–2015, Abraham Samad, kembali menyuarakan isu penting di bidang kesehatan dengan menyoroti persoalan Tuberkulosis (TBC) laten. Dalam diskusi yang digelar baru-baru ini, ia menghadirkan narasumber kunci, yakni Menteri Kesehatan RI 2004–2009, dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K), untuk mengulas lebih dalam mengenai potensi bahaya, penanganan, dan kebijakan seputar TBC laten di Indonesia.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Abraham Samad untuk mengedukasi publik, tak hanya soal pemberantasan korupsi, tetapi juga tentang isu-isu kesehatan yang berdampak luas pada masyarakat. Diskusi tersebut turut menyinggung pendekatan medis dan kebijakan global yang kerap menuai pro dan kontra, khususnya dalam kaitannya dengan peran lembaga internasional dan penggunaan vaksin.

 

Lewat unggahan X @AbrSamad, yang menampilkan sepenggal video dari kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, dr. Siti Fadilah menyebut untuk tidak percaya WHO, ia mengaku dirinya pernah tertipu.

"Kenapa dia bikin vaksin untuk dunia?, kenapa rakyat kita yang dipakai untuk uji coba?," tanya dr. Siti Fadilah dilansir X Jumat, (23/5/2025).

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa dirinya pernah tertipu oleh data dan hasil riset yang diterbitkan oleh WHO.

"Dan sayapun pernah tertipu oleh beliau, jangan percaya sepenuhnya, beliau itu bukan tuan kita, bukan siapa-siapa kita," jelasnya.


"Angka-angkanya WHO juga jangan terlalu diikutin, kadang bener kadang tidak," sambungnya.

Mantan menteri kesehatan itu kemudian melanjutkan, dengan membahas salah satu jenis penyakit yakni Mycobacterium tuberculosis (TBC).

"Tapi orang TBC Laten itu tidak akan menderita dan tidak akan menular, ngapain divaksin," katanya.

Bahkan, ia menyebut saat dirinya masih menjabat ia dengan penuh pertimbangan memikirnya resiko apabila mengambil langkah dengan vaksin.

 

Sebagai informasi, TBC laten adalah kondisi di mana bakteri penyebab TBC (Mycobacterium tuberculosis) berada dalam tubuh, namun dalam keadaan “tidur” atau tidak aktif.

Pada fase ini, bakteri tidak menyebabkan gejala seperti pada TBC aktif dan tidak dapat menyebar ke orang lain.

Namun, harus ingat bahwa TBC laten bisa saja berkembang menjadi TBC aktif, terutama jika sistem kekebalan tubuh melemah. Itulah mengapa deteksi dini sangat penting.

Salah satu tantangan terbesar dalam mengenali TBC laten adalah karena kondisinya yang tidak menunjukkan gejala jelas.


Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi, karena tubuh mereka mampu menahan bakteri agar tetap tidak aktif.


Namun, kondisi ini bukan berarti tanpa risiko. TBC laten dapat bertahan selama bertahun-tahun dan berpotensi berkembang menjadi TBC aktif kapan saja, terutama jika ada faktor-faktor pemicu seperti penurunan kekebalan tubuh.

Meskipun TBC laten umumnya tidak menunjukkan gejala, ada beberapa tanda yang bisa diwaspadai sebagai indikasi kemungkinan infeksi laten.  Misalnya, kelelahan yang tidak biasa, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau demam ringan yang berkepanjangan.

 

Namun, perlu diingat bahwa gejala-gejala ini juga bisa disebabkan oleh kondisi lain, sehingga sulit untuk mengaitkannya secara langsung dengan TBC laten tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Faktor Risiko yang Memicu TBC Laten
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena TBC laten.


Selain itu, orang yang pernah terinfeksi TBC tetapi tidak menyelesaikan pengobatannya juga berisiko tinggi mengalami TBC laten.

Bagaimana Cara Mendeteksi TBC Laten?
Deteksi dini TBC laten menjadi kunci penting untuk mencegah perkembangannya menjadi TBC aktif.

Deteksi infeksi TBC laten dapat dilakukan melalui beberapa metode medis, yang paling umum adalah uji tuberkulin (Mantoux test) dan tes darah seperti Interferon-Gamma Release Assays (IGRAs). Kedua prosedur ini bekerja dengan cara mengidentifikasi respons sistem imun terhadap bakteri Mycobacterium tuberculosis di dalam tubuh.

Hasil yang positif dari tes ini menandakan bahwa seseorang kemungkinan telah terpapar bakteri TBC dan mengalami infeksi laten. Namun, penting untuk dicatat bahwa infeksi laten tidak selalu berkembang menjadi TBC aktif, dan tidak semua orang dengan hasil positif akan menunjukkan gejala atau menularkan penyakit.

Bagaimana  efek setelah 10 tahun lagi ?
"Tetapi tidak seorang pun bisa mengatakan aman, apakah vaksin itu aman untuk orang Indonesia setelah 10 tahun lagi atau setelah 5 tahun kemudian sudah mulai merayu-merayu," ujarnya. Dalam kutipan fajar.co.id

Sebagai keputusan yang diambil, dr. Siti Fadilah dengan tegas menolak vaksin, dan lebih mementingkan kesehatan rakyat, meskipun pada akhirnya berujung tidak baik untuk dirinya sendiri. 

"Tidak!. Karena saya tahu itu berbahaya untuk rakyat saya. Kalau gak berbahaya sekarang, mungkin berbahaya nanti-nantinya, nah saya tolak sampai saya lengser," 

 

 

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar