Luhut Binsar : Tanpa Nikel Indonesia, Pasar EV Amerika Terpuruk

Minggu, 05/05/2024 06:08 WIB
Nikel PT Antam (Foto:Katuju.id)

Nikel PT Antam (Foto:Katuju.id)

law-justice.co - “Without Indonesia’s Nickel, EVs Have No Future in America” pada 1 Mei 2024 , merupakan tulisan tegas Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan . Luhut mengatakan tanpa nikel Indonesia, pasar kendaraan listrik Amerika akan terpuruk. Sebab, Indonesia punya cadangan logam terbesar di dunia.  Berita diatas itu dituliskan Luhut dalam artikel kolom yang diterbitkan oleh situs majalah Foreign Policy asal Amerika Serikat .

 

 "Beberapa anggota Kongres AS, yang bekerja sama dengan pesaing asing dari Indonesia, telah memutuskan untuk menghalangi impor nikel olahan dari Indonesia. Adapun kini paksaan kepada perusahaan-perusahaan di sana untuk beralih dari penjualan kendaraan bertenaga gas, pada akhirnya pekerja otomotif AS lah yang akan dirugikan," tulis Luhut. Luhut melanjutkan keberatan para senator tersebut cenderung berfokus pada masalah lingkungan hidup lantaran banyak smelter di Indonesia yang menggunakan bahan bakar batu bara. Bagi sebagian anggota kongres hal itu kurang bisa diterima meskipun ada manfaat karbon bersih dari penghentian mesin pembakaran kendaraan di jalan nantinya. Baca Juga: Soal Pro Kontra Kenaikan Pangkat Prabowo, Jokowi Sebut Nama Luhut & Susilo Bambang Yudhoyono Menurut Luhut, cara pandang seperti itu pada akhirnya merugikan diri mereka sendiri. "Agar pengurangan emisi di AS bisa signifikan, rakyat AS harus lebih banyak menggunakan kendaraan bertenaga listrik. Sektor transportasi adalah penghasil emisi terbesar di negara ini, sementara sekarang kurang dari satu persen kendaraan di AS adalah kendaraan listrik. Penerapannya secara luas akan bergantung pada keterjangkauan," kata Luhut.


Luhut pun mengatakan nikel Indonesia bisa menjadi lebih ramah lingkungan. Namun, agar ini terwujud, pembangunan ekonomi sangatlah penting lewat penerimaan ekspor atau investasi asing langsung. "Inisiatif pemerintah juga ada dengan batasan dan pajak atas emisi karbon yang akan diberlakukan tahun ini, dan di saat yang sama pembangkit listrik tenaga batu bara baru sudah dilarang. Namun, transisi hijau di Indonesia pada akhirnya bergantung pada modal," kata Luhut.

Ancaman AS  ,larangan menyeluruh terhadap nikel Indonesia

Luhut menyebut kekhawatiran anggota parlemen AS terhadap lingkungan hidup atas usulan perjanjian perdagangan bebas juga didukung oleh ketegangan antara Beijing dan Washington. Perusahaan Tiongkok hadir dalam pemurnian nikel di Indonesia. Namun, demikian pula dengan perusahaan-perusahaan Korea Selatan dan bahkan Amerika. "Jika AS memutuskan untuk menerapkan larangan menyeluruh terhadap nikel Indonesia hanya karena kehadiran negara lain dalam industri tersebut, tindakan seperti itu akan bertentangan dengan jaminan Menteri Keuangan AS Janet Yellen bahwa sekutu Amerika di Indo-Pasifik tidak boleh dipaksa untuk memilih antara Tiongkok atau AS. Pada akhirnya, nikel Indonesia akan diekspor ke suatu tempat," kata Luhut. Luhut menegaskan Indonesia ingin bermitra dengan semua pihak. "Terserah Washington apakah mau berjabat tangan untuk menciptakan masa depan yang lebih hijau. Namun, negara saya tidak akan menunggu tanpa batas waktu," tegas Luhut.

Indonesia belum bisa memproduksi semua industri batrei baru tahun 2025 akan bisa total tanpa ketergantungan dari luar, disampai dalam acara seminar Indonesia Hijau dalam forum energizer indonesia kampus UI berapa waktu lalu .

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar