Pengacara Harus Kuasai Teknologi Digital Kombinasi Via Marketing 5.0

Minggu, 20/02/2022 12:23 WIB
Ilustrasi Profesi Pengacara (alinea)

Ilustrasi Profesi Pengacara (alinea)

Jakarta, law-justice.co - Perkembangan dunia digital yang begitu pesat seperti sekarang ini juga mengubah tatanan ekosistem dari jasa bantuan hukum yang diberikan oleh para pengacara.

Dalam acara Sharing Session Moot Court yang diselenggarakan oleh Gunung Jati Moot Court Community, Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, 18 Februari 2002, dipaparkan serba-serbi dari perubahan tersebut, serta antisipasi yang harus dilakukan oleh para pengacara dan calon sarjana hukum oleh Pengacara Erri Tjakradirana, S.H., pendiri dari Tjakra Law yang sekaligus pemateri tunggal pada acara tersebut.

Ia menyampaikan hal-hal apa saja yang berubah dengan perkembangan teknologi digital yang demikian pesat. Perubahan ini pun memaksa para pengacara dan calon sarjana hukum untuk mengubah mindset dan pendekatannya, tidak hanya dalam memberikan jasa hukumnya, namun juga untuk menawarkan jasa hukum dan membekali dirinya dengan pengetahuan yang lebih luas dan tidak sekedar dari sisi ilmu hukum belaka.

“Sebagai pengacara harus bisa melindungi dirinya sendiri terlebih dahulu, sebelum melindungi kliennya,” ditegaskan oleh Erri bahwasanya dalam era digital sekarang ini sangat mudah bagi siapa saja yang ingin memposting kegiatannya, termasuk para pengacara.

Adanya kebutuhan mempromosikan portofolio pekerjaan yang tengah ditangani agar dikenal oleh masyarakat, dapat membuat pengacara lupa akan hal-hal yang seharusnya tetap dirahasiakan dan dijaga.

Pengacara atau advokat terikat dengan Kode Etik Advokat Indonesia dan kerahasiaan klien yang wajib dipatuhi dan dijaga. Pembekalan diri para insan hukum juga harus dinamis mengikuti perkembangan jaman.

"Penting bagi para calon pengacara untuk mengenali dirinya sendiri, agar nantinya dapat memilih bidang hukum yang diminati, dikarenakan di era digital ini akses untuk belajar terbuka luas dan lebih mudah…", demikian pernyataan dari Armand Hasim, S.H., pengacara dari firma hukum Daud Silalahi & Lawencon Associates, yang memberikan tanggapannya dalam webinar ini.

Erri menyampaikan bahwa kapabilitas dan kapasitas dari pengacara jaman now dibandingkan dengan jaman sebelum era digital teknologi perlu terus diasah dan harus selalu up to date.

Mempelajari marketing atau branding bagi seorang pengacara di masa lampau bukan hal yang penting karena pemasaran lebih mengandalkan referensi. Era digital sekarang tingkat kepercayaan pada informasi di internet meningkat, sehingga diperlukan adanya kapabilitas dari seorang pengacara untuk bisa melakukan branding dan marketing melalui media sosial atau platform digital lainnya.

Ditambahkan oleh Pengacara Jamaslin James Purba S.H., M.H., pendiri James Purba & Partners dan Mantan Ketua Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia periode 2016 - 2019, "Dunia digital membuka sumber klien-klien untuk mencari jasa pengacara tidak hanya terbatas di satu negara saja dan hal ini harus dimanfaatkan oleh para pengacara secara bijaksana dengan tetap mematuhi kode etik yang berlaku.

"Hal yang baru bagi para pengacara yang dibahas oleh Erri adalah mengkombinasikan ilmu baru Marketing 5.0 dengan penawaran jasa hukum. Marketing 5.0 adalah teori yang disampaikan oleh Philip Kotler, pakar marketing dunia dan dibahas mendalam dalam bukunya. Marketing 5.0 menyeimbangkan peran teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Kebutuhan jasa hukum jelas sekali tidak bisa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan oleh karenanya menurut Erri, ini sudah jamannya bagi para pengacara untuk menerapkan Marketing 5.0. Gunakanlah data (Data Driven Marketing), memperkirakan kebutuhan klien berdasarkan data (Predictive Marketing), memberikan jasa hukum sesuai dengan konteksnya (Contextual Marketing), melakukan investasi dalam peranti lunak yang terintegrasi (Augmented Marketing) dan mau untuk mengubah dirinya secara dinamis baik dalam hal mindset maupun berani melakukan eksperimen-eksperimen yang bertanggung jawab (Agile Marketing).

Erri menutup sesi dengan memberi pesan bahwa “Bukan jamannya lagi untuk tidak melek teknologi, seorang pengacara harus dapat menguasai teknologi bukan dikuasai oleh teknologi untuk memberikan bantuan hukum bagi para klien yang membutuhkan jasa hukumnya.”

(Warta Wartawati\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar