Persoalkan Salam 5 Agama, Kepala BPIP Mau Ganti Pakai Salam Pancasila?

Kamis, 20/02/2020 18:32 WIB
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. (Antara).

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. (Antara).

Jakarta, law-justice.co - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menjadi sorotan publik beberapa waktu terakhir karena pernyataannya yang kontroversial. Namun, hal itu belum selesai, kembali muncul sebuah perndyataan kontroversial lainnya.

Dalam sebuah video hasil wawancaranya Yudian mengatakan pentingnya salam pancasila diterapkan di tempat umum menggantikan salam lima agama. Hal itu untuk menjadi jalan kelaur atau sebagai titik temunya.

“Kalau kita salam setidaknya harus ada lima sesuai agama-agama. Ini masalah baru kalau begitu. Kini sudah ditemukan oleh Yudi Latif atau siapa dengan Salam Pancasila. Saya sependapat,” kata Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi dalam wawancara di detik.com beberapa waktu lalu.

Menurut Yudian, sebelum reformasi sangat nyaman dengan salam nasional. Namun, hal itu berubah setelahnya dengan menjadikan salam agama sebagai salam di tempat umum. Misalnya, penggunaan salam dalam bahasa Arab yang kerap diidentikan dengan salam Agama Islam, Assalamu`alaikum.

“Sejak reformasi diganti Assalamu’alaikum di mana-mana tidak peduli, ada orang Kristen, Hindu hajar saja dengan Assalamu’alaikum,” ungkapnya.

Menurutnya, salam itu maksudnya mohon ijin terhadap seseorang sekaligus mendoakan selamat. Kalau bahasa arabnya Assalamu’alaikum warahmatulloh wabarakatuh. “Ada hadits kalau anda jalan, ada orang duduk, maka Anda harus mengucapkan salam. Itu maksudnya adaptasi sosial. Itu zaman agraris. Sekarang jaman industri digital lagi. Misalnya mau menyalip pakai mobil salamnya gimana? Pakai lampu atau klakson,” paparnya.

Kata Yudian, salam di tempat umum harus menggunakan salam yang sudah disepakati secara nasional. “Dengan kesepakatan nasional misalnya salam Pancasila daripada ulama ribut kalau pakai shalom bisa jadi kristen. Padahal mendoakan orang itu boleh-boleh saja. Sebenarnya kita ngomong shalom kepada orang kristen tidak ada masalah dengan teologis,” tandasnya. (suaranasional)

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar