Ahli Waris Tanah Melawan Agung Podomoro:

Yang Namanya Polisi, Jaksa, Peradilan, Saya Tidak Percaya!

Kamis, 14/11/2019 12:42 WIB
Titin (berkerudung hijau) diapit kakak dan adiknya (law-justice.co/Deni Hardimansyah)

Titin (berkerudung hijau) diapit kakak dan adiknya (law-justice.co/Deni Hardimansyah)

law-justice.co - Jika Anda melewati jalan S. Parman di Jakarta Barat, persis di samping Mall Taman Anggrek, berdiri sebuah “kota mini” atau nama kerennya superblock,  milik pengembang papan atas Agung Podomoro Group. Podomoro City namanya.

Di dalam superblock itu, terdapat sebuah gedung perkantoran 48 lantai yang terhubung langsung dengan Central Park Mall dan Hotel Pullman. Selain itu, ada pula apartemen kelas menengah atas yaitu Mediterania I dan II, apartemen premium Madison Park dan Neo Soho, mal dan perkantoran yang menyatu dengan apartemen.

Fasilitas kawasan ini semakin lengkap dengan adanya terowongan bawah tanah yang terintegrasi dengan mal dan apartemen. Deretan toko-toko yang berjejer di sisi kanan dan kiri jalan boulevard makin menambah semarak kegiatan bisnis di Podomoro City.

Dengan banyaknya fasilitas yang terdapat di superblock ini, kawasan tersebut diklaim sebagai properti signature dari Agung Podomoro Grup, milik Trihatma K. Haliman. Nilai investasinya mencapai angka triliunan rupiah.

Namun, siapa sangka dibalik gemerlapnya kawasan Podomoro City, ada cerita sedih di dalamnya. Tidak banyak yang tahu, bahwa  ada satu keluarga ahli waris sedang memerjuangkan haknya untuk mendapatkan kembali lahan seluas 12,5 hektar, tanah di mana Podomoro City saat ini berdiri.

Tanah berlokasi strategis itu, sejatinya adalah milik almarhum Munawar bin Salbini, seorang tentara yang bertugas di bagian inteligen pada masa pemerintahan Orde Lama.

Agung Podomoro mendapatkan tanah tersebut dari Lieo Nam Kiong atau Leo. Leo adalah seorang mafia tanah yang mengaku diminta oleh Neneng Hadidjah, ahli waris istri pertama almarhum Munawar bin Salbini, untuk mengurus sertifikat tanah seluas 12,5 hektar yang kala itu berada di kejaksaan.

Dengan berbagai cara, Leo, akhirnya berhasil mendapatkan dokumen-dokumen terkait tanah itu. Namun, bukannya dikembalikan kepada yang berhak, Leo justru mengambil keuntungan dari itu. Akibatnya, ahli waris Munawar sebagai pemilik yang sah, terpaksa berjuang untuk mendapatkan kembali dokumen tanah yang seharusnya berada di tangan mereka.

Agustina Munawar atau biasa dipanggil Titin adalah anak dari istri kedua Munawar. Ia dan saudara-saudaranya mengajukan gugatan melawan Agung Podomoro sejak tahun 2001. Padahal, Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat telah memutuskan bahwa tanah seluas 12,5 hektar tersebut adalah milik ahli waris.

Putusan PN Jakarta Barat itu kemudian diperkuat oleh putusan Peninjauan Kembali (PK) dari Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan bahwa sertifikat yang dimiliki oleh Agung Podomoro Land tidaklah sah. Artinya, sertifikat yang asli masih tetap berada di tangan ahli waris.

Sayang, nasib baik belum berpihak kepada Titin. Putusan PN Jakbar dan PK MA bahkan tak pernah dilaksanakan oleh Badan pertanahan Nasional (BPN). Malah sebaliknya, BPN menerbitkan sertifikat-sertifikat baru yang dimiliki oleh beberapa pihak, meskipun tanah tersebut tidak pernah diperjualbelikan kepada orang lain.

Melihat situasi ini, tentu saja Titin tidak tinggal diam. Ia tidak tergiur uang miliaran rupiah yang ditawarkan Leo agar tidak melanjutkan kasusnya. Ia malah terus berjuang dengan melaporkan Agung Podomoro ke polisi. Tapi hanya kegagalan demi kegagalan yang dialaminya.

Pengalaman buruk tersebut akhirnya menimbulkan rasa sakit hati dan benci yang mendalam bagi Titin, terhadap bobroknya penyelenggara negara di Indonesia. Perjuangannya untuk merebut kembali haknya tidak pernah dianggap oleh negara dan bahkan malah sebaliknya menggiringnya dan saudara-saudaranya ke balik jeruji besi.

“Sakit, sakit sekali. Keluarga ini telah berdarah-darah memerjuangkannya, tetapi tetap saja kalah,” kata Titin, saat ditemui law-justice.co di kediamannya.

Tak hanya menempuh jalur hukum, selama 18 tahun Titin dan saudara-saudaranya juga telah melanglang ke berbagai instansi. Mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan sejumlah lembaga lainnya telah dilakukan Titin demi mendapatkan kembali haknya. Tetapi selama itu pula dia tidak dianggap dan haknya pun tak pernah kembali hingga saat ini.

Pengorbanan waktu dan tenaga serta materi telah menguras hidupnya.  Persekongkolan yang kuat antara polisi, jaksa, pengadilan dengan Leo, ibarat semut melawan segerombolan gajah.  Perjuangan Titin selalu berujung kekecewaan. Laporannya kepada aparat penegak hukum boleh dibilang hampir tidak pernah ditindak lanjuti. Sebaliknya, menurut Titin, jika Leo sang mafia tanah yang mengajukan laporan, langsung direspon polisi.

Ditambah lagi sejak Leo menghibahkan sebagian tanah milik Titin yang dikuasainya kepada Kepolisian Daerah Metro Jaya untuk dijadikan kantor Polsek Tanjung Duren, Jakarta Barat. Harapan Titin mendapat pertolongan dari polisi makin jauh panggang dari api.

“Yang namanya polisi, jaksa, apalagi peradilan, saya tidak pernah percaya!” katanya kecewa.

Leo Mengadu Domba Ahli Waris

Perjuangan Titin merebut kembali tanah warisan orangtuanya kini memasuki babak baru. Seluruh anak dari ketiga istri Munawar telah kompak satu suara untuk melawan Agung Podomoro. Sebelumnya, keluarga ini saling bermusuhan akibat diadu domba oleh Leo.

Ada dua kubu yang berseberangan. Satu pihak adalah mereka yang tidak mau terima uang dari Leo, dan pihak satunya lagi adalah mereka yang termakan bujuk rayu Leo untuk menerima “bantuan” yang ia berikan dalam bentuk “pinjaman uang”.

Akibat perbedaan prinsip tersebut, satu keluarga ini bahkan pernah saling berhadapan di saat menjalani persidangan di pengadilan.

“Kita diadu domba oleh Leo. Dia mengancam ahli waris dari istri pertama, karena telah mendapatkan uang dari dia. Dan lebih menyakitkan, yang menjadi saksi mendukung Leo di pengadilan adalah mereka,” cerita Titin. Keputusan sidang tersebut, alih-alih mendapatkan haknya, Titin justru dibui selama 10 bulan di penjara Pondok Bambu.

Sukurlah, Titin mengungkapkan, bahwa sejak Januari 2019, saudara-saudaranya sudah bersatu untuk memperjuangkan kembali tanah warisan orangtua mereka.

“Ini sebenarnya karena saudara-saudara kita ini yang nggak ngerti, akhirnya takut dan mengikuti apa yang Leo lakukan. Kalau saya kan tidak. Saya lawan terus dia, akhirnya dia tendang terus saya karena keras  kepala,” ujar Titin.

Bobroknya Penyelenggara Negara

Pertama kali mengajukan kasusnya, Titin menaruh harapan tinggi kepada penyelenggara negara. Pasalnya, ia yakin negara akan berpihak padanya mengingat sang ayah boleh dibilang bukan orang sembarang pada zamannya. Haji Munawar adalah salah satu orang kepercayaan Presiden Soekarno, seorang tentara dari divisi intelijen yang kerap dimintai pendapatnya oleh Soekarno.

Namun Titin tidak menyadari bahwa zaman telah berubah. Ia harus menghadapi kenyataan pahit, keadilan tidak selalu berpihak pada yang benar. Apalagi saat ini Titin hidup dalam kondisi yang sangat sederhana, ia tidak punya kekuatan dari segi finansial mau pun orang yang punya pengaruh kuat untuk mendukungnya.

Titin mengungkapkan, Leo selalu berkomunikasi dengan kejaksaan agar bisa membungkamnya dengan cara menjebloskan dirinya dan saudara-saudaranya ke dalam penjara.

Berkali-kali menghadapi sidang dalam kasus melawan Agung Podomoro, banyak kejanggalan yang dirasakannya. Salah satunya soal hakim yang memimpin sidang.  “Hakimnya selalu MD Pasaribu, dia yang selalu memenangkan lawan saya,” cetus Titin. MD Pasaribu yang disebut Titin itu, kini menjabat  hakim agung di Mahkamah Agung.

Selain MD Pasaribu, Titin juga menyebut nama jaksa Agus Winoto, yang saat ini tersangkut kasus suap terkait seorang pengusaha bernama Sendy. “Agus Winoto itu kontak-kontakan dengan Leo di depan mata saya, sebelum dia memasukkan saya ke penjara, tanpa ada proses pengadilan,” ungkap Titin gemas. “Kalau ada yang bisa mengantar saya menjenguk Agus Winoto di tahanan, saya ingin membawakan mie ayam. Orang-orang yang jahat pada kami, lihat saja nanti nasibnya akan seperti apa. Ada saatnya.”

Tak hanya penegak hukum dan lembaga peradilan, BPN yang mengurusi pertanahan juga tutup mata. Lembaga tersebut tak mau membatalkan sertifikat yang dimiliki oleh Agung Podomoro, padahal mereka tahu sertifikat aslinya masih berada pada tangan ahli waris.

Kondisi Ahli Waris yang Memprihatinkan

Perjuangan melawan pengembang raksasa tidaklah mudah. Mereka telah menguasai setiap lini. Kata Titin, semua laporan yang menyudutkan Agung Podomoro di kepolisian tidak pernah diproses atau bahkan dihentikan.

Padahal, Titin berharap jika ia dan saudara-saudaranya berhasil mendapatkan kembali haknya atas tanah di Tanjung Duren tersebut,  akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena saat ini mereka hidup sangat memprihatinkan. Di sebuah rumah peninggalan Munawar yang masih tersisa, terpaksa ditinggali oleh tiga kepala keluarga beserta istri dan anak-anaknya.

Bukan hanya tekanan ekonomi yang menghimpit, tetapi juga kondisi kesehatan beberapa saudara dari Titin. Ada yang menderita stroke, dan ada yang mengidap down syndrome. Karena tidak ada dana, pengobatan dilakukan hanya sesekali.

“Kita menjual tanah untuk memenuhi kebutuhan. Dan saat ini ada beberapa anggota keluarga kami yang stroke. Kami capek, sakit, sakit sekali,” keluh Titin.

Terus Berjuang Karena Harapan Masih Ada

Titin masih yakin, peluang keluarganya untuk mendapatkan kembali tanah warisan orang tuanya masih terbuka. Ia memang tidak lagi berharap kepada pemerintah dan aparat, tapi tetap percaya suatu saat perjuangannya akan membuahkan hasil.

Faktor pertama yang menyakinkan Titin adalah kembalinya saudara-saudaranya untuk berjuang bersama. Berikutnya, ia melihat titik terang setelah meminta bantuan pada Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU). Dalam waktu dekat rencananya PBNU dan BPN akan melakukan gelar perkara.

Kemudian kehadiran media juga menjadi faktor yang memberikan keyakinan kepadanya. Meski dia juga mengaku tidak semua media berjuang secara murni untuk kasusnya. Sebab, sebelumnya dia pernah dibantu oleh beberapa stasiun TV, tapi kemudian pemberitaanya lenyap.

“Saya pernah diwawancara Metro Realitas, tapi setelah itu nggak terlalu berpengaruh. Mungkin setelah itu ada yang pasang iklan, jadi berhenti pemberitaannya,” kata Titin.

Kekerasan hati Titin dan niatnya yang pantang menyerah patut diacungi jempol. Seperti yang ia katakan, “sudah berdarah-darah” namun Titin tetap maju menerobos segala rintangan. Semoga perjuangannya tidak sia-sia, ia dan keluarga tetap sehat dan diberi kekuatan hingga berhasil merebut kembali apa yang sudah menjadi haknya.

 

 

(Nikolaus Tolen\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Komentar