Wilson Obrigados, Aktivis Perlawanan

Figur Hasta Mitra, Pramoedya dan Politik Kaum Muda

Kamis, 29/08/2019 05:25 WIB
Pramoedya Ananta Toer (blogkulo.com)

Pramoedya Ananta Toer (blogkulo.com)

law-justice.co - Minggu lalu saya menonton film Bumi Manusia yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer. Ulasan tentang film tersebut sudah banyak, saya tidak akan membahas filmnya. Namun saya akan meninjau apa arti dan dampak dari karya Tetralogi Pulau Buru bagi gerakan demokrasi melawan kediktatoran Soeharto yang dipelopori kaum muda. Semoga bisa makin memperkaya pemahaman akan karya-karya Pramoedya yang diterbitkan Hasta Mitra.

_______

Mungkin ini kebetulan sejarah yang tidak pernah diduga. Kelahiran Hasta Mitra di tahun 1980-an hampir berbarengan dengan kelahiran radikalisme kaum muda yang dipelopori oleh gerakan mahasiswa. Pada awalnya, tidak ada hubungan apapun diantara keduanya. Hasta Mitra berjuang dengan barang cetakan bermutu melalui karya Pramoedya Ananta Toer, sementara gerakan mahasiswa berjuang dalam demonstrasi jalanan memprotes kesewenangan Orde Baru (Orba).

Perlakuan represif Orba atas Hasta Mitra dan gerakan mahasiswa akhirnya membuat keduanya saling beririsan, bersinergi dan membangun dialektikanya sendiri. Keduanya lalu tumbuh dan berkembang sebagai ikon perlawanan yang penting pada paruh 1980-an. Dalam perjalannya kemudian para pendiri Hasta Mitra menaruh keyakinan bahwa angkatan muda yang akan memimpin perubahan mendasar kearah Indonesia yang lebih baik.

Pada awal tahun 1980 an rombongan tapol Pulau Buru mulai ‘setengah’ dibebaskan oleh penguasa Orba. Lepas dari penjara dan pulau Buru para mantan tapol ini tetap hidup dalam penjara besar Orba. Perlakuan diskriminatif dengan inisial ET pada KTP, wajib lapor dan berbagai larangan dalam kegiatan sosial,ekonomi dan politik tetap diberlakukan.

Di tengah puncak represifitas tersebut, tiga orang mantan Tapol, Joesoef Isak, Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim Rachman dengan keberanian ‘sejengkal di bawah langit’ memecah kebisuan dan ‘aroma ketakutan massif’ dengan menerbitkan serangkaian karya sastra agung tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Tiga orang mantan tapol yang telah dicabut hak warganegaranya oleh Orba dengan berani memasang patok perlawanan tepat di depan hidung Orba bukan dengan ribuan massa, juga tidak dengan senjata, tapi dengan ribuan barang cetakan berbentuk roman sejarah, yang mengajarkan bangsanya untuk kembali ke akar pembentukan bangsa Indonesia; kecintaan akan kemerdekaan, kebebasan, kemanusiaan dan demokrasi. Semua esensi masyarakat beradab yang tidak ditemukan dalam masa kini Orba.

Pada saat yang sama di luar dunia Hasta Mitra, pematangan kapitalisme Orba, telah diisi oleh generasi muda yang lahir dan tumbuh di dalamnya. Generasi ini tidak punya keterkaitan ideologi, politik maupun budaya dengan generasi pra 1965 yang mengalami tragedi kemanusiaan diperalihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto. Berbagai lingkaran kecil generasi muda ini tiba-tiba saja dengan nyali ‘sejengkal dibawah langit’ muncul dalam berbagai demonstrasi menentang kesewenangan negara Orba yang memaksakan jalan kapitalisme dengan kekerasan atas nama pembangunan. Bahkan beberapa kelompok, tidak hanya menentang penindasan Orba, lebih jauh lagi ada yang terkristalisasi untuk mengusung sosialisme sebagai alternatif.

“Kami tidak ada hubungan samasekali, bahkan tidak kenal dengan mereka. Pemuda, mahasiswa dan intelektuil baru yang muncul pada tahun 1980-an. Generasi ini muncul di luar kita, lebih militan dan bahkan lebih maju, “ ujar joesoef Isak. “ Saya menamai mereka the new emerging forces, memakai istilah Bung Karno“ ujar Joesoef Isak. Julukan ini menurut Joesoef sangat tepat dikenakan pada para pemuda dan mahasiswa yang bangkit melawan kekuasaan Orba yang saat itu sangat represif. “ Yang berdiri didepan menghadapi orba itu angkatan muda, “ujar Joesoef.

Mungkin secara fisik dan secara usia sepertinya tidak ada hubungan antara kemunculan Hasta Mitra dengan kebangkitan angkatan muda radikal yang dipelopori mahasiswa di tahun 1980-an. Namun sebetulnya ada kondisi obyektif yang sama yang menjadi arena dimana Hasta Mitra dan kemunculkan radikalisme angkatan muda, yaitu otoriterianisme Orba dan kebrutalan jalan kapitalisme Orba. Di luar itu ada kesamaan spirit dan prinsip-prinsip dasar yang diperjuangkan; menegakan kedaulatan rakyat melawan rejim despotik Orde Baru yang sedang menjalankan cetak biru kapitalisme dengan pemaksaan dan kekerasan atas rakyatnya sendiri.

Saling hubungan antara angkatan muda progresif tersebut dengan Hasta Mitra terjalin awalnya melalui pembacaan karya-karya Pramoedya yang terdistribusi secara luas. Dengan diam-diam, mahasiswa menjadikan karya Pramoedya seperti bacaan ‘wajib’. Karya-karya Pramoedya beredar tidak hanya dalam bentuk buku, tapi juga dalam bentuk fotocopy-an yang beredar dari tangan ketangan. Ketika karya-karya Pramoedya dilarang oleh pemerintah, karya-karya Pramoedya semakin di cari.

Titik singgung dan saling irisan diantara Hasta Mitra dan gerakan mahasiswa dan pemuda progresif justru terjadi melalui kasus penangkapan aktivis mahasiswa yaitu, Coki, Isti dan Bono di Yogyakarta pada tahun 1988. Ketiganya ditangkap karena membaca dan mendistribusikan karya-karya Pramoedya.

“Ada rasa bersalah dikami, kenapa anak-anak muda itu ditangkap karena buku-buku Pramoedya keluaran Hasta Mitra” , ujar Joesoef Isak. Sebagai bentuk pertangungjawaban, Hasta mitra mengirim Hasjim Rachman sebagai saksi. “Kami harus berbuat sesuatu untuk anak-anak muda itu,” ujar Joesoef.

Persidangan ketiga aktivis muda progresif ini menjadi alat konsolidasi mahasiswa dari berbagai kota. Sidang-sidang menjadi panggung politik untuk menyampaikan pesan-pesan politik kepada penguasa dan seruan-seruan perlawanan kepada mahasiswa dan rakyat. Peristiwa ini saling mempengaruhi satu sama lain.

Para aktivis mahasiswa melihat sendiri bagaimana ‘tiga orang mantan tapol orba’ tidak surut membela mereka ketika dianiyaya. Persidangan itu tanpa disadari oleh penguasa justru telah membabtis Hasta Mitra dan sosok Pramoedya sebagai ‘ikon’ dan ‘mitra’ perlawanan angkatan muda adi akhir 1980-an.

Perlawanan kultural Hasta Mitra melalui barang cetakan, mendapatkan ranah subur dari lingkaran kecil kaum muda (pelajar atau mahasiswa) yang mulai kecewa dan merasakan ketidak adilan secara langsung ditengah dimasyarakat.

Penangkapan mahasiswa karena membaca terbitan Hasta Mitra, persidangan dan kemudian pemenjaraan justru secara tidak langsung ‘membangun ikatan bathin’ antara Hasta mitra dan the new emerging forces. Suatu ‘ikatan bathin’ yang dibentuk dan dikondisikan karena perlakuan represif atas aktivis mahasiswa dan Hasta Mitra.

“Generasi muda mulai ada yang mendekati kita,” ujar Joesoef Isak.

Generasi the new emerging forces yang mulai menjalin ikatan bathin dengan Hasta Mitra ini adalah generasi muda termaju, militan dan paling kritis diangkatannya. Generasi muda ini mulai kecewa terhadap proses pematangan kapitalisme di Indonesia yang melahirkan konflik-konflik struktural pada akhir tahun 1980-an.

Lingkaran kecil kelas menengah ini mulai bereaksi atas kesenjangan sosial dan iklim politik yang mentabukan banyak hal dalam bentuk demonstrasi dan unjuk rasa dimana-mana.Generasi muda yang kecewa tersebut bermunculan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan kota-kota urban lainnya.

Menjelang akhir tahun l980-an konflik-konflik struktural akibat penetrasi kapitalisme mulai nampak meluas dalam serangkaian aksi petani yang menolak penggusuran, pemogokan ekonomis kaum buruh dan penolakan pada berbagai kebijakan negara.

Lingkaran kecil mahasiswa diberbagai kota mulai merespon berbagai konflik struktural antara rakyat melawan negara yang berhubungan langsung dengan kepentingan pemilik modal. Respon ini menciptakan pengalaman baru dalam hal organisasi, aksi, propaganda dan berbagai represi dari negara.

Terjadilah proses kristalisasi dan polarisasi dari kaum muda urban yang berbasis dikampus-kampus tersebut. Slogan-slogan kerakyatan dan keberpihakan pada perlawanan rakyat telah makin mendekatkan mahasiswa kepada ideologi kiri.

Pada akhirnya, lingkaran-lingkaran kecil di berbagai kota mencoba mencari jawaban teroritis dari problem kapitalisme di Indonesia. Dan jawaban teoritis itu mereka dapatkan dalam teori-teori kiri yang beragam dan sulit didapatkan. Karya-karya kiri baru, teori ketergantungan, pendidikan pembebasan, teologi pembebasan, karya Mao Tse tung, karya Lenin dll mulai dibaca untuk mencari basis ilmiah dan materialis tentang proses penghisapan yang terjadi sekaligus mencari jalan keluarnya dengan melibatkan partisipasi rakyat.

Basis sosial kemunculan radikalisme kaum muda urban di kampus-kampus pada tahap awal memang memberi penilaian seolah radikalisme yang muncul sejak pertengahan tahun 1980-an tidak lebih sebagai suatu gerakan anti kemapanan, gerakan moral atau gerakan penekan belaka.

Sebagian memang benar, karena memang banyak radikalisme yang muncul pada tahun-tahun itu tidak semuanya kemudian bertransformasi menjadi gerakan sosial-politik yang lebih ideologis. Kalaupun ada slogan-slogan kerakyatan ia lebih nampak sebagai romantisme borjuis kecil sebagai ‘dewa penolong’ ketimbang suatu prespektif revolusioner yang ideologis.

Namun seluruh gerakan anti kemapanan, gerakan moral dan gerakan penekan ini menciptakan suatu atmosfir yang kondusif bagi suatu ideologi perlawanan dan ruang berpolitik yang lebih kualitatif. Apalagi ketika metode aksi-aksi massa telah berhasil memobilisasi ribuan orang dalam kasus penolakan SDSB, helmisasi atau Golput.

Peningkatan kuantitas ini menjadi suatu demarkasi yang penting untuk membabtis lahirnya gerakan progresif kerakyatan, yang menghubungkan demokrasi dengan persoalan-persoalan kerakyatan seperti kemiskinan, upah buruh, penggusuran dan soal tanah bagi petani.

Max Lane menganggap faktor perubahan demogarfik dengan kelahiran sebuah generasi yang tidak kenal dan tidak mengalami kontra-revolusi yang terjadi sesudahnya menjadi faktor sosiologis yang membuat kecenderungan kiri menjadi satu pilihan dari generasi muda akhir 1980-an. “Fenomena terpenting adalah melemahnya dampak ketabuan terhadap ideologi kiri dan kiri pra-65.”

Dasar sosiologis yang berdialektika dengan praktek perlawanan angkatan muda ini mengakibatkan. “Bangkitnya kembali perhatian orang kepada gerakan kiri Indonesia dan dunia internasional, termasuk didalamnya perhatian terhadap DN Aidit dan Tan Malaka, terutama dikalangan muda dan mahasiswa.”

Faktor demografi ‘angkatan yang tidak mengalami trauma kontra revolusi 1965’ merupakan ‘faktor sosial’ penting yang menyebabkan ‘generasi muda’ melakukan pencarian ideologi baru, yang tidak ditemukan dan diajarkan oleh realitas orde baru. Terjadi suatu proses pencarian dan eksperimen yang hingga kini belum menampakan suatu kristalisasi yang mapan seperti di Amerika Latin atau Eropa. Kaum kiri bukan saja menyesuaikan berbagai teori dengan kebutuhan praktis yang bersifat lokal atau sektoral, tapi memodifikasi menurut situasi khusus masyarakat Indonesia yang hetrogen dan perubahan-perubahan tata internasional.

Dalam pencarian atas ide-ide kiri dan alternatif diluar kapitalisme inilah Hasta Mitra tiba-tiba saja sering kedatangan tamu-tamu kaum the emerging forces, mahasiswa dan pemuda yang tanpa takut dan malu-malu bertanya dan berdialog dengan joesoef Isak tentang sosialisme, pemberontakan 1965 yang gagal dan sejarah PKI itu sendiri.

“ Kelompok-kelompok mahasiswa mulai berdatangan ke Hasta Mitra dan mengatakan ingin tahu tentang sosialisme, saya tidak pernah kenal dengan mereka sebelumnya” ujar joesoef isak.

Hal paling mengejutkan dari kunjungan tersebut adalah kemunculan mahasiswa IAIN di Hasta Mitra. “Saya agak kaget juga awalnya,” ujar Joesoef.

Pada saat itu di lingkungan mahasiswa IAIN memang sedang berkembang kelompok dan pemikiran radikal yang mempunyai kecenderungan kiri. Joesoef ingat suatu hari beberapa mahasiswa dari Jakarta datang kerumahnya setelah menempuh perjalanan jauh dari Salatiga menemui Dr. Arief Budiman, sosiolog kiri dari Universitas Satya Wacana. Para mahasiswa itu bercerita, mereka menemui Arief Budiman untuk berdiskusi dan belajar tentang sosialisme.

Tiba-tiba saja Arief Budiman berujar. “Ngapain kalian jauh-jauh datang kesini, mampir saja ke Durentiga Kalibata, penerbit Hasta Mitra.” Arief Budiman mungkin tidak pernah tahu, anjurannya tersebut ternyata benar-benar dilaksanakan.

“Saya merasa beruntung sekali bertemu dengan anak-anak muda tersebut.” Ujar Joesoef.


Kepeloporan “The New Emerging Forces”

Wiji Thukul dengan ikat kepala merah maju kedepan dan membacakan puisinya yang sangat terkenal “Peringatan.”. Itu adalah penampilan terakhir Wiji Thukul membacakan puisi di depan publik. Saat itu Joesoef dan Hasjim Rachman menghadiri deklarasi pendirian PRD, YLBHI, 22 Juli 1996. Ratusan anak muda memadati ruangan dengan teriakan-teriakan “hidup rakyat !”.

“ Terus terang, bulu kuduk saya merinding.” Ujar Joesoef Isak. Kepada Hasjim Rachman (alm) saya berbisik, “ Sjim sudah lahir angkatan muda yang akan melanjutkan perjuangan kita.”

Kemunculan radikalisme pemuda dan mahasiswa yang disebut Joesoef dengan the emerging forces,sejak pertengahan tahun 1980-an, tidak terlepas dari meningkatnya kuntitas dan kualitas dari perlawanan rakyat diberbagai sektor dari yang ekonomis hingga yang politis. Kaum The emerging forces ini kecewa dengan jalan kapitalisme Orba dan mencari alternatif lain di luar kapitalisme.

Sejak oktober 1965, baru pada akhir 1980-an inilah Orba menghadapi penentangan secara radikal dengan memajukan sistem baru diluar jalan kapitalisme dan diluar sistem ala Orba. “Wajar dan dialektis bila pemuda, mahasiswa dan intelektuil baru ini kemudian berpaling kepada ideologi kiri.” Ujar Joesoef.

Daniel Dhakidae melihat pilihan kepada marxisme dari kaum muda dijaman Orba lebih pada suatu ‘gerakan kebudayaan’ untuk menentang apa saja yang ‘dilarang dan didisiplinkan’ oleh negara.

Kelompok mahasiswa dan pemuda kemudian berpaling kepada “marxisme” karena ideologi kiri “dilarang oleh negara” sehingga, ketika radikalisme mahasiswa dan pemuda mencari ‘teori’ untuk ‘melawan penindasan negara’, maka marxisme adalah salah satu pilihannya. Suatu contoh menarik adalah pelarangan roman-roman karya pulau Buru Pramoedya ditahun 1980-an, terbukti tidak membuat buku Pramoedya hilang dari peredaran, justru buku-buku Pramoedya dijual secara meluas dari tangan ketangan atau dalam bentuk foto-copyan. Pokoknya, bacaan yang dilarang negara, justru semakin dicari dan semakin asyik untuk dibaca.

Menurut Dhakidae di kalangan kaum muda berkembang suatu jenis kecendekiaan yang sangat berbeda yang sebenarnya lebih merupakan hasil dari perkembangan yang terjadi pada pertengahan tahun 1980-an.

Normalisasi kampus menghidupkan kelompok-kelompok diskusi di kampus-kampus. Kelompok diskusi kampus menghidupkan juga suatu wacana perlawanana politik dengan mengambail idealisasi kaum cendekiawan Indonesia zaman pergerakan tahun 1920-an.

Radikalisasi angkatan muda itu mendapatkan wujudnya yang paling menonjol dalam suatu kelompok diskusi yang kelak membentuk Partai Rakyat Demokratik, PRD. Secara intelektual mereka mengambil marxisme sebagai landasan berpikir, yaitu berpikir untuk melawan. Dari segi praxis mereka mengambil semua jalan yang diperkenankan seperti demonstrasi, memelopori pemogokan buruh. “ (Daniel Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru, Gramedia, Jakarta, 2003, hlm. 724)

Sementara Goenawan Muhamad memandang kegandrungan anak muda pada marxisme sebagai suatu sikap ‘pembangkangan’ kepada jalan kapitalisme yang mejadi pilihan Orba.

Menurutnya pengaruh Marxisme, “sisa-sisanya dalam pemikiran kita, tak bisa diabaikan. Marxisme tidak sekedar membayang dalam tulisan-tulisan Bung Karno sebelum kemerdekaan, ia pernah dicoba--setidaknya sebagian unsurnya, mungkin juga sebersit semangatnya--dengan mempraktekkan "sosialisme Indonesia" dan "ekonomi terpimpin." Ia pernah menjadi inti dari pemikiran Partai Sosialis Indonesia dan Partai Komunis Indonesia, dan ia pernah menjadi bagian sentral dalam bahan-bahan yang diajarkan secara luas tentang "ideologi negara" di tahun 1960-an (yang disebut "Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi"). Di akhir tahun 1960-an paham ini dilarang--dan pada gilirannya paham yang dilarang itu memikat banyak anak muda dan cendekiawan Indonesia secara diam-diam, hingga sekarang, sebagai sejenis pernyataan pembangkangan, apalagi di sebuah masyarakat yang mulai mengalami secara nyata gerak kapitalisme, dan masih punya masalah distribusi pendapatan yang menajam”. (Jurnal Kalam, edisi 1 – 1994)

Max Lane hampir senada dengan Dhakidae sudah sejak awal melihat adanya ‘penguapan’ atas tabu-tabu ideologi Orde baru dari generasi yang lahir paska 1965. Semakin diangap tabu segala hal yang berbau ‘kiri’ semakin keras keinginan dari generasi muda untuk mengetahui apa yang ‘kiri’ itu, generasi ini ingin tahu ada apa didalam ‘kotak pandora’ tersebut.

“Sekarang makin banyak saja orang yang ingin tahu dan tidak takut membuka kotak pandora itu, maka orang mulai sesuka hati membukai segala kotak Pandora tersebut”. (Max Lane, 1991).

Ketertarikan dan pilihan generasi muda kepada literatur dan tokoh-tokoh kiri karena generasi ini tidak mengalami secara langsung tragedi ‘kontra revolusi’ pada tahun 1965. Menurutnya perubahan demografik “berarti bertambah banyak yang tak kenal dan tidak mengalami kontra-revolusi dan yang terjadi sesudahnya”. (Max Lane, 1991) Karena itu, “ pada sebagian orang telah tidak ada atau tidak pernah ada ketakutan kepada apa yang revolusioner”. (Max Lane, 1991).

Perkembangan politik sejak pertengahan 1980an an menurut Lane bahkan bergerak lebih cepat dimana radikalisme kaum muda dan mahasiswa secara ideologis mulai keluar dari perangkap sosialisme demokrat dan liberal demokrat, tapi mulai menunjukan fokus perjuangan pada pengorgansisiran perlawanan buruh dan tani dan mengembangkan strategi kerakyatan yang radikal. (Winning Democracy in Indonesia;LINKS, Juli-Sept, 1994)

Proses ideologisasi radikalisme pemuda dan mahasiswa sebagai ‘oposisi kerakyatan” juga ditunjukan dalam desertasi Edward Aspinall “Political opposition and the Transition from Authoritarian Rule: The Case of Indonesia”.(Australian National University, 2000).

Menurut Aspinnal sejak akhir tahun 1980-an telah tercipta kesadaran radikal dalam gerakan mahasiswa. Radikalisme itu dipengaruhi oleh berbagai bacaan kiri yang mereka baca dalam kelompok studi dan juga dipengaruhi oleh gerakan mahasiswa kiri di Filipina dan Korea Selatan.

Berbagai kelompok radikal mahasiswa lalu mulai bergerak kearah kiri, terutama para aktivis mahasiswa di kota Yogyakarta, Jakarta dan Bandung sebagaimana ditunjukan dengan pengorganisiran kelas pekerja, mendiskusikan formasi sosial masyarakat Indonesia dan menolak model ala Barat. ( Aspinall, hlm 191-192). Berbagai bacaan yang menjadi bacaan gerakan mahasiswa saat itu secara eksplisit menganggap kapitalisme sebagai musuh bersama. (Aspinall, hlm, 168).

Ikatan Bathin Hasta Mitra & Gerakan Mahasiswa

Dalam sejarahnya Hasta Mitra dan ‘the new emerging forces’ dari kaum muda memberikan sumbangan penting bagi perjuangan demokrasi di Indonesia. Dalam prosesnya, dapat disimpulkan ada tiga hal yang menjadikan penerbit Hasta Mitra dan para pendirinya mempunyai ikatan bathin dengan kaum muda;

Pertama; Naskah dari karya-karya Pramoedya, terutama dalam tetralogi Pulau Buru, menjadikan kaum muda sebagai protagonis dan ikon utama dalam perubahan jaman. Dalam tetralogi seorang pemuda bernama Minke menjadi pelaku utama sebagai sosok orang muda modern, yang menanggalkan feodalisme, menerima modernisme, tapi juga mencari eksitensi diri dan bangsanya ditengah kekuasaan dan masyarakat kolonial Hindia Belanda. Minke menemukan jati dirinya dalam kerangka identitas ‘bangsa Indonesia’ berhadapan dengan kenyataan kolonial yang represif.

Kedua; para pendiri Hasta Mitra mempunyai ikatan bathin karena mempunyai dua pengalaman langsung dengan kaum muda yang mendapat represi politik karena berhubungan dengan mereka. Kaum muda, ditengah represi Orba yang ketat, dengan keberanian yang tinggi berani membangun hubungan dengan mereka, baik malalui karya maupun secara person.

Peristiwa pertama yang mengaitkan dengan kaum muda adalah ketika Pramoedya diundang oleh mahasiswa FISIP Universitas Indonesia untuk memberikan orasi budaya bertama “Intelektuil Dunia Ketiga” pada awal tahun 1980-an. Akibat mengundang Pramoedya tersebut, empat orang mahasiswa FISIP UI yangmenjadi panitia dipecat oleh universitas, salah satunya Verdy anak tertua dari Joesoef Isak.Sementara Joesoef Isak sendiri secara sewenang-wenang ditahan selama 4 bulan oleh aparat militer.

Peristiwa kedua adalah penangkapan, penahanan, penyiksaan, persidangan dan pemenjaraan tiga aktivis kelompok studi Palagan di Yogyakarta karena mendistribusikan dan membaca karya-karya Pramoedya. Ketiganya dikenai UU anti Subversif dan dihukum antara 7 sd 9 tahun penjara.

Persidangan para aktivis ini telah mempertemukan dua ikon perlawanan atas Orba saat itu yaitu gerakan mahasiswa dan Hasta Mitra. Selanjutnya kedua ikon ini saling mendukung dan mendapatkan resiko politik atas sikap perlawanannya.

Ketiga; Para pendiri Hasta Mitra tidak hanya diluar pagar, tapi juga memberikan dukungan kepada kebangkitan perlawanan kaum muda pada tahun 1990-an.

Pramoedya kerap mengeluarkan pernyataan, bahwa ia hanya percaya kepada kaum muda untuk membawa perubahan dan mengalahkan Orba. Sika politik untuk menjadi bagian dari perlawanan kaum muda ini ditunjukan secara nyata ketika Pramoedya menyatakan dirinya bersedia menjadi anggota Partai Rakyat Demokratik. Dengan peristiwa ini secara simbolis hendak dinyatakan bahwa hanya pada politik kaum muda Hasta Mitra menyerahkan kepeloporan untuk perubahan bangsa ini.

The Emerging Forces yang Berserak

Kepeloporan gerakan radikal kerakyatan yang dipimpin oleh pemuda dan mahasiswa sebagai the new emerging forces sejak pertengahan tahun 1980-an telah memberi bekal ideologis, ketrampilan organisasi dan sentimen kerakyatan yang kental pada arena perjuangan demokrasi.

Gerakan the emerging forces terus mengalir bagai air dan semakin menggelombang ketika krisis ekonomi mulai menghantam Indonesia di akhir 1997-an. Akhirnya Soeharto harus turun dari jabatan presiden yang telah dijabatnya selama 7 periode berturut-turut, sebuah rekor kediktatoran terlama kedua setelah Jendral Salazar di Portugal.

The new emerging forces, dengan keringat darah dan air mata mengawal proses transisi dari Orba kejaman reformasi, jaman baru tanpa Soeharto dipucuk kekuasaan. Namun proses transisi ini tampaknya dengan cepat dicuri dan di intervensi oleh kekuatan pasar bebas, politisi residu Orba dan kaum reformis gadungan dengan mengkooptasi ruang politik keeterbukaan dan menyetop laju radikalisme the new emerging forces dengan membelokannya kedalam ruang pertarungan elektoral, dalam pemilu 1999.

Akibatnya tujuan-tujuan radikal-kerakyatan yang dituntut gerakan the new emerging forces melalui pengerahan-pengerahan massa digantikan perannya oleh ‘politik perwakilan’ yang diisi oleh sisa Orba dan reformis gadungan.

Namun kegagalan kepemimpinan politik the new emerging forces, juga disebabkan oleh kondisi internal dari the new emerging forces itu sendiri.

Persoalan fragmentasi diantara berbagai komponen the new emerging forces mulai bermunculan. Soal-soal subjektif, sejarah, latar belakang, budaya, pengalaman politik dan kapasitas ideologi yang beragam kemudian berbaur menjadi satu menciptakan kotak-kotak kelompok dan organisasi didalam barisan the new emerging forces.

Soal fragmentasi ini terus melekat dalam gerakan the new emerging forces ini setalah 10 tahun reformasi. Akibatnya terjadi proses demoralisasi dan stagnasi. Beberapa tokoh dan unsur didalam the new emerging forces mulai tampak kelelahan dan mencoba mencari jalan pintas dan taktis dengan menempel pada partai-partai utama.

Pilihan ini patut dihargai sebagai pilihan politik bila memang sebagai langkah taktis dalam upaya terus mencari ruang baru di aras politik arus atas. Namun persoalannya akan lain bila intervensi tersebut didasari pada pragmatisme dan kelelahan bermain dalam arena ‘politik radikal kerakyatan.’ Sebab beberapa seloroh acap saya dengar, “masa kita yang berdarah dan berkeringat tidak ikut kebagian keuntungan dari reformasi.”

Dari sisi internal, perpindahan dan kelelalahan politik ini juga dapat dikatakan sebagai dampak paling berbahaya dari fragmentasi dan kegagalan upaya mengatasinya. Semakin lama fragmentasi di dalam the new emerging forces tidak ditemukan jalan keluarnya, maka jangan kaget bila barisan the new emerging forces akan semakin sedikit dan compang-camping.

Jangankan untuk melawan kapitalisme dan partai-partai utama, bahkan menjaga barisanya tetap solid dan tegak semakin berat dilakukan.

“Angkatan muda yang kelelahan dan tidak punya alat politik alternatif ini mengkuatirkan saya,” ujar Joesoef Isak.

Fragmentasi bukanlah sebuah takdir yang tidak bisa diselesaikan. Fragmentasi adalah produk historis yang bisa dicari jalan keluarnya bila the new emerging forces memang berkomitmen untuk mengatasinya. Upaya-upaya penyatuan berbasis program dan strategi harus terus menerus menjadi nafas pembangunan gerakan.

Meskipun terasa berat, the new emerging forces pastilah akan menemukan muara bersama untuk mengatasi fragmentasi ini.

Keberhasilan melalui masa-masa sulit di jaman Orba dan menghadapi musuh bersama kediktatoran modal neoliberalisme dimasa kini, adalah basis material yang menjadi landasan sejarah bagi the new emerging forces untuk dapat memberi kepemimpinan politik.

Namun syarat-syarat material itu tidak akan berarti apa-apa bila the new emerging forces terjebak pada lingkaran setan fragmentasi yang mereka buat sendiri.

Sekaranglah saatnya bagi the new emerging forces untuk meneriakan slogan “bersatu sekarang juga” atau akan menjadi embel-embel sejarah belaka.

(Tim Liputan News\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar