Warga Keturunan Tionghoa Laksanakan Ritual Cheng Beng

Minggu, 31/03/2019 10:35 WIB
Warga keturunan Tionghoa laksanakan ritual cheng beng (foto:Baihaqi Zhai)

Warga keturunan Tionghoa laksanakan ritual cheng beng (foto:Baihaqi Zhai)

Tangerang, law-justice.co - Ratusan warga keturunan Tionghoa melaksanakan ritual cheng beng atau sembayang kubur. Mereka silih berganti menjalani ritual ziarah kubur dengan mendatangi Pemakaman Tanah Cepe, Tangerang, Banten, untuk mendoakan serta memberi sesajen bagi arwah keluarga dan leluhur. Acara ini digelar setiap tahun.

Menurut pantauan Antara, sudah sejak pagi dini hari tadi ratusan warga keturunan Tionghoa tak henti-hentinya datang dan pergi ke pemakaman Tanah Cepe untuk melaksanakan ritual cheng beng. Kemacetan di sekitar dan dalam pemakaman pun tak terhindari mengingat sempitnya akses jalan menuju pemakaman. Kepadatan diperbarah dengan sempitnya lahan parkir meski juru parkir dadakan sudah mengatur lalu lalang kendaraan bermotor.

Cheng beng bagi warga keturunan Tionghoa merupakan tradisi turun-temurun yang hingga kini masih dijalankan. Biasanya mereka akan menyiapkan sejumlah makanan dan minuman, serta perlengkapan untuk diberikan kepada keluarga atau leluhur yang telah meninggal dunia. Sejumlah persiapan pun telah dilakukuan sebelumnya, mulai dari bersih-bersih makam hingga persiapan menyambut keluarga yang datang dari luar kota.

"Cheng beng umumnya dimulai setiap tahun pada 27 Maret sampai puncaknya 5 April. Kita ziarah kubur datang ke pemakaman pada kurun waktu tersebut dengan membawa makanan, minuman serta perlengkapan lain yang biasanya disesuaikan dengan kesenangan yang meninggal," kata Vivy, salah seorang warga keturunan Tionghoa yang ziarah ke makam ayahnya.

Sesuai tradisi, para keluarga akan berkumpul di kuburan untuk berdoa bersama serta menyiapkan beragam sesaji, membakar uang-uangan kertas, baju dari kertas, serta membakar hio.

Ramainya peziarah yang datang silih berganti ke Tanah Cepe saat musim cheng beng menjadi hikmah tersendiri bagi warga di sekitar pemakaman. Mereka pun memanfaatkan momentum ini untuk mengais rejeki, seperti dengan menjadi tukang parkir dadakan, menjual makanan dan minuman, hingga ikut membantu membakar uang-uangan dan pakaian dari kertas yang dibawa para peziarah.

Oneng, salah seorang penjaga kuburan Tanah Cepe, mengatakan sekalipun di luar musim cheng beng ada yang rutin ziarah ke kuburan, namun pada musim cheng beng adalah saat yang banyak memperoleh rejeki dari para peziarah.

"Kita kan sudah memiliki langganan untuk merawat rumput kuburan di sini. Jadi kalau keluarganya ada yang datang ziarah, kita selalu mendapat uang tambahan bahkan kue atau roti serta macam-macam minuman," katanya.

Dia tidak mematok tarif kepada para peziarah. "Seikhlasnya saja mereka mau kasih berapa, tapi saat cheng beng dalam sehari bisa dapat Rp300 ribuan," tambahnya.

Bagi warga keturunan Tionghoa, cheng beng yang artinya cerah dan cemerlang merupakan tradisi ziarah tahunan. Ritual ini bukan hanya ada di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Pada dasarnya, cheng beng dilakukan untuk menghormati leluhur yang telah meninggal. Penghormatan pada leluhur ini dilakukan dengan cara menabur bunga, membakar uang-uangan kertas, membakar dupa, membersihkan kuburan atau perabuan, memasak makanan kesukaan para leluhur yang sudah wafat dan meletakkannya di kuburan atau perabuan.

(Rin Hindryati\Rin Hindryati)
Share:



Berita Terkait

Komentar