Sebulan Menjelang Pilpres di RSJ Grogol (Tulisan-4)

RSJ Grogol, Oase Lama Mereka yang Diremukkan Kehidupan

Senin, 25/03/2019 15:59 WIB
RSJ Dr. Soeharto Heerdjan, Grogol (foto: Winna Wijaya/law-justice.co)

RSJ Dr. Soeharto Heerdjan, Grogol (foto: Winna Wijaya/law-justice.co)

law-justice.co - Rumah Sakit Jiwa Grogol sebutannya yang popular sejak lama. “Tempat dia yang pas sebenarnya bukan di sini lagi tapi di Grogol. Bukan di terminal melainkan rumah sakit jiwa!” Begitu ucapan berbau canda yang dulu acap kita dengar dari orang Jakarta manakala di sekitar mereka ada yang perangai dan sepak terjangnya mulai ‘aneh-aneh’

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dr. Soeharto Heerdjan, namanya yang sebenarnya. Letaknya tak jauh dari Universitas Trisakti Grogol, Jakarta Barat. Apabila menggunakan busway, kita bisa turun di Halte Jelambar. Dari sana paling 5 menit kalau berjalan kaki.

Terbilang tua dia untuk ukuran rumah sakit di Jakarta. Pada 2019 ini umurnya telah mencapai 152 tahun. Berdasarkan keputusan Kerajaan Belanda (Koninklijk Besluit) tertanggal 30 Desember 1865,  bersama keputusan Gubernur Jenderal (Gouverneur General) pada 14 April 1867, ia hadir.

Sejak dulu banyak warga Ibukota yang datang berkonsultasi ke tempat ini. Biasanya mereka sedang mengalami tekanan hidup. Penyebabnya aneka tapi terutama pekerjaan, keluarga, dan ekonomi rumah tangga.

“Banyakan cowok yang datang. Mereka kan tulang punggung keluarga. Kalau perempuan, gangguannya tidak sehebat laki-laki,” kata Direktur Utama RSJ Soeharto Heerdjan, dr. Laurentius Panggabean, SpKj., kepada Law-justice.co di ruang kerjanya, Rabu (20/3).

Dari 300 kuota pasien yang tersedia perbandingannya 10-3. Jadi, perempuan kurang dari sepertiga.  Pasien rawat jalan yang datang memeriksakan diri ke sini per hari 120-an orang.

Pasien gangguan jiwa datang dari wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Mereka tak langsung ke sini melainkan dilayani dulu oleh Dinas Sosial masing-masing wilayah; kadang kala ada yang oleh Puskesmas. Seperti yang dari jalanan, yang dari Dinas sosial dan Puskesmas dijemput oleh petugas rumah sakit ini. Pasien yang diantar oleh keluarga sendiri juga banyak.

Pelayanan di sini 24 jam non-stop. Kondisi yang bisa ditangani termasuk agitational confussion yang meliputi kondisi gaduh, gelisah, dan kebingungan. Selain itu juga mereka yang memiliki kecenderungan untuk membunuh orang lain, bunuh diri, hingga penelantaran diri.

Saah seorang pasien di sini bernama Kusmanto. Berusia 37 tahun, ia putra kedua dari empat bersaudara. Ketiga saudaranya telah tiada.

Jaswati, 59 tahun, ibu Kusmanto, bercerita. Putranya tersebut  didiagnosa dokter sejak tahun 2009 akibat kerap ngelantur (ngomong tak karuanan). Sekitar 1 bulan ia dulu menjalani rawat inap di sini.

Sepulang dari rumah sakit, ia menjalani rawat jalan seumur hidup sesuai saran dokter. Jaswati pun membawanya ke sini setiap bulan.

“Saya sering terlambat beli obat, [jadinya] ya ngelantur, jalan terus... Bolak-balik gosokin kaki jempolnya,” tutur perempuan asal Kemayoran.

Gangguan mental kebanyakan menyerang mereka yang berusia produktif: 20-40 tahun. Namun ada pula yang di  umur 60 tahun tiba-tiba mengalami gangguan jiwa. Mereka yang berusia produktif lebih mudah disembuhkan ketimbang lansia. Sebabnya? Mereka gampang berkegiatan sehingga proses rehabilitasinya tak memakan banyak waktu.

Ada 3 faktor penyebab gangguan mental,  menurut dr. Laurentius. Pertama faktor genetik, berupa warisan keturunan yang memengaruhi kondisi mental seseorang. Kedua, faktor psikologis. Contohnya, kekerasan yang pernah dialami yang kemudian mengubah kejiwaan seseorang. Ketiga,  faktor lingkungan. Umpamanya, situasi pemilhan presiden  yang memanaskan kedua kubu. Hal ini berpotensi menyebabkan gangguan mental karena masing-masing saling melempar kebencian.

Tapi tidak ada satu faktor tunggal yang membuat sesorang mengalami gangguan jiwa. Warisan genetik misalnya  bisa juga nggak muncul karena ada faktor lingkungan dan psikologis.  Contohnya, anak kembar. Mereka identik.  Setelah dewasa mereka ternyata berbeda perilaku. Yang satu mengikuti pola bapaknya yang suka memukuli istrinya, sedangkan yang satu lagi lembut. Lingkunganlah  yang membentuk kepribadian mereka.

Rerata masa perawatan rumah sakit ini maksimal 21 hari, dengan target pencapaian minimal:  pasien itu pulih secara dasar, yakni tidak gaduh dan tidak gelisah lagi. Selain itu pasien juga ditarget sudah bisa minum obat, produktif, dan beraktivitas seperti biasa.

Bagaimanapun, orang yang menderita gangguan jiwa seperti itu pasti lama hidup dalam kondisi yang tidak biasa. Sebab itu mereka perlu direhabilitasi. “Bayangkalah orang yang sehari-hari dipasung atau menggelandang. Ketika di meja makan kan dia harus belajar lagi.”

Apabila target minimal belum tercapai dalam 21 hari maka pasien akan menjalani proses rehabilitas. Durasi waktunya tidak ditentukan, dan biayanya murah. Per orang hanya membayar Rp 100 ribu per hari. Mereka dapat pelatihan memasak, menjahit, membuat kerajinan, dan keterampilan lain. Di antara mereka bahkan ada yang menjual hasil masakannya ke  seluruh awak rumah sakit.

“Saya juga beli kue jualan mereka,” kata Laurentius sambil tertawa.

Rumah sakit ini memiliki kelas 1 (2 pasien), kelas 2 (4 pasien), kelas 3 (8 pasien), serta VIP (1 orang).

Selama ini kelas 3 yang paling banyak difungsikan karena mayoritas pasien menggunakan kartu BPJS. Kelas lainnya hanya difungsikan bagi mereka yang mampu merogoh kocek pribadi, seperti kelas VIP.

Setiap tahun rumah sakit ini dikucuri dana pemerintah sebesar 120 milyar rupiah. Angka itu sudah meliputi gaji dokter, pegawai, obat-obatan, biaya perawatan alat, dan sebagainya. Dokter serta pegawai yang memobilisasi rumah sakit  ini 511 orang.

 

(Winna Wijaya\P. Hasudungan Sirait)

Share:




Berita Terkait

Komentar