Nasib Nenek di Manggarai Timur, Hidup di Gubuk Reot dengan Anaknya Cacat Mental
Bripka Arsilinus Lentar, Bhabinkamtibmas Polsek Lamba Leda, Manggarai Timur mengunjungi gubuk reot milik Paulina Lawus di Desa Compang Deru, Manggarai Timur, NTT (Ist/Law-Justce.co)
law-justice.co - Kehidupan Paulina Lawus sangat memprihatinkan. Janda 70 tahun, warga Kampung Deru, Desa Compang Deru, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur, NTT ini hidup di gubuk reot berukuran 3x4 dengan anaknya, Rosalia Ani (45) yang menderita cacat mental.
Bripka Arsilinus Lentar, Bhabinkamtibmas Polsek Lamba Leda, Polres Manggarai mengatakan, keduanya hidup dalam kondisi tak layak. Padahal, Desa Compang Deru hanya berjarak dua kilometer saja dari kota Kecamatan.
"Miris sekali. Nenek Paulina hidup susah di gubuk reot kecil itu. Sudah janda, anaknya juga cacat mental," kata Bripka Arsilinus kepada Law-Justice.co, Kamis (14/2).
Menurut Bripka Arsi, Paulina merawat Rosalia seorang diri, sejak ditinggalkan mendiang suaminya beberapa tahun silam. "Ia buruh tani, kadang dibantu warga sekitar," katanya.
Paulina, kata dia, juga memiliki seorang anak laki-laki bernama Albertus, yang saat ini menjadi buruh bangunan di Kecamatan Kota Komba.
Pada Selasa (12/2), Bripka Arsi, mendatangi gubuk Paulina di Kampung Deru. Kunjungan itu bermaksud untuk melihat keadaan Paulina dari dekat.
Awalnya, pada Desember 2018 lalu, Bripka Arsi terenyuh dengan kondisi Paulina yang kala itu mengambil jatah beras sejahtera (beras rasta) di kantor Desa Compang Deru.
Usut punya usut, Paulina ternyata tidak termasuk warga yang terdaftar sebagai penerima bantuan beras rasta. Kondisi itu bahkan sudah berlangsung sejak lama.
"Nenek Paulina sebenarnya tidak memiliki Kartu Miskin. Hanya kebijakan pemerintah desa setempat membuat ia bulan Desember lalu mendapatkan jatah beras rasta," ujar Bripka Arsi.
Menurut Brika Arsi, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari perangkat Desa Deru, Paulina tidak mendapat Kartu Miskin karena kesalahan administrasi. Nasib Paulina juga terjadi dalam program dana bantuan langsung tunai (BLT) di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Dana BLT sekitar tahun 2004 juga tidak dapat, karena diduga kuat pada saat itu, cara pendataanya masih pakai sistim cari orang terdekat. Data tersebut juga tidak berubah sampai sekarang," jelas Arsi.
Dia mengatakan, kondisi itu belum berubah sampai sekarang. Nama Paulina seperti dilupakan oleh administrasi yang tak kunjung dirubah.
"Kalau ada permintaan dari desa untuk mendaftarkan namanya sebagai penerima Kartu Miskin, itu hanya bersifat usulan saja. Makanya kami harap bupati Manggarai Timur bisa usul ke pusat untuk revisi data tersebut," kata Arsi.
Selain tidak terdaftar sebagai penerima beras rasta, Paulina juga tidak terdaftar sebagai penerima bantuan bedah rumah dalam Program Keluarga Harapan (PKH).
"Semua bantuan kosong, sama sekali tidak ada yang diterima Nenek Paulina," ujar dia.
Dia mengatakan sudah berkonsultasi dengan perangkat Desa Compang Deru untuk membedah rumah Paulina. Lagi-lagi, kata Bripka, persoalannya terletak di administrasi, termasuk nihilnya nama Paulina di daftar penerima PKH.
"Setelah saya konfirmasi, katanya terbentur dengan administrasi," katanya.
Bripka Arsi mengatakan, persoalan utama yang kerap dialami warga, umumnya di wilayah Manggarai Raya adalah bantuan yang tak tepat sasaran. Terkadang penerima PKH justru warga dari kalangan ekonomi mampu.
Selain itu, kata dia, program bedah rumah ini seharusnya menyasar kepada warga yang sangat membutuhkan seperti Paulina.
"Contoh saja, desa memberi dana rangsangan Rp Rp8 juta untuk 1 kepala keluarga. Desa bilang hanya untuk pengadaan material saja, lalu bagaimana dengan warga seperti Nenek Paulina ini yang tidak memiliki uang sama sekali! Bagaimana mereka bisa membangun rumah yang layak huni?" ucap dia.
"Kalau misalnya ada dana Rp100 juta, tentu dengan dana itu bisa membangun rumah untuk warga yang kurang mampu seperti nenek Paulina ini. Kenapa tidak pakai prioritas saja misalnya, dana itu diberikan untuk tiga KK yang memang benar-benar membutuhkannya, biar total pembangunannya," sambungnya.
Dia pun berharap agar Pemkab Manggarai Timur segera turun tangan untuk membantu Paulina dan anaknya, Rosalia.
"Kami juga tengah menggalang dana untuk rumah Nenek Paulina ini, mudah-mudahan rencana itu mendapat respons masyarakat," pungkas Bripka Arsilinus.




Komentar