Dago, Kisah Permukiman Elit Eropa di Zaman Kolonial (Tulisan-2)

Minggu, 26/08/2018 16:01 WIB
Dago Tea House, Tempat Berkumpul Orang-Orang Belanda di Masa Kolonial (tropen)

Dago Tea House, Tempat Berkumpul Orang-Orang Belanda di Masa Kolonial (tropen)

law-justice.co - Terbukanya akses jalan, membuat kawasan Dago semakin ramai. Para pekebun Eropa menjadi kelompok pertama yang meliriknya untuk dijadikan tempat tinggal. Andrees de Wilde merupakan preangerplanter pertama yang mendirikan vila perisitirahatan dan gudang kopi luas (1820) di kawasan Dago (Jalan Dago, 2009).

Memasuki pertengahan dan  akhir abad ke-19, bisnis perkebunan swasta semakin mengeliat di bumi Priangan. Para preangerplanter yang bergelimang harta pun mulai membangun tempat tinggal dan vila di berbagai wilayah yang letaknya tak jauh dari lahan garapan mereka. Berkat usaha Andrees de Wilde Dago pun  menjadi salah satu destinasi favorit.

Seperti para preangerplanter, Pemerintah kolonial pun mulai melirik kawasan Dago sejak awal abad ke-20. Pada 1910, dilakukanlah pembukaan dan pengerasan jalan dari Dago hingga Hutan Pakar. Kebijakan ini terkait dengan rencana pembangunan reservoir (penampungan) air di Bukit Dago.

Wilayah Dago kian strategis, kala pemerintah hendak merealisasikan perluasan  daerah Gemeente Bandung  ke bagian utara. Rencana itu, termaktub dalam Uitbreidingsplan Bandoeng-Noord yang digagas pada 1917. Sejumlah planolog dan arsitek kawakan-di antaranya Thomas Karsten-pun dikumpulkan dalam Stadsvormingcommissie untuk merealisasikan rencana itu.

Hampir satu dasawarsa berlalu, pemerintah Stadgemeente Bandung kembali mendapuk Thomas Karsten dalam proyek perluasan kota yang baru. Bersama Thomas Nix, proyek bertajuk Karsten Plan digagas dan dirancang selama lima tahun (1930-1935). Sayang kala direalisasikan, hanya sebagian kecil saja yang terlaksana. Masalah keuangan menjadi kendala utama.

Uitbreidingsplan Bandoeng-Noord dan Karsten Plan memang tak terealisasi secara maksimal. Namun, Dago termasuk wilayah yang menikmati betul aktualisasi kedua rencana perluasan kota itu. Selama dua dasawarsa inilah kawasan Dago bersolek menjadi wilayah yang  indah dan nyaman. Tentu saja fungsi utama wilayah ini tetap sebagai kawasan permukiman elit Eropa.

Sejak awal, planologi kawasan ini memang diperhatikan betul. Kenyamanan pemukim menjadi prioritas. Prinsip ini terlihat betul dari rasio antara bangunan tempat tinggal dan ruang teterbuka. Sekitar 70 % dari wilayah ini adalah ruang terbuka, sementara hanya 30 % saja yang diperuntukkan sebagai zona pendirian bangunan tempat tinggal.

Konsep Open Western-Bouw diterapkan secara konsisten pada setiap bangunan tempat tinggal. Pengagasnya, Thomas Karsten membayangkan setiap bangunan akan berdiri di sebuah lahan luas yang dikelilingi halaman berumput hijau yang tertata apik. Dengan begitu, para penghuni yang mayoritas orang-orang Eropa tak akan  terpapar udara tropis dan dapat tinggal dengan nyaman.

Sisi artistik bangunan menjadi perhatian preangerplanter.  Mereka menginginkan corak hunian seturut tren arsitektur yang populer di Eropa- Art Deco, Straightline Deco, Nautical Deco, dan  Art Nouveau kala itu. Untuk itu disewalah jasa para arsitektur Nederlands Indie Arsitectuur Krink (NIAK), seperti Maclaine Pont, Schoemaker bersaudara, Gheijsels, dan  Albers.

Namun aturan ketat ihwal planologi di kawasan Dago membuat para arsitektur harus memutar otak. Mereka tak mungkin memindahkan begitu saja bangunan berarsitektur moderen, serupa dengan bangunan-bangunan yang berdiri di Eropa. Sebaliknya, para arsitektur itu harus melakukan berbagai penyesuaian dengan iklim dan lingkungan tropis.

Memodifikasi berbagai bagian bangunan menjadi jalan keluar yang paling logis dan  ideal. Untuk mengantisipasi curah hujan  tinggi, misalnya, atap bangunan didesain curam. Selain itu, tinggi bangunan tak boleh melebihi dua lantai. Pagar nyaris tak dikenal. Batas antar rumah hanyalah tembok rendah, yang memiliki ketinggian maksmial 30 sentimeter.

Eksperimen para arsitektur Eropa itu segera membuahkan hasil. Desain-desain bangunan rancangan mereka pun laku keras. Pesanan demi pesanan deras berdatangan dari kaum elit Eropa. Walhasil, seperti yang dicatat Siregar (1990)  rumah-rumah mewah dan vila-vila megah segera menjadi bangunan yang paling dominan di kawasan Dago.

Keselarasan alam dan para pemukim menjadi inti konsep planologi kawasan Dago. Hal ini terlihat dari penanaman pepohonan besar di kiri-kanan jalan Dago. Tak hanya itu, para pejalan kaki pun diberi jalur khusus. Letaknya di sebelah timur, dari persimpangan Pasar Simpang hingga Cikapayang. Sementara sisi barat merupakan lajur khusus bagi kereta kuda dan sepeda.

Sampai akhir masa kolonial, kawasan Dago dkenal sebagai permukiman termasyur di Hindia-Belanda. Hampir setiap orang Eropa berhasrat tinggal di wilayah ini. Namun, hanya kaum elit Barat yang mampu merealisasikannya. Walaupun terkesan eksklusif, harus diakui Dago merupakan magnet yang mampu menarik lebih banyak orang untuk datang, singgah, dan tinggal di Bandung. (tamat)

(Teguh Vicky Andrew\Editor)

Share:
Tags:




Berita Terkait

Komentar